Tak tahu apa yang membuat aku tiba-tiba terpikir tentang ini. Mungkin saja naluri perempuan yang sedang berada dalam penantian jodoh yang entah sampai kapan.

Perkenalkan, namaku Hayatul Husna, biasa dipanggil Aya. Ini kisahku yang sedang berada dalam kegalauan dengan tema “Kapan nikah?”. Kami sering menyebutnya balada 25, tidak seperih balada anak tiri memang, bahkan terlalu dramatis jika disebut mirip.

Namun, cukup tepat untuk menggambarkan betapa sesungguhnya hati kami perih dan tersayat dengan pertanyaan-pertanyaan tentang jodoh yang kian hari kian menyiksa, kian bulan kian mendera kian taun kian membahana, dan kau tahu? Hari ini satu telepon dari kampung telah berhasil melengkapi kegalauanku. Minggu depan aku wajib pulang menghadiri pesta pernikahan sepupu yang lebih tua seminggu dariku, cuma seminggu.

Siang begitu panas, cahaya matahari serasa menusuk ke dalam kulit, perih rasanya, dapat ku sadari peluhku mengalir di balik pakaianku, beberapa hari ini mentari tampak begitu semangat membakar bumi. Setelah beberapa saat memacu motorku, akhirnya aku sampai juga. Aku berada di parkiran sekarang, setelah ku pastikan skuterku berbaris indah di parkiran, aku langsung masuk ke ruko bertuliskan “Smart Bimbel”.

Ya, di sini aku bekerja, hampir setahun sudah tempat ini menjadi sumber penghasilanku, setelah sempat menyandang gelar pengangguran selama hampir setahun, aku berhasil mendapat kerja di sebuah tempat bimbingan belajar berkat dari usaha susah payahku menghubungi semua rekan-rekan semasa kuliah dan meminta bantuan mereka untuk menginformasikan segala jenis lowongan pekerjaan.

Advertisement

“Aya!” Sontak aku melihat ke belakang, suara yang sangat ku kenal. Ya, dia Nadia, gadis cantik bertubuh jangkung dan tentor matematika itu tampak anggun dengan balutan jilbab panjangnya. Dia temanku sewaktu kuliah dan dia juga yang menginfokan aku tentang pekerjaan ini.

Aku memperlambat langkahku, hingga aku dan Nadia berjalan bersama “Nad, minggu depan minta izin buat aku dong sama bang Khalil seminggu”. Tiba-tiba aku teringat tentang kedekatan Nadia dengan bang Khalil, pimpinan sekaligus pemilik bimbel ini.

“Lho, kok aku, Ya?" Tampak Nadia mengernyitkan keningnya, entah dia memang benar-benar tidak tau kedekatannya dengan bang Khalil atau berpura tidak paham, entahlah, yang pasti kedekatannya dengan bang Khalil menjadi alasan mengapa aku tidak pernah menceritakan kepadan Nadia tentang perasaan anehku terhadap bang Khalil.

“Kan kamu dekat sama bang Khalil, kalau kamu yang minta mungkin diizinkan seminggu, Nad, kalau aku yang minta pasti cuma 3 hari.” Ku pasang raut muka memelas, berharap Nadia sahabatku itu luluh.

“Ya ya, nanti ku coba.”

“Terima kasih, Nadia.”

Langkah kami terhenti di depan dua ruangan yang saling berhadapan Ruang Tentor dan Ruang Administrasi. Dapat ku pastikan beberapa orang di ruang tentor, ada tentor Bahasa Inggris, kimia, dan fisika. Sedang aku? Aku melangkah memasuki ruang administrasi yang penuh dengan kertas dan surat menyurat, aku tidak memasuki ruang tentor seperti Nadia dan orang-orang itu, karena memang bukan keahlianku mengajar, sungguh bukan keahlianku.

“Ya, Abang minta rekap data tahun kemarin ya, yang lengkap.” Tiba-tiba seseorang telah berdiri tepat di depan meja komputerku,

“Ya bang, nanti Aya antar.” Jawabku setengah kaget.

“Hm. Melamun si Aya, pantesan ayam Abang pada mati.”

“Abang pelihara ayam?” Spontan mulutku menyambar tanpa jeda, pertanyaan bodoh, entah otak bagian mana yang memerintah.

Sosok yang menyebut dirinya Abang itu tersenyum lebar dan kemudian berbalik meninggalkan ruanganku, aku malu, sungguh!.

***

Aku mengetuk pintu sebuah ruangan, tak ada satu tulisanpun yang menjelaskan ruangan apa ini, namun kami biasa menyebutnya ruangan bang Khalil. Aku masih dengan sabar menunggu jawaban dari si pemilik ruangan.

