Sudah hampir 10 bulan tinggal di negeri kincir angin dan tanpa harus menganggur lama hingga menjadi loper koran sebulan setelahnya.

Begitu banyak pertanyaan apa yang akan saya lakukan selain mendampingi istri yang menjadi mahasiswa penerima beasiswa di Belanda sebelum keberangkatan. Bakat memasak untuk membuka depot makanan tak ada, melayani jasa perbaikan sepeda hanya terima bongkar tidak terima pasang, dan akhirnya memang rejeki hadir untuk menjadi loper koran.

Imajinasi menjadi loper koran di bayangan banyak orang mungkin seperti film-film Amerika yang bersepeda dan koran hanya dilempar ke rumah-rumah pelanggannya. Dasar film. Disini koran datang ke gudang penerimaan pada pukul 4 dan harus sudah selesai disebarkan sebelum warga beraktivitas jam 7. Semua koran itu harus dipastikan masuk ke kotak surat dan tidak semua rumah kotak suratnya ada di pinggir jalan, kebanyakan malah menempel di pintu atau dinding rumah. Otomatis harus parkir sepeda dan jalan.

Jumlah korannya sekitar 130-170 eksemplar untuk satu wilayah dengan 8 brand koran yang berbeda. Maka dari semua koran itu harus bisa terkirim di alamat yang benar, brand koran yang tepat, dan selesai sebelum pelanggan beraktivitas. Tidak asal lempar semudah di film.

Kota yang saya tinggali tidak setenar Amsterdam, Den Haag, atau Leiden. Biasanya orang perlu buka search engine untuk mengetahui Wageningen, bahkan bisa dibilang ini desa dengan luas wilayah yang setara Blitar atau 1/5 kota Bandung. Area bekerja saya pun bukan di tempat saya tinggal, saya harus mengayuh sepeda sekitar 7 km menuju kota tetangga, Bennekom. Sehingga saya harus berangkat lebih awal sekitar setengah 4 dini hari untuk memulai bekerja.

Advertisement

Puasa di Benua Biru pada musim panas rata-rata durasinya lebih lama dari Indonesia, di Belanda puasa mencapai 18 jam. Adzan subuh sekitar pukul 4 dan magrib pukul 10 malam. Pertama kali seumur hidup saya berpuasa selama itu. Awal mula sangat ragu bisa menamatkan puasa satu bulan penuh. Selain lamanya durasi, keraguan itu dipengaruhi juga oleh cerita pengalaman warga Indonesia yang sudah tinggal sebelumnya.

Dari yang mulai radang tenggorokan, batuk berdarah hingga yang bablas sahur karena baru adzan isya sekitar setengah 12 malam. Kondisi ini saya kira bukan dijadikan alasan untuk berhenti bekerja, karena saya pikir menafkahi keluarga pun itu sebuah ibadah.

Pengaturan alarm untuk sahur saya posisikan pada 02.50, setelah itu saya berbekal beberapa kurma untuk menemani perjalanan serta menambah energi saya sebelum imsak. Solat subuh saya lakukan di gudang sebelum memulai bekerja, beruntungnya kawan kerja yang di dominasi non muslim memiliki toleransi dan bukan Islamophobia. Saat membagikan koran setiap pagi di jalanan yang benar-benar sepi karena bukan di ibukota itu biasanya membosankan dan bisa mengakibatkan hasutan setan untuk batal berpuasa.

Ekosistem pedesaan yang modern di sini memberikan kenyamanan pada habitat beragam spesies burung dan tupai, sehingga sangat menyenangkan berinteraksi dan bercanda dengan mereka selama bekerja. Selain itu kebiasaan warga di Bennekom yang rajin merawat dan menghias taman serta baru selesainya musim semi, menjadikan mata saya tidak cepat bosan atau mengantuk. Selesai dari bekerja saya biasakan rehat kembali sebelum mengantarkan koran sore hari. Bukan sore juga, karena koran yang ini diantarkan pada rentang pukul 15.00 sampai 18.00 dan adzan Dzuhur baru pukul 13.30. Cahaya matahari pun masih diatas kepala.

Keunikan positif di Belanda, literasi baca yang cukup tinggi menjadikan koran terbit dua kali, untuk pagi dan sore. Pada jam ini tenggorokan benar-benar diuji, musim panas suhu bisa mencapai suhu diatas 23 Celcius dan terik matahari benar-benar menambah dahaga. Area yang kedua ini berada di semacam bukit di Wageningen, dengan sebutan Wageningen-Hoog (High). Beruntungnya koran yang dibagikan hanya 40 eksemplar dan disana dipenuhi pohon-pohon rindang sehingga lebih adem meskipun kayuhan sepeda lebih berat kerena area dataran tinggi.

Keunikan negatif (bagi loper) di Belanda, hari Minggu koran tidak terbit, alhasil koran hari Sabtu itu menjadi tebal ditambah setiap satu koran mendapat ekstra 1-2 majalah. Sungguh berat sekali, bisa mencapai dua kali lipat hari biasa. Bulan-bulan sebelumnya hari Sabtu sudah menjadi hari begitu melelahkan, tapi setelahnya bisa dibayar dengan menikmati secangkir kopi dan croissant coklat. Koran sore pun dikirim lebih cepat, selesai koran Bennekom langsung mengirim koran Wageningen-Hoog. Meski jadinya sore bisa rehat tetapi bulan Ramadhan ini yang asalnya ‘Sabtu melelahkan’ menjadi ‘Sabtu Super Duper melelahkan’. Hari Sabtu di Indonesia menjadi hari yang dinanti, untuk loper koran di Belanda, Sabtu menjadi semacam hari Senin bagi orang Indonesia.

Selama Ramadhan, bersama istri sepakat membuat jadwal masak sebelum berbuka dan sekaligus untuk sahur. Jadwal belanja dilakukan setelah mengantar koran sore dan istri selesai kuliah. Sebelumnya, masak selalu pagi sebelum istri kuliah sehingga saat makan siang dan makan malam lauk biasanya masuk microwave dulu baru disantap bukan masakan segar yang baru diangkat dari wajan. Ramadhan menjadi kelebihan bagi kita karena kenikmatan lauk yang baru jadi itu menambah cita rasa nikmat tiada tara setelah berjuang puasa 18 jam.

Perihal teraweh di mesid untuk Ramadhan tahun ini, saya harus merelakan banyak bolong, karena terawehan di Wageningen baru selesai pukul 12.30 dini hari. Kondisi ini tidak memungkinkan fisik saya yang harus langsung bekerja setelah sahur. Waktu teraweh di mesjid saya sempatkan pada malam minggu atau pada saat keesokannya libur.

Tak terasa sekarang sudah masuk bulan pertengahan Ramadhan, dan bisa menjalankan puasa meski banyak ‘rejeki’ karena pakaian orang Eropa relatif lebih ‘sangat terbuka’, semacam berjemur di depan kamar saya (untung ga ada ormas yang hobi sweeping, heuheu).

Sungguh pengalaman baru yang menantang dan menyenangkan memiliki cerita hidup menjadi loper koran di Negeri ini.