Dihembuskannya kepulan asap sial itu dari mulutnya, dia tak suka seperti itu. Tapi, ketika lelah sudah menghampirinya tanpa ampun seperti hari ini, kepulan itu akan terjadi. Ya! paling-paling hanya dua sampai tiga hisapan, setelah itu rokok yang berlogo urutan angka macam togel itu segera ia matikan

Dia bukan perokok berat namun hidupnya tidak terlalu sehat. Ia masih muda, namun sudah memiliki pekerjaan yang tidak ringan. Maklum, ia harus produktif dan menunjukkan kinerja baik, supaya kelak ketika di umur yang sudah agak tuaan, ia sudah mampu menjadi bagian terpandang di perusahaan tempatnya bekerja.

Ia terduduk di sofa-nya ketika jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dinyalakannya TV 21 inch miliknya, sembari tetap menempelkan seluruh badannya di sandaran revolusi bentuk kursi yang sangat empuk itu. Acara TV ketika malam seperti ini benar-benar tidak ada yang mendidik, channel yang satu menyiarkan sinetron, channel satunya lagi menampilkan acara joget-joget tak jelas, channel berikutnya menyajikan berita pro-pemerintah, dan channel tetangganya malah ngehunjat petinggi negeri.

Andai saja bukan karena letih, mungkin ia akan membaca buku saat ini. Satu-satunya media yang masih bebas dari hal-hal yang banyak tak berbobotnya seperti di TV. Sayang, matanya sudah terlalu bosan melihat deretan huruf dan angka pada halaman buku. Khusus untuk hari ini!

Dibiarkannya TV menyala, namun pikirannya melayang kemana-mana.

Selain menonton TV dan menghisap rokok, satu lagi yang bisa ia lakukan untuk membunuh kelelahan, yakni memikirkan beberapa wanita yang dekat dengannya.

“Alicia” kata Erman dalam hati.

Alicia adalah wanita yang manis, teman satu kantornya. Dia baru dua bulan ini masuk kerja, menggantikan Ibu Reti yang sudah expired untuk pekerjaan yang cukup banyak. Selain karena terlampau tua, ibu Reti mengundurkan diri karena tiba-tiba tubuhnya terserang penyakit yang cukup mengejutkan. Sebelum divonis dengan stadium yang terlalu tinggi oleh dokter, dirinya dan keluarga-keluarganya, ia pun memutuskan untuk resign. Ya! Ibu Reti terserang penyakit flu. Percayalah, terkadang flu bagi orang yang sudah keriput, memang seseram itu.

Alicia bukan hanya baru dua bulan ini masuk kantor, tapi baru dua bulan ini juga Alicia sudah berhasil masuk ke dalam hati Erman. Sejak awal ia masuk kantor, Erman sudah mulai tertarik menatapnya. Bibirnya yang tipis dengan lipstik pink yang porsinya pas pula, membuat Erman kadang lebih suka memikirkan hal-hal jorok kalo bertemu dengan Alicia.

Rok hitamnya yang pas selutut dan cenderung ketat, kadang membuat hati Erman dagdigdug. Bukan tanpa usaha, Erman tak membiarkan Alicia berdiam begitu saja di luar hatinya, bahkan ia sudah masuk dan menetap di dalam hati Erman. Yummy!

Baru sebulan diseriusin, Erman sudah mampu membuat Alicia jatuh hati. Maklum, pria yang satu ini sudah ditakdirkan Tuhan untuk tampan. Rambutnya yang gampang disisir rapi ke belakang dengan tambahan bahan kimia aneh bernama pomade, membuat wajahnya makin terlihat limited edition. Kacamata minusnya yang besar namun elegant terlebih lagi berharga mahal, membuat wajahnya makin terlihat maskulin dan bernilai mahal.

Badannya memang tidak terlalu atletis. Maklum saja, dia bukan orang yang suka olahraga. Tapi wanita tidak pernah memikirkan hal itu, yang paling penting bagi wanita-wanita yang Erman dekati adalah, dia orang yang sangat jago bertutur kata dalam niatan menggoda. Wanita akan cepat leleh dengan gombalan-gombalan yang jitu itu, termasuk pun Alicia.

Alicia bahkan sudah paham bahwa Erman suka padanya dan itu yang membuat Alicia sempat memberikan apa yang ia punya pada pria berwajah nyaris sempurna itu.

Saat kantor kosong, entah skenario macam apa yang terjadi, sehingga kebetulan sekali Alicia dan Erman melakukan lembur bersama-sama. Sebelum pulang, mereka sempat berpapasan dan berujung pada obrolan renyah sepintas di dapur, sembari menaruh gelas bekas kopi peneman lembur malam itu.