Khalilullah namanya, dia seniorku di kampus, hanya saja sewaktu kuliah aku tidak mengenalnya, mungkin karena beda fakultas juga. Dia di fakultas Syariah sedang aku dan juga Nadia di Komunikasi dan Dakwah, bedanya Nadia telah mengenal bang Khalil terlebih dulu dariku, karena bang Khalil ini teman dekat sepupu Nadia.

Pertama kali aku mengenal bang Khalil ini ya di sini, sampai-sampai aku jatuh hati pada sosok yang jika berbicara lisannya terjaga, lemah lembut, tingkahnya santun, rajin ibadah, pintar, dan sikap ramahnya ini yang membuat dia disukai semua karyawan di sini.

“Ya, dari tadi lho Abang bilang masuk.”, bang Khalil telah berada tepat di depan pintu,

“ Maaf Bang, Aya tidak dengar, ini Aya bawa rekap datanya.” Aku sadari aku linglung, gelagatku menjadi aneh tiba-tiba. Nampak bang Khalil menggeleng-gelengkan kepalanya, banyak makna yang tersirat, sekali lagi aku berhasil mempermalukan diriku sendiri di depan orang yang ku kagumi.

***

Yes, akhirnya selesai juga, aku menata rapi sebundel kertas yang telah ku pilah-pilah berdasarkan bulannya. Sudah dari satu jam yang lalu aku bermain dengan kertas, hingga akhirnya aku merasa begitu haus. Aku memilih keluar kantor dan seperti biasa menuju mini market di depan kantor.

‘Kling,kling,kling’, suara gantungan yang digantung tepat di depan pintu masuk yang otomatis akan bersuara ketika pintu dibuka. aku langsung menuju ke arah freezer, seperti biasa aku mengambil minuman kesukaanku dan kemudian sejenak duduk di tempat duduk yang disediakan dan menikmati minumanku dengan santai.

KL Market namanya, aku suka interior minimarket ini, kecil, rapi, unik, 3 kata yang menurutku paling menggambarkan market ini dan satu hal yang buat aku suka berlama-lama di sini, ada satu tempat duduk di sudut market, yang disediakan untuk pelanggan yang ingin beristirahat atau sekedar menikmati makanannya. Tempat duduknya kecil, menghadap ke belakang market, yang view-nya taman bunga yang cukup luas, sepertinya ini juga bagian dari mini market ini.

Tegukan terakhir, aku menghabiskan minuman dan menuju ke kasir. Tampaknya hari ini Tuti yang biasa di kasir absen, hingga si pemilik market yang biasanya hanya jadi kasir pada hari Sabtu sudah duduk manis di kursi kasir pada hari ini.

“Tumben bang?” Tanyaku basa-basi, sambil memperlihatkan botol minumanku yang telah kosong.

“Tuti izin, maklum minggu menjelang pernikahan.” Jawabnya sambil mengambil botol dari tanganku dan mengarahkannya pada mesin pendeteksi harga yang aku tak tau namanya.

“7000 saja” Katanya lagi sambil memberikan senyum yang untuk sejenak membuatku terpana. Sungguh tak pernah terperhatikan olehku, kasir berkacamata yang sering dibicarakan teman-teman perempuanku di kantor itu ternyata benar-benar manis, tanpa kusadari mataku berpas-pasan dengan matanya, dengan cepat aku mengalihkan pandangan ke dompet dan mengeluarkan uang pas.

"Terima kasih” Ucapku.

Kemudian meninggalkan kasir berkacamata tersebut.

***

Dentingan waktu seakan menusuk nadiku, andai bisa ku perlambat perputaran jam. Kebiasaan burukku membaca novel sampai larut malam membuat aku begitu sulit untuk melawan daya tarik kasur, untung ratih teman kos di samping kamarku selalu membangunkan penghuni kos “Mawadah“ saat azan subuh, hingga subuhku tetap teratur meskipun kemudian tidur lagi :D.

Jam bekerku menunjuk angka 8.30, masih tersisa setengah jam lagi untuk siap-siap dan menuju tempat kerja, dengan tertatih dan susah payah aku bangun dan menuju kamar mandi, dengan secepat kilat pula aku selesai mandi dan memilih pakaian. Terusan hitam bergaris biru horizontal dan jilbab dengan warna hitam menjadi pilihanku hari ini, dengan tak kalah cepat aku menyelesaikan ritual dandan ala perempuan kemudian memacu skuterku menuju tempat kerja.

