"Terlahir dari keluarga kaya, lalu masa depanmu sukses, itu sewajarnya. terlahir dari keluarga kaya, lalu masa depanmu lebih sukses dari orang tuamu, itupun masih sewajarnya. terlahir dari keluarga sederhana, namun masa depanmu sukses, itu baru luar biasa" – hanjar bait

Terlahir dari keluarga berpunya, kaya raya, mungkin adalah impian semua Anak Indonesia. Tidakkah pernah sewaktu kecil, bahkan sekarang pun, kita sering berpikir, "kalau saya jadi anak presiden, pasti saya … "; "kalau saya jadi anak artis, pasti hidup saya"; kalau saya..; kalau saya…

Harapan akan kehidupan yang layak, bahkan akan lebih mudah diraih jika kita bernasib menjadi anak yang terlahir dari keluarga berpunya, kaya raya. Tentu berbeda dengan anak-anak dari keluarga tak berpunya, semakin rendah KASTA keluarganya makin sulit rasanya menggapai harapan hidup yang lebih baik.

Akan tetapi, kata "SULIT" tidak akan pernah bermakna sama dengan "TIDAK BISA". Terlahir dari keluarga sederhana, tak berpunya justru adalah keistimewaan yang diberikan Tuhan. Sesungguhnya Tuhan memberikan kesempatan bagi kita, untuk menjadi luar biasa. Tidakkah hal yang biasa saja, jika kamu lahir dari keluarga kaya, lalu kamu sukses di masa mendatang? biasa saja kan. Nah, maka dari itu, sungguh kesempatan yang baik jika kamu terlahir dari keluarga sederhana, dan kamu bisa sukses meraih masa depanmu. Huuuu so iya yah, kaya yang gampang aja. Tapi percaya diri dan optimis adalah modal awal kamu, kawan.

Aku, Elmi Hanjar Bait bukanlah Anak si Orang Kaya, bukan si Anak Pejabat tinggi atau Anak bangsawan, tapi Aku cuma si Anak Buruh Bangunan.

Advertisement

Terlahir hanya dari bapak seorang buruh bangunan, bukanlah sebuah ketidakberuntungan. Kini, semenjak dewasa justru saya sering berpikir "Wah, begitu beruntungnya saya, begitu luar biasanya bapak saya, Wah, Wah…"

Beruntungnya saya, "disaat yang lain memikirkan hari ini jajan apa, "jajan apa" karena uang jajan yang besar, justru saya lebih banyak waktu untuk memikirkan mengenai pelajaran saya karena saya tidak sempat memikirkan jajan. Ya gimana mau mikirin, orang gasuka jajan, gadikasih jajan, orangtua gamampu beri jajan, kalau jajanpun paling 100, 200an. Nah, saat itulah saya beruntung, ternyata dengan situasi seperti itu saya berhasil lebih pintar dari yang lain.

Begitu luar biasanya bapak saya, meski ia hanya seorang buruh bangunan dengan pendidikan tamatan SD, beristri dan berkeluarga tamatan SD bahkan tidak lulus SD, siapa sangka ia mampu menjadikan saya seorang Mahasiswa. Ia tekun menyekolahkan saya dengan kemampuannya yang ada, seada-adanya, bahkan ia seringkali mengada-adakan padahal tidak ada hanya demi pendidikan saya.

Inilah awal pembuktian, bahwa menjadi Si Anak Buruh Bangunan bukanlah Ketidakberuntungan. Justru ini adalah batu lompatan untuk saya dapat terus berusaha, tetap semangat dalam menggapai hidup yang lebih baik. Dan usaha itu harus diawali dengan menggapai pendidikan setinggi-tingginya. Saya meyakini, pendidikan adalah cara efektif merubah peradaban manusia, tentu saya yakin dengan pendidikanlah saya mampu merubah nasib hidup menjadi lebih baik.

Dari keyakinan itulah, saya tidak pernah patah semangat untuk bersekolah setinggi-tingginya. Namun bukan hanya sekedar bersekolah setinggi-tingginya, dengan tak bermakna melainkan bersekolah dengan setinggi-tingginya, bermakna dan berprestasi tentu itulah harapan dari usaha-usaha saya.

Sejak di bangku SD, saya selalu mendapat rangking 2 besar di kelas, pernah mengikuti dan menjuarai olimpiade matematika SD tingkat kecamatan, juara 7 olimpiade matematika SD tingkat kabupaten, dan menjadi peserta olimpiade matematika SD tingkat nasional jalur B. Dan Alhamdulillah, saya pun lulus SD dengan nilai Ujian Akhir untuk mata pelajaran matematika mencapai nilai 9,2. Di bangku SMP, saya terus berusaha menuai prestasi, mendapat rangking di kelas, mengikuti banyak olimpiade mata pelajaran di beberapa jenjang tingkat, diantaranya: Olimpiade Matematika tingkat Kabupaten, Anggota Olimpiade Sains tingkat Nasional, dan lain sebagainya. Mengikuti lomba menulis Puisi tingkat kabupaten, anggota kelompok terbaik IV KIR tingkat kabupaten dan menjadi anggota tim terbaik III untuk lomba fortolio tingkat kabupaten. Selain di bidang akademik, saya juga berprestasi di non akademik diantaranya: menjuarai LT 2 Pramuka, dan menjadi Aktor pada pementasan drama “Bangku Diantara” yang di muat pada 3 surat kabar terbesar di Banten.

