Sampai sekarang tubuh dan kaki saya masih bergemetaran atas peristiwa yang terjadi pagi tadi. Entah setan apa yang merasuki saya sampai saya meluapkan emosi kepada yang punya rumah–sampai menunjuk-nunjuk wajahnya– lantaran mereka sudah 'merampas' kebahagian saudara saya–bukan adik kandung saya–, masa depannya, dari orangtuanya.

Sejak semalam saya sudah geram. Saya tertipu dan keluarga juga tertipu oleh mereka. Padahal kami merasa (maaf bukan sombong) pendidikan kami lebih tinggi dari mereka. Nyatanya, tingginya pendidikan tak selamanya bisa dipertaruhkan untuk meyakinkan orang lain. Mereka– orang yang merampas salah satu keluarga saya itu–meski tak berkuliah atau apa, tetapi retorika mereka sangat memukai dan mampu meyakinkan saya juga adik saya yang ikut ke rumah perempuan perampas itu–terlepas retorikanya yang kadang benar dan kadang juga ngawur itu. Maaf, saya klarifikasi di sini, saya tidak menyebut mereka–saya ganti saja dengan ia. Karena yang menjadi dalang adalah ia: si perempuan (ibu) 'perampas' saudara saya itu yang sudah kadung mengesahkan saudara saya dengan hati anaknya (yang keduanya tercandu asmara) –meski memang terlihat tidak wajar.

Entah apakah saya pantas menyebutnya perempuan 'perampas' atau malah kami yang malah memang perampas karena dengan terpaksa menarik saudara saya itu untuk pulang ke habitatnya–rumah–dan meninggalkan belahan jiwa yang sudah terpaksa disuntingnya itu, menyunting tanpa sepengetahuan orangtua, dengan penghulu dan saksi seadanya yang entah tak jelas juntrungannya. Entah, simpang siurnya kebenaran membikin kepala saya 'retak' tak berpetak. Kami merasa berada di dalam labirin–selama dua minggu terakhir.

Orangtua saudara saya itu, barangkali, membutuhkan tenaga saya dan adik saya. Terlihat memang saban waktu menelepon saya. Sayangnya memang saya (sok) sibuk atas pekerjaan saya yang entah berantah itu. Kala waktu senggang–meski harus melenyapkan satu urusan–saya tergerak menemui saudara saya yang saya katakan saja sudah tersekap dalam lingkaran yang entah itu–di rumah si perempuan perampas itu.

Saya juga tak meyakini sepenuhnya atas diri saya ini siapa yang paling benar. Semua serba simpang siur. Baik pernyataan dari saudara saya, si perempuan itu, atau dari keluarga saya yang lain. Semua punya pandangan masing-masing. Lebih-lebih punya keyakinan (agama) masing-masing meski satu ukhuwah islamiah.

Advertisement

Ah, cerita ini begitu aneh dan saya bingung harus menjelaskan apa. Barangkali Anda tak mengerti. Tapi tak apalah. Saya hanya ingin menuliskan ini saja. Tapi, maaf saya harus lanjutkan lagi? sampai mana tadi? Oh iya…

Kami berlima–saya, dua adik, bapak saudara saya yang dirampas itu, paman–pukul 6 lewat sedikit sudah meluncur dari rumah menuju tempat kejadian perkara. Kami sudah musyawarah dan bersiasat akan seperti apa 'menyerbu' rumah itu. Pagi itu saya belum sarapan dan jantung sudah dag-dig-dug takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan–barangkali satu kampung di situ ribut.

Saya dan bapak saudara saya yang dirampas itu meminta izin ke tokoh masyarakat dan RT setempat bahwa kami akan 'menyerbu' rumah si perampas saudara saya itu. Alhasil, mereka menyetujui, bahkan berkata senang. Memang, warga sekitar tidak 'makul' dengan keluarga si perampas itu–kata mereka keturunan dukun. Sayang sekali kalau anak bapak jadi bagian dari keluarga itu, lebih baik dibawa pulang. Begitulah pendapat warga. Entah, siapa yang paling benar.

Ah, otak kami semakin menggebu ingin menyerbu rumah si perampas itu. Saya dan bapak saudara saya yang dirampas itu masuk lewat pintu depan, sedangkan dua adik saya dan paman menjaga dari pintu belakang. Hal ini dilakukan, pasalnya, kala kemarin sore saya bertandang ke rumah si perampas itu, saudara saya itu kabur dari pintu belakang. Sedangkan si perempuan perampas bilang dari kemarin saudara saya kabur bersama bidadarinya. Tentu saja ini bohong belaka, setelah beberapa warga melapor bahwa saudara saya itu tadi siang–ketika kami bertamu– ada di situ meski memang sempat kabur kala kami datang, tetapi bukan kabur, hanya 'keluar'. Istilah kekaburan ini tentu saja atas persekongkolan atau suruhan dari si perampas itu. Berengsek!–maaf kata ini masih sopan dalam KBBI.

Pagi itu memang wajah saya, emosi saya sudah meluap. Setelah si perampas membuka pintu–dengan baik-baik– kami masuk dan ternyata dua adik saya dan paman sudah menangkap saudara saya itu yang mau kabur itu dari pintu belakang–masuk ke dapur.

Ah, ibu perampas, kenapa harus berbohong mengatakan kalau saudara saya itu sudah kabur berhari-hari dari kemarin. Nyatanya, saudara saya itu ada di rumah–meski sempat berlari untuk kabur dan adu kejar dengan paman saya sampai akhirnya saudara saya itu kembali ke rumah dan mengumpat di dalam. Sayangnya, adik iparnya yang masih kecil itu memberi tahu persembunyiannya di rumah itu–rumah yang tak begitu besar dan luas. Si ibu perampas panik, juga suaminya–yang sedari tadi dan juga dulu tidak pernah berkata-kata itu–ikut panik. Kami meluapkan emosi kepada si ibu–atau perempuan–perampas itu. Mata si ibu perampas memerah. Saya kesal dengannya, saya menunjuk wajahnya. Saya merasa tertipu olehnya. Terkecoh olehnya. Sekarang ia tak bisa berkata apa-apa lagi ketika kami membawa saudara saya itu pulang ke rumah–'menyekapnya'– tentu untuk kebaikan bersama. Ke habitatnya yang indah–yang entah dan malah semakin berbantah masalah pengobatan dan pendukunan untuk kesembuhan saudara saya itu. Ah, sudahlah apa pun itu, terpenting saya bahagia, saya merasa bahwa ketertipuan dan rasa penasaran itu sudah saya kalahkan dengan realita yang tak bisa terbantahkan.

Dan kisah ini tentu saja belum selesai. Dan entah!

Serang, 1 Juni 2015