***

Aku sedang duduk di koridor dengan Nadia ketika adzan Dzuhur berkumandang, dan sejenak kemudian bang Khalil lewat tanpa lupa menyunggingkan senyum ke arah kami, tiba-tiba Nadia menyenggol bahuku, entah apa maksudnya. Dapat ku lihat dari pintu kaca kantor si kasir berkacamata juga keluar, mushalla yang berjarak 50 meter dari tempat kerja selalu menjadi langganan Khalil dan si kasir berkacamata ketika hari Sabtu, sedang kami yang perempuan hanya sesekali ke mushalla, seringnya kami shalat bersama di mushalla kantor, seperti hari ini.

“Nad, yang kasir di depan namanya siapa?” Tanyaku sedikit penasaran. Bagaimana tidak, sudah hampir setahun aku melihatnya dan saling bertegur sapa, tapi kami sama sekali tidak saling tahu nama.

“Tuti?”

“Kalau Tuti ngapain aku tanya Nad!”

“Nah, ini kenapa si Aya tiba-tiba tanya nama Abang itu?” Nadia menatapku dengan tatapan tak kalah penasaran

“Tanya aja Nad” Jawabku berkilah, ada rasa ingin tahu dalam diriku.

“Arkan namanya, Ya, keseharian dia mengajar di sekolah ‘Madani’ tapi tampaknya setiap hari sabtu libur, dan tau ga ,Ya, ternyata mini market ini dia yang punya” Jelas Nadia panjang lebar.

“Nad, si tuti mau nikah lho?” Kataku membuka tema baru, karena kalau tidak dipotong, Nadia bisa cerita sampai ke mana-mana, bisa-bisa sampai kesilsilah keluarga si kasir.

“Serius, Ya? umurnya baru 21 lho, Ya.”

“Tahu, Nad, jangan shock gitu lah Nad” Aku menangkap ekpresi lucu di wajah Nadia, ada yang lebih kaget dariku rupanya.

“Balada usia 25 tahun, Ya, kemarin tanteku tanya lagi, kamu kapan, Nad? Tetangga kita yang seumuran kamu nikah dalam bulan ini, gitu katanya” Kata Nadia menirukan pertanyaan tantenya.

“Mending Nad, aku minggu depan disuruh pulang sama ibu, sepupuku yang cuma tua seminggu dariku menikah, kamu pasti tau dong, musibah apa yang akan menderaku setelah dia nikah.”

Sejenak kemudian suasana hening.

“Lah, kamu udah sampaikan pesanku ke bang Khalil belum, Nad?” Tiba-tiba aku teringat dengan permintaan izinku ke bang Khalil

“Udah Ya, jadi besok kamu sudah boleh pulang.” Kata Nadia yang berhasil meluluh hati bang Khalil.

“Thanks, Nadia.”

“Aya,“ Nadia memanggil namaku kemudian menatapku serius.

“Kenapa Nad” Tanyaku penasaran setengah mati, melihat gelagat Nadia yang aneh.

“Bang Khalil mengatakan suka kepadaku.”

“Apa, Nad?” Tanpaku sadari mataku membulat, jantungku berdegub kencang.

“Bercanda Aya, bukan aku, bang Khalil mau menikah, katanya calonnya namanya Nadia juga.”

***

Malam berada di seperempat, aku terbangun dengan kegundahan yang entah dari mana, air mataku menetes tiba-tiba, aku memilih untuk bangun dan mencari ketenangan yang hakiki, aku mengambil wudhu dan membentangkan sajadah, ku lakukan shalat tahajud dua rakaat. Sungguh, telah lama shalat ini ku tinggalkan, dapat ku ingat terakhir kali aku mengerjakannya saat aku dalam masa pembuatan skripsi.

Buliran mataku kembali mengalir, ku sadari betapa jauh sudah aku dengan Tuhanku.

Sesaat aku membayangkan wajah Khalil, laki-laki yang aku kagumi, pernah terbersit dipikiranku menikah dengannya, tapi urung, karena aku mengira Khalil menyukai Nadia temanku. Aku merasa beruntung tak pernah menyebutnya dalam doa, karena bagiku aku hanya akan mendoakan jodoh dari Tuhan, siapapun dia.

Rabb, hatiku semakin gundah, penantianku entah sampai kapan, terkadang aku hampir runtuh dan mengeluh, tapi bukankah semua telah Engkau atur? Hamba yakin perencanaanMu lebih indah, yang kau pilih untukku lebih tepat.

***

Hiruk pikuk pesta

“Aya, Jilbab Dewi yang kemarin bunda kasih ke Aya diletakkan di mana?” Teriak bunda tanpa menghentikan langkahnya menuju ke dapur, dengan setengah berlari aku mengambil jilbab yang dimaksud dan memberikan kepada tukang hias yang sedang sibuk melukis wajah Dewi.

