(Lanjutan dari http://www.hipwee.com/narasi/cerita-cinta-yang-entah-dari-keentahan-yang-dientah-entahkan/)

Si anak perampas suatu kali jatuh pingsan dipangkuan ibunya sambil bergumam "alibaba". Itu terjadi berulang kali. Dan, ibu perampas tak mengerti apa maksud "alibaba" yang keluar dari mulut anaknya itu.

Sepenuturan ibunya, anaknya itu memiliki indigo. Ya, saya sedikit tahu tentang itu. Tetapi, masih saya ragukan (sedikit) kebenarannya karena saya tak berjumpa langsung dengan anaknya. Saya dan adik saya berdialog di ruang tamu–tanpa ditemani suami si ibu perampas.

Berulang kali anaknya menyebut nama itu, si ibu perampas tentu saja penasaran. Sampai bertanya ke sana ke mari, apakah itu nama tempat, nama orang, atau apa. Cukup lama pertanyaan itu mengendap di kepala si ibu perampas. Entah, suatu kali, anak perempuannya tiba-tiba ingin bersekolah di aliyah (setara SMA) … meski agak telat masuk karena ada hal lain yang membuatnya tak masuk sekolah lebih awal.

Kala itu, tentu penyakit–yang katanya suka pingsan itu–berlaku juga di sekolah. Beberapa orang berusaha menyembuhkan. Namun, nonsens. Suatu kali, ada seorang lelaki yang entah mengapa mampu menyembuhkannya. Ketika si anak perampas itu bangun, ia pun langsung bertanya kepada salah seorang kawan di dekatnya, "Siapa yang mengobati saya tadi?" Salah seorang kawan itu menjawab, "Alibaba." Tentu saja si anak perampas itu terperanga. Ternyata sekian waktu menanti, terjawab sudah.

Advertisement

Beberapa hari setelah itu, Alibaba–entah diajak atau apa ke rumah si anak perampas– kian-hari kian dekat. Seturut penuturan ibunya itu, awalnya memang Alibaba mendapat salam dari si anak perampas, tetapi ia tidak menerima pernyataan itu–barangkali malu–dan sambil yang entah bercanda mengatakan si anak perampas ini jelek.

Lambat-laun, malah kedekatan Alibaba ini kian hari kian menjadi. Lantaran memang kala si anak perampas itu sakit atau jatuh pingsan di sekolah hanya Alibaba yang mampu mengobatinya–dan itu entah mengapa. Saya tak mengerti.

Setiap hari Alibaba mengantarkan pulang si anak perampas ke rumah. Barangkali dari situlah asmara mereka semakin tumbuh dan menjamur. Alibaba–yang entah–semakin menggila. Jarang pulang ke rumah, malah sering bermalam di rumah si perempuan perampas. Seturut penuturan si perempuan perampas, ia sudah berkali-kali menyuruh Alibaba pulang. Sayangnya, tak kunjung mau.

Sesekali memang sempat pulang, tak lama kemudian ia kembali lagi, bahkan nekadnya pukul 11 malam bertandang ke rumah perempuan perampas itu. Orangtua Alibaba memang tak merisaukan anak mereka ke mana karena sepengetahuan mereka, anak sulung itu banyak kegiatan di sekolah–kelas 3.

Suatu hari, lama-lama di tempat itu, Alibaba yang entah kenapa disuruh berwirid atau entah bertapa atau apa ke Banten. Ia bersama temannya, Masatapa. Anehnya Alibaba menurut saja, yang katanya, memang perintah itu datang dari Sultan Banten ke dalam diri si anak perampas itu. Barangkali dari situ, ada kekhawatiran dalam diri Alibaba sampai akhirnya ia menjalankan perintah itu.

Berhari-hari lamanya Alibaba 'bertapa'. Kawannya, Masatapa itu, tidak kuat. Dan, akhirnya Alibaba sendiri bertama yang katanya bertempat di Surosowan. Mendengar kabar itu, senanglah hati keluarga si perempuan perampas karena inilah lelaki yang diutus Tuhan untuk menjadi pendamping anaknya itu.

Mendengar pernyataan itu, Alibaba shok, was-was dan takut. Bila tak menuruti ajakan si perempuan perampas itu, takut celaka dan marabahaya berdatangan. Akhirnya, menurutlah Alibaba untuk dinikahkan dengan putri perempuan perampas itu. Alibaba tak mengabari orangtuanya atas pernikahan ini. Karena ia tahu, pasti akan dilarang, dan larangan orangtuanya itu yang paling ia takutkan. Pernikahan pun terjadi–di Banten.

Setelah pernikahan itu kadung terjadi, Alibaba pulang ke rumah lalu mengabari orangtuanya kalau ia sudah menikah. Tentu saja orangtuanya shok. Di satu sisi dikira ucapan anak mereka itu mengigau atau hanya halusinasi. Berkali-kali orangtuanya diyakinkah, maka terjadilah sengketa!

Entahlah, pada akhirnya,saya tak bisa membedakan, mana fiksi mana fakta!

Serang, 2 Juni 2015