Sudah hampir 25 tahun mereka menikah, namun hingga detik ini keluarga mereka masih bahagia. Kini mereka berdua telah menjadi seorang nenek dan kakek yang memiliki satu cucu dan dua menantu. Kakek dan nenek itu memiliki tiga anak diantaranya ada si sulung wanita, tengah abang dan si bungsu gadis imut. Pertemuan kakek sebut saja namanya Attar dan nenek yang biasa di panggil Cahya berawal dari cerita ini. “Ting..ding..ding….” bel sekolah berbunyi. Cahya segera masuk ke dalam kelas. Pulang sekolah ia mengayuh sepeda hingga sampai ke rumah tercinta.

Sampai di rumah, Cahya mengganti pakaiannya dan kemudian ikut Ayah berjualan di pasar. Hari-hari Cahya habiskan dengan membantu Ayah berdagang di pasar, bermain, belajar dan mengasuh adik-adiknya yang berjumlah lima orang. Attar bersekolah di SMP Negeri 02 Sambas. Sekolah yang sama dengan Cahya. Mereka sangat akrab. Attar, Cahya dan teman-teman yang lain sering mengadakan acara makan bubur pedas di rumah Illes. Illes adalah anak yang tomboy dan sangat nakal. Nah, dalam acara itu, dijadikan sebagai event terbaik bagi Attar, Cahya dan pasangan” lain yang ingin bertemu melepas rindu. Memasuki masa ujian sekolah, Attar dan Cahya sangat giat belajar. Hingga tiba pengumuman kelulusan, mereka berdua dinyatakan lulus dengan nilai yang memuaskan. Namun, takdir berkata lain, mereka berdua tidak lagi satu sekolah.

Attar melanjutkan sekolah di SMK dan Cahya di SMA. Kelas 2 SMK, Attar berhenti sekolah. Karena ketika itu, ibu kandungnya meninggal, Ayahnya juga tidak mampu membiayai pendidikan Attar dikarenakan Attar memiliki 6 beradik. Sedangkan Ayahnya hanya seorang pekerja swasta yang berkebun dan penghasilannya juga tidak tentu setiap harinya. Ketika Attar berhenti sekolah, ia pun memutuskan untuk bekerja. Tak terasa, masa-masa indah di SMA telah berakhir, kini tiba saatnya pengumuman kelulusan Cahya. Allah berkehendak dan akhirnya Cahya lulus dan melanjutkan pendidikan di UNTAN Pontianak dengan mengambil program studi matematika selama dua tahun. Attar pun ketika itu juga bekerja di museum Pontianak.

Tugas dan segala macam kesulitan Cahya selama ia berkuliah di bantu oleh Attar. Dua tahun berlalu, tittle D2 pun ia dapatkan. Cahya dan Attar lalu menikah. Mereka melahirkan anak pertama yang berwajah begitu cantik yang diberi nama Pita setahun kemudian mereka berdua melahirkan anak laki-laki yang begitu tampan, bernama Abat. Saat itu mereka bertiga pun pindah dari Sambas ke Pontianak.

Tak lama kemudian Attar dipindah tugaskan ke Putussibau. Dua tahun mereka tinggal di Putussibau, mereka berdua dianugerahi anak mungil yang sangat manis dan lucu bernama Yuna. Tak terasa, kurang lebih 22 tahun mereka hidup damai di Putussibau. Pita sudah menikah dengan seorang pria dan melahirkan satu anak bernama Iky dan Abat juga sudah menikah dengan wanita kecil yang cantik bernama Pei. Yuna si bungsu sedang sibuk melanjutkan study ya di Jepang.

Advertisement

25 tahun hidup bersama, Cahya benar-benar sabar, kuat dan tegar dalam menghadapi segala macam sikap Attar yang begitu keras kepala dan egois. Attar selalu berkata-kata kasar, suka membentak dan suka marah” kepada Cahya namun Attar tidak pernah menyakiti fisik Cahya. Cahya menerima semua perlakuan itu dengan belaian kasih sayang, senyuman, dan doa yang tulus dari seorang istri untuk suaminya. Dari zaman sekolah dulu, Cahya terkenal dengan sifat sabar dan pendiamnya yang tiada duanya. Hingga detik ini, nenek Cahya tetap berjuang dan bekerja untuk membantu si kakek Attar dalam memenuhi kebutuhan hidup yang semakin hari semakin tinggi.