Hidup kadang tak selalu berjalan sesuai dengan keinginan. Ada kalanya aku harus melalui berbagai macam rintangan. Manis atau pahit, itulah rasa yang memang harus ku kecap dan kemudian ku telan. Karena semua berjalan sesuai dengan apa yang Tuhan telah tentukan. Aku hanya harus memerankan apa yang memang seharusnya ku perankan. Tertawa ketika bahagia dan menangis tatkala duka yang ku rasakan.

Ketika aku mengingat-ingat kembali segala hal yang pernah ku lalui, saat itupun aku menyadari. Selama ini tak pernah ada orang yang benar-benar ikhlas berada di sisi. Tapi ada seseorang yang ku tahu pasti selalu menemani, yaitu Ibu, bagaikan malaikat yang Tuhan kirimkan untuk tinggal di bumi ini.

Menetes air mata ini seketika, saat aku mengingat wajahnya yang mungkin kini semakin menunjukkan tanda-tanda bahwa ia telah bertambah tua. Menyadari bahwa selama ini mungkin aku belum bisa membuatnya bahagia. Alih-alih bahagia, aku justru dulu menjadi orang yang selalu membuatnya sering terluka. Ya, aku dan ibu memang dulu sering saling melempar kata. Tak sadar bahwa itulah yang selalu membuat kita saling menggoreskan luka di dada.

Seringkali kita tak bertegur sapa selama beberapa hari. Ketika semua yang kau ingin aku lakukan tak sejalan dengan apa yang aku ingini, maka hanyalah amarah yang akan kau dapati. Atau kemudian aku melampiaskan segala rasa tidak puasku dengan memilih pergi. Tapi tak pernah sekalipun kau lelah menghadapi anakmu ini yang dadanya selalu dipenuhi dengan emosi. Bahkan seringkali kau lebih memilih untuk mengalah agar kita tak terus-terusan saling menyakiti. Tersadarlah aku, betapa banyak dosa yang ternyata telah melekat di diri ini.

Suatu ketika datang sebuah musibah. Aku dengan segala ketidak tahuanku akhirnya terjatuh dalam sebuah masalah. Aku yang selalu acuh tak acuh terhadap semua nasihatmu akhirnya merasakan penyesalan. Saat aku sadar bahwa semua yang kau selalu katakan semata-mata adalah untuk kebaikan. Entah karena beratnya masalah atau mungkin karena aku yang masih terlalu muda, tapi saat itu aku benar-benar merasakan luka. Maav Ibu, walau kau tak pernah menunjukkannya, tapi aku tahu saat itu aku telah membuatmu kecewa. Meski begitu kau tetap tak pernah memarahiku. Bahkan ketika seluruh dunia menjauhiku, ibu adalah satu-satunya yang tetap erat memelukku.

Advertisement

Di saat-saat seperti itu bukan amarah yang kau tunjukkan. Bukan pula tangis kecewa yang kau berikan. Tapi pelukan hangat dan kasih sayangmu yang selalu ku rasakan. Kau bilang itu semua hanyalah cobaan, atau mungkin sesuatu yang Tuhan berikan sebagai sebuah teguran. Maka kau mengingatkanku untuk lebih dekat dengan Tuhan, karena dari-Nya lah kita bisa mendapatkan kekuatan. Oh Ibu, betapa Tuhan benar-benar menciptakan malaikat disampingku, yang selalu memegang erat tanganku, dan menuntunku kembali ke jalan-Mu, hingga semua badai itu benar-benar berlalu.

Tiba saat aku harus berada jauh darimu. Mencoba menumbuhkan kemandirian dengan hidup terpisah jauh darimu. Kau mendukung semua keputusanku, walau ku tahu dari dalam lubuk hatimu, kau benar-benar berat untu melepasku. Maav Bu, bukan aku tak suka berada di sampingmu, tapi ini semua adalah upayaku untuk membayar semua rasa kecewa yang pernah ku berikan padamu. Aku mencoba menebus semua kesalahanku, membayar semua peluhmu yang telah kau cucurkan demi anak-anakmu. Walau ku tahu, sampai kapanpun aku tak akan mampu melunasi semua itu.

Menjalani hari-hari sendiri ternyata tak mudah untuk ku lalui. Terkadang aku harus bersusah payah mengusir sepi. Tak jarang aku menghabiskan malam dengan membayangkan ibu juga di sini. Tak ada ibu tempatku berkeluh kesah, dan tak ada pangkuanmu tempat ku menumpahkan air mata saat ada masalah. Bahkan ketika aku tau ibu sedang sakit dan aku tak ada di sana, itu membuatku benar-benar resah dan ingin marah. Haruskah aku menyesali keputusanku untuk hidup sendiri seperti ini, Bu ? Tapi bukankah ini juga merupakan mimpimu ? Setidaknya aku sedikit lega karena bisa membuatmu sedikit bangga.

Ibu, betapa kau adalah wanita yang benar-benar luar biasa. Kelak akan ku ceritakan pada cucu-cucumu bahwa malaikat sepertimu memang benar-benar ada. Malaikat yang senantiasa memberikan cinta hingga anak-anaknya bisa tumbuh menjadi wanita dewasa. Ajari aku Bu, bagaimana menjadi ibu dengan kecantikan hati yang tiada tara.

Walau kini aku tak berada di sampingmu, Ibu, tapi kau selalu ada di dalam hatiku. Kau selalu menemani hari-hariku bersama doa-doamu yang senantiasa kau panjatkan untukku di sepertiga malam-malammu. Sehat terus ya Bu, untuk selalu mendoakanku seperti itu. Sebab ridhomu adalah ridho Tuhanku, dan bahagiaku tak akan nyata tanpa ada restu darimu. Semoga kita bisa segera bertemu ya Bu, untuk melepaskan segala rasa rindu.