Sekiranya saat memasuki usia dewasa (awal 20-an), sekiranya kita sudah tidak banyak 'keruncingan' dengan orangtua. Adapun secara perkembangan hidup, keruncingan alias konflik yang seperti informasi di era ITE tak ada habisnya. Semasa anak-anak sampai remaja, kita sebagai individu sibuk bergulat dengan ide-ide di kepala kita, sementara orang tua akan sibuk mengarahkan kita sesuai dengan blueprint mereka soal keluarga ideal. Akhirnya masa itu usai ketika usia 20-an tahun. Mendadak semua kerusuhan dan bau-bau mesiu (ini kiasan lho, bukan arti sebenarnya) di ruang tengah keluarga berganti dengan bau aromatherapy lavender.

"And I thanked to myself, what a wonderful world.."What A Wonderful World by Louis Armstrong

Kita selalu ingin pulang ke rumah, kita akan mati-matian membagi waktu antara kuliah, organisasi, pergaulan dengan waktu bersama orang tua. Uniknya semua itu tidak dibantu oleh pasukan Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa. Semua itu didasari kesadaran bahwa kita sudah menemukan kesimpulan siapa diri kita, siapa kita didepan orang tua, berikut peran yang akan datang sebagai dewasa dan anak dalam sebuah keluarga. Perlahan, kita mengenal nilai-nilai keluarga, nilai dari bapak, ibu, kakak, dan sebaliknya. Nilai-nilai dalam diri kita-pun rupanya adalah hasil perpaduan nilai dalam keluarga.

"I'm coming home, I'm coming home, tell the world I'm coming home..! Let the rain, washed away, all the pain of yesterday.. And now my kingdom await, they've forgiven my mistake.." – Coming Home (Part II) by Skylar Grey

Kita adalah manusia yang tidak pernah berhenti belajar, berproses dan berkembang. Perkembangan terakhir kita kelak adalah kematian. Hal serupa juga terjadi pada orang tua kita. Kita saat ini di usia 20-an adalah individu-individu dengan fase perkembangan yang tidak pelan. Aspek fisik, kognitif, afektif kita sudah berfungsi (bahkan dengan optimal). Kita sedang beradaptasi dengan berbagai peran sebagai dewasa.

Advertisement

Sayang hal ini tidak disadari oleh orang tua kita. Mereka sedang mengalami fase perkembangan, ketika kewajiban mereka sudah selesai, mereka kembali ke rumah, kadang mereka seperti puber kedua, ngumpul lagi sama teman-teman, tapi kadang mereka merasa sepi saat kembali ke rumah. Karena menemukan anak-anaknya sedang beraktifitas, kadang pulang tepat waktu kadang baru pulang beberapa hari kemudian, tapi ada pula yang terpaksa pulang ke peraduan karena risiko pekerjaan.

Menghadapi hal ini, orang tua dengan kecerdasan kristal mereka mulai frustrasi. Kalikan dengan kurang piawainya mereka mengekspresikan diri karena asal era mereka belum era milenium. Tidak seperti kita yang sudah mendapat asupan informasi yang tepat. Mendadak, bau Lavender itu kembali berganti bau mesiu.

Terkadang, sebagai manusia yang berproses..kita membuat beberapa keputusan yang cukup radikal-dibahasakan oleh orangtua sebagai keputusan yang impulsif, keliru dan seterusnya. Terkadang, karena proses hidup, kita yang dulu biasa memberitahu apapun proses yang terjadi. Saat ini kita hanya menceritakan ketika proses itu selesai. Hal-hal ini dikalikan dengan frustrasi orang tua saat beradaptasi dengan diri mereka yang semakin tua.. bum! Meleduklah bom atom di ruang tengah keluarga.

Ada rasa lelah saat bom itu kembali meledak, seperti kita menghadapi konflik dengan orang tua karena kita kepingin selalu beli baju distro, kita mau nonton Superman Is Dead dan The Upstairs sebagai peak performer di pensi SMA, kita selalu pakai celana hipster, terus bolos les matematika atau bimbel saat SMA. Hidup itu adalah adaptasi tanpa henti kawan.

Akuilah kita sangat lelah hari ini, tenaga kita sudah habis seharian beraktifitas, telinga kita sudah panas mendengar apapun entah kritik, saran, berita miring, gosip. Plus, tiba-tiba kita kekurangan ruang personal agar paru-paru kita tetap berjalan dengan baik. Kalau sudah begini, kadang ingin bertindak radikal lagi.Namun hal yang membedakan adalah kita sudah dewasa. Tidak lagi impulsif atau reaktif seperti saat anak-anak atau remaja.

Kita akan membuat sebuah keputusan yang cukup halus dan dalam menengahi sebuah masalah. Kewajiban kita sebagai anak tetap harus berjalan. Pengabdian sebagai anak juga harus tetap berjalan. Namun maaf, kepada orang tua kami, sementara kami akan mengenyampingkan emosi kami begitupun emosi kalian. Kami akan melihat sisi masuk akal kenapa kalian frustrasi. Semata.. kami sudah terlalu banyak berperang dengan kehidupan, seperti di Jakarta yang sudah seperti invisible battleground. Semata kami ingin membuktikan kami adalah generasi yang lebih baik dari kalian dalam menghadapi masalah, termasuk masalah adaptasi kalian di usia senja.

Diam kami bukan kami kesal atau kecewa, kepada kalian orang tua.

"Remember all the sadness and frustration..and let it go..let…it..go.."