Hai?

Mungkin bagi kebanyakan orang kata itu tak berarti apapun, namun taukah senja?
Kata itu yang mengingatkanku akan kehadiranmu dalam kehidupan.
Sadarkah dirimu bahwa aku telah merindukan senyumanmu, senyuman yang membawaku semakin mengerti siapakah aku ini.
Sementara kau mengumbar senyumanmu pada pria lain, sementara itu pula kepahitan telah kurasakan.

Mengertikah kamu setiap detik yang coba aku rasakan dan aku resapi selalu berbalut dengan emosi keraguan, keraguan akankah kau benar-benar ada bersamaku atau sekedar hadir dalam pandanganku. Pandangan yang seolah membuai dalam balutan keadaan, keadaan akan setiap tawa yang aku coba tawarkan.

Senjaku mengerti bahwa seolah ia menawarkan keindahan, namun setiap keindahan yang kau berikan senyatanya hanyalah ungkapan akan belas kasihan. Memang tak menenangkan, namun kurasa setiap kehadiran senja selalu menawarkan keadaan, entah yang melukai atau menemani.

Sebuah pilihan yang tentunya mengandung banyak keberkahan, ia menawarkan sejuta emosi bahkan pertikaian. Berbalut kemegahan, berselimutkan keadaan, menantikan kemolekan, serta menjanjikan pergantian. Senja adalah ketika kamu mengerti sejenak, menghela nafas dan menguatkan hari. Ia selalu hadir dalam pergantian, memilih tetap terluka atau bangkit untuk meluka.

Advertisement

Lalu mengertikah kamu?
Senja apa yang kamu pilih, senja apa yang kamu imani?
Setiap senja yang kau ingini akan membuat fajar semakin berarti. Berarti untuk terpuruk atau sekedar mengingat akan beban hari lalu. Sama seperti kita, akankah ada tawa atau hanya kenangan yang menimbulkan luka.

Luka dalam setiap tawa, tawa dalam setiap senja, dan kata yang berucap lara. Saat itu pula aku telah terlanjur kecewa, keadaan dalam mengada. Mengada bahwa aku memang bukan untuk senja, dan senja bukan untukku sang Fajar.

Senja, mengertilah
Senja, menepilah
Senjaku, haru tawamu mengingatkanku untuk merawat keadaan yang selalu mengada-ada.

Salamku dari sang fajar sang penikmat senja, sang pengharap senja.