Belum sempat aku melangkah keluar “Dik, tolong kipasin Dewi ya, panas, listriknya padam.” Kata si mbak tukang rias sambil menjulurkan kipas tangan ke arahku.

“Nanti kalau giliran Aya yang nikah, aku kipasin pula, Ya.” Ujar Dewi dengan tersenyum.

“Kok telat sekali Wi dandannya? Tamu pada datang lho.” Dewi yang bibirnya sedang diberi lipstick hanya terdiam

“Tadi saya yang datang terlambat.” Jawab si tukang hias, dapat ku lihat raut penyesalan di wajahnya.

“Aya! Cepat keluar.” Aku yang menyadari panggilan bunda, langsung menuju keluar, di ruang tamu sudah ada bunda, ibu dan satu orang perempuan sebaya ibu berdiri di antara keramaian pesta.

"Ini Aya kak, anak saya.” Kata ibu sambil menunjuk ke arahku “Ini Wawak yang di Medan." Kata ibu kemudian, memperkenalkan wanita tersebut kepadaku.

“Cantik ya, sudah menikah?” Pertanyaan si Wawak bagaikan anak panah yang menghujam jantungku.

“Belum, Wak.” Jawabku singkat, “Jangan lama-lama lagi tu, biar nanti wawak pulang lagi.“ Katanya lagi sambil cengar-cengir.

“Nggak lama lagi lah kak, Dewi yang sebaya Aya aja udah nikah.” Sambung bunda, sedang ibu hanya tersenyum mengikuti candaan kedua perempuan di sampingnya, sepertinya ibu menangkap kecut wajahku, ibu selalu tau, bahwa aku begitu kesal kalau ditanya kapan menikah.

“Aya, tadi kakak menyuruhmu gendong Fatan sebentar.” Kata ibu menunjuk kakakku yang sibuk dengan anaknya, aku pergi menemui kak Ana, di samping kak Ana ada kak Tari, teman kak Ana. “ Aya, ilang timbul di kampung, pas pesta gini nampak lagi, kapan nih giliran Aya yang pesta?”, “GUBRAKKK” menghindari panah wawak medan kena panah kak Tari, hidup.. Hidup.

***

Pagi yang indah, ku hirup lamat-lamat udara pagi yang menyejukkan, ku nikmati setiap helaan napas yang membuat lega hingga ke dalam hati. Seminggu telah ku jalani di kampung, hanya tinggal sisa-sisa pesta di rumah bunda yang berada tepat di samping rumahku, sedangkan sepupuku dibawa suami yang sedang S2 ke tanah Jawa. Aku membungkus rapi barang-barangku untuk kembali ke kota siang ini, tak lupa ku bungkus serta pertanyaan-pertanyaan yang bertema “kapan nikah” dari tetangga, sanak family dan teman.

“Aya, itu rendang ayam ibu buat, sampai di kos langsung dipanasin ya.” Kata ibu sambil sibuk membuat bontot untuk kubawa ke kostan.

***

Aku dan Nadia sedang menikmati minuman dingin di mini market depan kantor, tak tampak si kasir berkacamata hari ini, padahal hari ini adalah hari sabtu.

“Nad, andai ada radar jodoh ya?” Tanyaku dengan pikiran yang terus menerawang.

“Kenapa gitu, Ya?”

“Ya Nad, coba kalau ada radar jodoh, kita ga perlu sibuk-sibuk jatuh hati ke orang yang enggak tepat, mengagumi orang yang salah, berharap seseorang jodoh kita, rupanya jodoh orang.” Aku masih berandai-andai ria.

“Aya, Aya. Jauh hayalanmu, Ya!” Nadia tampak terkekeh mendengar bualanku.

“Betul Nad, yang kalau jodoh kita lagi lewat 100 meter dari kita dia akan bunyi.“

‘Kling…kling…kling’ Pintu mini market dibuka, sontak aku dan Nadia melihat kebelakang, hatiku tiba-tiba berdegub kencang, sikasir berkacama tersenyum ke arah kami.

“Kamu pikir ini negerinya Doraemon, Ya.”

Nadia menyadarkanku kembali ke topik, aku menghela napas.

“Ya, aku tau kamu suka bang Khalil!” perkataan Nadia membuatku begitu terkejut.

“Kamu, Nad?” Tanyaku memastikan bahwa kami tidak menyukai pria yang sama.

“ Nggak lah Ya, aku menyukai pria lain dan andai radar jodoh yang kamu bilang itu benar-benar ada, aku sangat berharap dia sedang berbunyi kencang sekarang.”

