“Jika seseorang mencondongkan badan ke arah lain tetapi matanya sesekali mencuri pandang ke arah anda, itu berarti ia memperhatikan anda. Tandanya ia menyukai anda” – Mario Teguh

Bagai tercekik di ruang terbuka, nampaknya aku melihat apa yang mungkin seharusnya tidak aku lihat. Kemudian aku mendengar apa yang mungkin seharusnya tidak aku dengar. Dan aku terjatuh kepada keadaan yang mungkin seharusnya tidak aku rasa. Jangan ajukan pertanyaan kepadaku, coba ajukan kepada pemilik pribadi dengan seribu tanya itu.

Kalaupun semesta memang ikut campur tangan dengan misteri yang kau munculkan, aku tidak peduli. Tidak. Ya. Pergilah. Aku hanya mencoba untuk berempati dengan itu. Aku bukan sedang membanggakan kedua hal menyakitkan yang sama-sama kita (kau dan pernah aku) alami. Tidak bisakah perlakuan baikmu itu ditujukan rata, seperti semua orang yang sama-sama berempati dengan apa yang tengah terjadi? Aku susah payah berdamai dari pertengkaran perasaan, kepada apa yang telah kau lakukan.

Mengganggu. Menyebalkan. Menyedihkan. Sudahlah, aku ingatkan lagi, aku mengalah, kau berdiri tegap di depanku sambil mengulurkan tanganmu. Satu ketika pikirku telah matang untuk menggenggam tawaranmu, kau dengan santai hilang di tengah keramaian. Benci, padamkan saja sekalian. Bodoh sekali. Aku. Ya. Bukan Kau. Bodoh, Kau.

Terbakar detik-detik menunggu, terlilit tanya akan keterpurukan ketika aku akhirnya, dalam kesekian kalinya, terjatuh lagi. Bisa-bisanya, kotak pikiran yang isinya hanya kau semata itu terbuka beribu-ribu kali. Padahal aku terus mencoba mengikat dan membuangnya, horor bukan? Tidak usah dipikirkan, aku tidak berbicara kepada kau, mendengar pun tidak, apalagi mau peduli.

Advertisement

Pergilah, dengan benar, berbalik saja kau tidak becus, lemah. Tidak ada rangkaian kata pelipur gundah yang aku siapkan kepada Tuhan, tentang kita. Aku tidak tahu caranya berkata-kata, bermanis manja, menutup luka, apa kau tahu? Ah, aku lupa. Kau tidak peduli pada hal apapun, atau kepada matahari yang suatu waktu akan terlambat datang, atau mungkin dari arah yang berlawanan. Tidak apa, itu hanya sapaan Tuhan akan habisnya masa waktu kau, yang pasti belum mengucap maaf kepadaku.

Aku kerepotan dengan langkah yang terbatasi ke arah kau

Aku berontak dengan sikap manis yang diperlihatkan kau

Aku tidak mau tahu dengan apa-apa lagi yang dikerjakan kau

Hey, aku tidak marah. Kau tahu? Kau itu terlalu jelas menyukaiku. Tapi bodoh. Aku tahu kau sama kesusahannya sepertiku. Menyembunyikan gimik. Menahan-nahan rasa ingin tahu. Menyapa lembut kepada angin bagimana tentang aku. Aku lelah, Kau tidak? Ini penting! Ia selalu berbicara kepada segalanya mengenai apa yang kau dan dirinya lakukan, bersama, berdua, bersuka ria.

Kau tahu wanita bisa begitu saja tidak menyukai orang lain bahkan dalam sekali tatap? Aku rasa aku mulai tidak sedikit, tidak atau mungkin terlalu banyak? Aku tak tahu pasti kapan itu di mulai, tapi aku tidak menyukainya. Kau bilang tidak, bukan? Lalu, mengapa bertolak belakang dengan semua suara yang aku terima? Siapa yang harus dipercaya? Ah, kau tidak peduli. Aku tahu, ya jelas aku terlalu banyak membeberkan semua pertanyaan-pertanyaan milikmu.

Satu lagi, dapatkah aku melarikan diri dari drama klasik ini?

Cream di atas es coklatku habis. Aku sudah terlalu banyak bercerita. Maaf ya. Kau berharap aku baik-baik saja. Aku juga titip tanya kau baik-baik saja dengan fisik yang tak pernah saling menyapa. Sekalipun kita berada dalam satu ruang sama tanpa suara. Tolong, jangan kau berkata. Cukup seperti ini saja, diorama.