Saat pertama kali kau membaca tulisan ini mungkin aku telah mati bertahun-tahun yang lalu, mati di salah satu sudut kota, di salah satu tepian jalan yang mungkin tak seorang pun tau. Kala itu mungkin siang, atau mungkin saja malam hari, aku lupa tepatnya, sepertinya aku sedang mabuk berat kala itu, mabuk seberat-beratnya. Namun ada hal-hal yang selalu teringat dan tak akan pernah mampu aku lupakan. Sungguh kesunyian itu tak terpikirkan sebelumnya olehku, ada sebuah kengerian yang begitu luar biasa yang tak pernah terbayangkan sama sekali.

Entah dari mana datangnya ia, malaikat maut itu tiba-tiba saja hadir di hadapanku, seluruh tubuhku bergetar hebat, mulutku menjadi kaku tak berdaya, menatap wujudnya sungguh aku tak sanggup, ia menatapku begitu dalam, menenggelamkanku dalam kengerian yang tak pernah mampu kau bayangkan sama sekali. Aku hanya terdiam tanpa bisa lagi mengelak sedikit pun ketika ia menghampiri, menyentuh tubuhku sambil perlahan berbisik di ujung telingaku, kini sudah tiba waktumu untuk kembali.

Ada kesakitan yang sungguh luar biasa, ketika malaikat maut itu mulai menghentakkan tubuhku, memisahkan rohku dari tubuh yang masih ingin berada di dunia ini. Sungguh kengerian ini lebih menyakitkan dari tikaman beribu-ribu pedang yg terhunus di seluruh bagian tubuhmu, lebih perih dari goresan gergaji dan sayatan gunting yang merobek-robek kulitmu, rasanya lebih panas dari siraman air mendidih pada bejana raksasa yg disiramkan ke seluruh bagian tubuhmu yang telah tercabik-cabik, sungguh kengerian ini tak ada duanya sama-sekali.

Pada akhirnya datanglah sakaratul maut itu dengan sebenar-benarnya pada diriku. Sungguh ini adalah sesuatu yang bil haq, perkara yang sungguh benar-benar terjadi.

Saat pertama kau membaca tulisan ini, mungkin aku telah mati bertahun-tahun yang lalu.

Advertisement

Yang tersisa dariku hanyalah tulang belulang yang tersembunyi pada sebongkah tanah, tanpa ada yang menangisi sama-sekali. Sungguh, di dalam liang ini aku merindukan ibuku yang dahulu menyelimutiku dengan kasih sayangnya, bukan kain kafan lusuh yang telah menyatu dengan tanah. Sungguh, di dalam liang ini aku merindukan wejangan-wejangan ayahku, bukan cambukan-cambukan para malaikat yang menyambangiku dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak mampu kujawab sama sekali. Kubur ini terlalu gulita menghimpit jasadku, kubur ini terlalu bersemangat menghukum diriku.

Sungguh kematian itu mengakhiri segala kesenanganku.

Sungguh kematian ini teramat perih bagiku.

Saat pertama kali kau membaca tulisan ini, mungkin aku telah mati bertahun-tahun yang lalu.

Sesekali siarahilah kuburku agar aku tak merasa sepi, kini aku hanya sendiri, bersemayam dalam narasi.

kusajikan cerita kematianku untukmu.

Sudah siapkah engkau menyusulku?