Hatiku berkecamuk menyusuri sepanjang jalan pulang dengan skuter biruku. Pohon Akasia yang ditanam di pinggiran jalan itu pun seakan menambah sendu suasana sore ini. Bagaimana tidak? Bunga yang indah sejak seminggu yang lalu itu mulai berguguran berserakan di jalan. Bukan cuma itu, langit pun mulai mendung, ku rasa mereka sedang mengejekku.

Kau pasti bertanya apa hubungannya? Entahlah, aku pun tidak tahu. Hanya saja untuk hari ini apapun yang ku lihat akan menambah sesak di dadaku. Aku kesal dengan pengemudi egois yang terus membunyikan klakson, aku kesal dengan daun kering yang terbang mengenai wajahku, aku kesal dengan mobil warna merah terang yang menyilaukan mataku, aku kesal dengan jalan pulang yang berkelok-kelok. Kenapa hari ini semua ingin cari masalah denganku? Melengkapi patah hatiku?

***

Aku terus saja melaju dengan motor matikku. Ya, sambil meladeni semua gejolak hati yang pelan-pelan sedang ku coba redam. Aku Nadia, yang seminggu lalu baru saja berulang tahun ke 24, tak ada pesta dan tak ada perayaan apapun, karena tak ada budaya itu di dalam keluargaku. Hanya saja ucapan dan hadiah sederhana dari beberapa teman kantorku. Yang sudah pasti bukan dari Farhan, teman terkampretku; bahkan setelah ku paksa.

Teman terkampret! Begitu aku menyebutnya. Sisi menyebalkannya itu tak pernah redup menghiasi hariku, tapi aku juga mengakui terkadang sisi jahil ku juga sering, bahkan sangat sering mengganggu ketenteraman hidupnya. Peristiwa ban motor kempes, atau musibah kehilangan sandal itu sudah biasa dialaminya. Haha, tapi dia orang yang tabah dan tidak membalas. Eh, bukan, bukan "tidak membalas" tapi "belum membalas", karena aku tahu dia akan menunggu waktu yang tepat untuk membalas kejahilanku.

Advertisement

Hm.. Kisah persahabatan yang pelik memang. Entah sejak kapan itu dimulai, namun ku akui atau tidak, ada sisi lain di dalam diriku yang selalu merindui keberadaannya.

Farhan, dia itu makhluk Tuhan yang sangat santai menurutku. Terkadang sedikit cerewet, kadang juga dia bisa berubah menjadi makhluk yang sangat perhatian. Mau tahu yang paling asik dari dia? Dia itu mau mendengarkan bualan-bualan konyolku ketika aku sedang bosan dan ingin didengarkan.

***

Siang tadi sebelum menyusuri jalan dengan bunga Akasia, aku masih di kantor berbual dengannya, Rara dan Fatin (yang juga teman sekantor). Tanpa disadari, kami membahas banyak tema; yang apabila disimpulkan akan sangat sulit. Pastinya aku mengetahui banyak poin, dari kambing Rara melahirkan sampai taman belakang rumah kak Fatin yang kebanjiran. Tapi ada satu kenyataan yang membuat aku harus pulang dengan hati yang kelu, saat pembicaraan mengarah pada tema jodoh.

Ngapain jauh-jauh Nad? Ni ada Farhan,” kata kak Fatin dengan senyum yang merekah.

“Nadia? Nggak ah! Cerewet!” Celetuk Farhan, yang membuat gelak tawa di antara mereka, kecuali aku.

“Biarin, ya! Siapa juga yang mau sama kamu?!” Balasku dengan nada yang tak kalah sombong. Hahaha. Iya, hahaha. Kali ini hatiku berkecamuk, tapi bisa ku sembunyikan.

Oh, ya??” Katanya lagi mengejekku.

“Ku kutuk kamu akan rindu terus sama aku!!!” Kataku tanpa mempedulikan kak Fatin dan Rara yang sedari tadi menjadi pengamat dengan ekpresi wajah yang terus berubah-ubah.

“’Nggak, ah! Aku sudah punya pacar!” Kata Farhan. Bumiku goyah, langitku runtuh, tapi masih bisa ku kawal ekpresiku.

Rasa yang selama ini ku pungkiri telah pasti adanya, rindu yang selama ini ku bunuh telah jelas tuannya. Ya, aku terpaut rasa dengan teman terkampretku, diam-diam rasa itu telah menyelinap dihatiku. Perlahan tapi pasti tumbuh merekah dan siap memberi rasa sakit disaat seperti ini. Hm, tapi, ya sudahlah. Bukankah itu kisah biasa? Biarkan saja ku simpan sampai aku lupa. Lupa tentang rasa ini atau bahkan lupa pada Farhan seiring waktu. Sederhana, bukan? Namun sungguh, saat ku jalani tak sesederhana itu, karena rasa sakit menggiringku untuk menjauh dari Farhan.

Ya, aku rindu persahabatan kami yang dulu.