“Nad, kamu suka?….” Ya, aku yakin, yang Nadia maksud adalah kasir berkacamata itu.

Nadia bergeming, dia hanya menjawab pertanyaanku dengan senyum yang penuh makna.

***

Dua bulan kemudian

“Ya! Ke mini market depan yuk!” Ajak Nadia yang tiba-tiba telah berdiri di depan ruang administrasi,

“Nad, aku malas ah, ajak yang lain aja.”

“Nggak ada, Ya, cuma aku sama Radi yang masuk pagi ini.”

Dengan sedikit berat aku terpaksa menemani Nadia ke minimarket depan.

‘Kling…kling…kling…’ aku dan Nadia mengambil wafer coklat, dan minuman dingin kemudian duduk di kursi biasa

“Istirahat ya, Nad?” Seseorang telah berada di belakang kami, si kasir berkacamata rupanya.

“Iya bang Arkan.” Jawab Nadia, sedang aku hanya tersenyum.

“ Ini namanya siapa, Abang Nggak begitu ingat?” Tanyanya kemudian menunjuk ke arahku

“ Aya, bang!” Jawabku singkat.

“Hmmm, Abang ke sana dulu ya.” Katanya kemudian menuju ke arah kasir kembali, aku baru ingat hari ini adalah hari Sabtu, dasar Nadia, ingat saja dia sikasir kacamata.

***

Angin berhembus merdu membelai kulit, aku dan Nadia baru saja menelesaikan shalat Ashar di mushalla dekat kantor, model bangunan mushalla yang terbuka membuat angin leluasa masuk ke dalam. Sungguh nyaman di sini, tinggal aku dan Nadia beristirahat sejenak di mushalla.

“Ya, radar jodoh kamu bunyi nggak tadi?” Tanya Nadia tiba-tiba, sontak membuat aku terkejut dan kebingungan, benar-benar aneh Nadia akhir-akhir ini.

“Maksud?” Tanpa kusadari keningku mengernyit.

“Bang Arkan juga berjamaah di sini tadi." Jawab Nadia kemudian.

“Hubungannya?” Aku yang semakin bingung memasang wajah melongo, betul-betul tak paham dengan maksud dan tujuan Nadia.

“Ya, bang Arkan jatuh cinta padamu, dia bertanya banyak tentang kamu padaku!”

Penjelasan Aya membuat jantungku berdegub kencang, hatiku tak karuan, ada kebahagiaan dalam hatiku. Tapi, tunggu!,

“Maksud kamu, Nad?” Tanyaku lagi, belum percaya.

“Ya Aya, dia suka kamu, kamu ingat saat kamu masuk ke market sendiri bertanya tentang Tuti dan pada hari itu juga dia mulai menyukaimu dan memperhatikanmu.”

Aku bahagia, tak dapat kugambarkan dengan kata-kata, tapi masih ada yang mengganjal di hatiku “Bukannya kamu suka Arkan, Nad?” Tanyaku kemudian, memastikan bahwa aku tak pernah menyakiti hati sahabatku.

“Tidak, Ya.”

“Jadi, hari itu yang kau maksud?”

“Sudah kuduga kamu tak melihat Radi di sudut belakang.”

“Jadi Nadia suka Radi?” Tanyaku dengan mata yang hampir melotot, ternyata selama ini aku tak mampu mebaca hati sahabatku sendiri.

“Ya Aya!” Nadia tersenyum malu “Bagaimana dengan bang Arkan?" Lanjut Nadia lagi.

“Aya, Arkan itu orang yang sangat baik, sungguh beruntung kamu, dia serius ingin mencari pendamping dan dia ingin kamu.”

Aku hanya diam, tak ada yang dapat kuungkapkan saat ini, aku bahagia, sungguh, aku memeluk Nadia erat. Tak luput bibir dan hati ini dengan hamdalah.

***

Jodoh itu urusan tuhan, tak ada yang tau kapan dan di mana, dan tak tau siapa, dia bisa temanmu, tetanggamu, musuhmu mungkin, atau bahkan orang yang sama sekali tak kamu kenal. dan sekarang aku tau, radar jodoh yang sebenarnya itu sudah ada pada diri manusia, jauh di dalam diri manusia Allah telah menitipkan benda bernama hati, saat dua pasang mata saling bertatap.

Allah akan menautkan dua hati untuk dipasangkan. Allah akan menggetarkan hatinya, dan menghalalkan dalam ikatan suci, sampai ke surga.

Bagaimana radar jodohmu, guys? Berbunyi kah?