“I have no special talent. I am only passionately curious.” –Albert Einstein

Di dalam dunia Teknologi Pangan, seringkali terdengar istilah, “As long as human eat foods, Food Tech will never die!” yang artinya biasakan menggosok gigi sebelum tidur.

Sadarilah, bahwa para calon Food Technologist terlalu sering dininabobokan dengan kata mutiara tersebut. Dikebiri daya juangnya dengan sebutan jurusan paling bagus di klaster Agro. Serta dilemahkan dengan apa artinya kenyamanan, kesempurnaan cinta~

Kenapa aku berpikir semacam itu? Yha karena sekarang teman-teman sudah saatnya berhadapan dengan dunia kerja yang sangat kejam itu –kalau aku sih masih entar pan kapan-. Dunia yang sebenernya. Dunia yang ga mengenal IPK mu berapa dan kuliahmu berapa lama. Disini yang bisa beradaptasi dengan baik yang bisa survive.

Teknologi Pangan, di kampus memang kalian nampak jawara. Tapi di luar sana banyak yang menganggap teknologi pangan hanya sebatas bagian Quality Control (QC). Ada yang nyinyir kalau sarjana teknologi pangan tak lebih dari sekedar tukang sortir. Yha, karena kerjaannya memang menyortir barang baik bahan baku maupun produk. Dan itu kita lakukan setiap hari, terus, terus, terus, sampai negara api menyerang.

Advertisement

Itu pendapat orang. Kita taulah masih banyak bagian-bagian seperti produksi, management trainee, pengembangan produk, atau bahkan ke sales dan marketing. Tapi, perlu kita ketahui bahwa saingan kita bukan dari Teknologi Pangan saja. Menurut Indradi Sadhani –sarjana Food Technology lulusan Royal Melbourne Institute of Technology, ada kecenderungan bahwa pekerjaan yang ditangani para sarjana Food Tech ini seringkali digantikan oleh lulusan Kimia. Dyaaarr~

Keahlian kita tu sama bahkan lingkupnya lebih kecil dibanding Teknik Kimia. Yha memang kita punya kelebihan di bidang nutrisi dibanding mereka anak Teknik. Tapi ingatlah bahwa masih ada jurusan Ilmu Gizi. Jangan-jangan kedepannya, perusahaan pangan lebih memilih sarjana Teknik Kimia dan Ilmu Gizi daripada kita Teknolog Pangan. Kita mau makan apa??

Mungkin dengan jurusan Teknik Pertanian, Teknologi Pangan bisa berbangga diri ketika di bangku kuliah. Namun di luar sana, alumni kita banyak yang bercerita, Sarjana Teknologi Pangan itu banyak yang kalah persaingan dengan Teknik Pertanian karena mereka lebih adaptif dan fleksibel dengan dunia kerja. Think again??

Fuih.. Padahal mimin belum bahas mengenai MEA yang sudah dimulai tahun ini.

Kuncinya adaptasi untuk bisa bekerja di dalam tekanan. Tidak menye-menye. Rasa penasaran –Curiousity- yang tinggi, sehingga kita tidak berhenti belajar ketika sudah lulus. Tidak berhenti pada satu bagian saja. Bila menurut kisanak sudah terlalu lama di QC, belajarlah untuk mencoba lini produksi atau bahkan marketing. Penguasaan berbagai bidang inilah yang menempa seseorang untuk menjadi pimpinan perusahaan atau bahkan membuka usaha sendiri.

Dorongan rasa penasaran inilah yang membuat otak kita berkembang untuk memecahkan solusi. Karena sarjana dibentuk bukan sebagai pekerja, namun menjadi orang yang mampu memimpin dan memecahkan permasalahan.

Sekarang semua pilihan ada ditanganmu. Kelak kisanak lah yang jadi buronan yang dicari cari perusahaan pangan, atau malah jadi pengangguran yang sibuk meratapi nasib malang.

Life or Die, make your choice. Let the game begin!