Menginjak di bangku SMA, saya tidak pernah berhenti untuk tetap bersemangat meraih prestasi dengan selalu menuliskan nama saya di jajaran atas rangking kelas, menjuarai lomba teater pada FLSN tingkat kabupaten dan mengikuti lomba teater pada FLSN di tingkat provinsi. Lewat teater, saya juga mengantarkan teman-teman saya menjadi kelas terbaik dalam pensi drama, saat itu saya menjadi sutradaranya. Di SMA, saya juga aktif di organisasi, seperti halnya, Alhamdulillah. saya berhasil membangkitkan eskul Pramuka yang telah lama mati suri, kelas 10 saya menjadi wakil ketua Pramuka dan saat bersamaan juga saya menjadi wakil sekertaris OSIS, dan pada kelas 11 saya menjadi ketua Pramuka. Alhamdulillah, banyak prestasi juga yang diraih eksul Pramuka dibawah kepemimpinan saya. Akhir yang manis pun saya dapatkan saat saya dinyatakan Lulus SMA, meski sempat putus semangat karena bapak saya menyatakan tidak sanggup menguliahkan saya, saya sangat senang ketika saya dinyatakan Lulus SNMPTN 2013 dengan status mahasiswa peraih beasiswa bidikmisi. Kinipun ya saya menjadi mahasiswa, berkuliah di UPI Kampus Serang.

Di kampus sekarang, saya cukup dikenal sebagai mahasiswa juru kunci penghuni Asrama. Prestasi saya di perkuliahan, diantaranya menjuarai lomba puisi baik ditingkat kampus maupun pada kegiatan TCA. Nama sayapun mulai menonjol setelah saya menjadi salah satu menteri di BEM UPI Kampus Serang, dan di akhir perkuliahannya ini, saya kembali mendapat kesempatan untuk menuai prestasi dengan meraih beasiswa progam Pertukaran Mahasiswa Tanah Air Nusantara ke Kalimantan Selatan tepatnya ke Universitas Lambung Mangkurat (http://berita.upi.edu/?p=10744).

Runtutan perjalanan saya dalam menempa pendidikan setinggi-tingginya dan terus berprestasi bukanlah tanpa perjuangan yang berarti. Sudah saya singgung di awal, tentu saya tak sama dengan anak lainnya yang mungkin lebih beruntung. Saya sudah ditinggalkan ibu saya disaat saya duduk di kelas 5 SD. Tidak jarang juga saya tidak jajan sekolah, jajanpun tidak seberapa. Saat SMP, saya banyak berjalan kaki untuk menempuh sekolah. Dan saat SMA, saya pernah menjadi pelayan warung makan saat malam hari untuk menambah uang jajan.

“Saya selalu ingat betul masa-masa perjuangan sekolah saya dulu, bahkan sampai sekarangpun saya masih merasakan sulitnya mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Tapi kalau bukan saya yang beusaha mengubah nasib keluarga saya ya siapa lagi, alhamdulillah saya adalah cucu yang pertama kalinya sekolah hinggga lulus SMA bahkan hingga berkuliah. Saudara-saudara saya yang lain sudah banyak yang berguguran, ada yang sekolah SMA tapi tidak tamat, ada yang SMP saja, bahkan ada yang SD pun tidak tamat. Orang tua sayapun menjadi motivasi saya untuk merubah nasib, bapak saya hanya buruh bangunan dulu lulusan MI saja, ibu saya tidak tamat SD dan beliau sudah meninggal sewaktu saya SD. Saya yakin semua tidak ada yang tidak mungkin, saya akan berupaya untuk melakukan yang terbaik untuk hidup saya terutama dan juga untuk keluarga saya,”

– Hanjar Bait

Sekian. Sedikit cerita dari saya, ini cerita bukan seolah pamer prestasi. Tapi inilah bukti dari saya, saya cuma si Anak Buruh Bangunan juga bisa berprestasi, maka kenapa kalian yang bernasib sama dengan saya, TIDAK BISA? Tentu Kalian juga BISA. Dan malulah kalian yang bernasib lebih beruntung dari saya, jika kalian TIDAK BISA memanfaatkan semuanya. Marilah dengan nasib kita masing-masing, kita bersaing untuk berprestasi.