Obrolan santai serta ditambah dengan materi gombal-gombalan jitu milik Erman, membuat Alicia mabuk dengan sadar. Bahkan tak disangka, Alicia dengan rela memberikan kecupannya pada Erman. Pertama Pipi, naik ke dahi dan merapat hingga menuju kecupan nafsu ke bibir Alicia.

Andai, bukan karena kucing hitam jomblo yang selalu berkeliaran di kantor tidak mengganggu kemesraan itu, bisa jadi mereka akan bercinta di sana. Ternyata masih ada yang ingin menolong.

“Sial! Coba aku ngak takut sama kucing pasti beda cerita.” Katanya sedikit kesal sembari menatap langit-langit rumah dan tetap berkhayal.

Selepas kejadian itu, Alicia berubah total. Setiap bertemu dengan Erman, ia akan berusaha menghindar seolah tak kenal dengan makhluk laki-laki berwujud Erman. Entahlah, apakah dia marah sebab Erman tak menyelesaikan tugasnya malam itu, atau karena Erman ternyata tak se-macho yang ia bayangkan. Tapi yang jelas, malam itu Erman mengakui kesalahannya, ia lebih baik tidak bahagia sama sekali ketimbang harus bertemu dengan seekor kucing yang menggelikan itu.

Kenyataan pahit harus Erman pikul sejak lama, bahwa hidup mengatakan kalau Erman phobia terhadap kucing sejak SD.

Mungkin Alicia ilfil karena ia tidak ingin punya pendamping hidup seorang pria yang bahkan dengan kucing saja pun tidak berani. Tapi, Erman sudah mulai tidak memikirkan hal itu lagi.

“Alicia…Alicia. Untung ada Tika yang datang menghiburku.” Kembali Erman melayang memikirkan sosok Tika. Wanita yang tinggal tidak jauh dari rumahnya, hanya sekedar dua gang dari tempat tinggal Erman.

Saat Erman sedang asik mengerjakan tugas kantor di salah satu minimarket sembari meminum beberapa minuman tak sehat bernama softdrink, snack dan kacang-kacangan ber-MSG tinggi, serta tak lupa permen kaki. Wanita itu tiba-tiba duduk di meja Erman.

“Boleh saya gabung di meja ini? Kebetulan meja lain penuh dan saya liat mas sendirian, apakah boleh saya duduk?” Katanya pada Erman yang sedang sibuk mengutak-atik kerjaannya di macbook putih miliknya.

“Silakan” sambut Erman dengan sangat manis.

Ternyata Tika adalah seorang mahasiswa S2 yang kebetulan menyewa rumah di dekat rumah Erman. Selain mahasiswa, ia juga bekerja sebagai seorang desainer logo dan kebutuhan grafis lainnya secara lepas untuk beberapa perusahaan besar maupun start-up di luar negeri. Beberapa desainnya memang benar-benar menggoda iman, saking luar biasa indahnya. Tapi, tak hanya desain yang ia buat saja. Diapun, juga benar-benar ahli dalam menggoda iman pria macam Erman.

Tika adalah seorang wanita yang memang sedikit agak tomboy, rambut bob-nya yang sebahu, badannya yang sedikit berisi dan kerap kali mengenakan celana jeans ketat, membuat ia terlihat tak seperti wanita pada umumnya, meski begitu, auranya tetap anggun.

Erman bahkan sempat beberapa kali mampir ke rumahnya. Kebiasaan Tika yang selalu menggunakan celana super pendek berkain tipis. Ditambah, ia kerap mengenakan kaos putih polos yang suka menimbulkan ornament-ornament aneh di dalamnya, terkadang malah membuat otak Erman yang nista itu, dipaksa keras berputar-putar ke angkasa.

Mungkin tak cuma Erman saja yang berpikir seperti itu, namun Tika yang terbius ketampanan Erman pun demikian. Entah apa setiap orang yang datang kerumahnya selalu disuguhkan dengan pakaian yang seperti itu, atau hanya terkhusus pada Erman. Tapi jujur, itu semacam kode keras yang diterima baik oleh Pria “agak kotor” macam Erman.

Bukan kesempatan yang disia-siakan oleh Erman. Sebagai pria kotor yang suka mengkhayal, serta kebetulan di luar baru saja hujan datang dan kebetulan ia “terjebak” di rumah Tika, ia pun mendapatkan apa yang ia dapatkan dari Alicia. Kecupan pipi, lalu dahi, serta bibir dari Tika, didapatnya di ruang tamu rumah yang memang hanya ditinggali oleh Tika sendirian.

Di saat Erman baru saja mencoba melucuti bajunya dan ingin melanjutkan ke celana, tiba-tiba saja ada aungan manis kucing yang ternyata merupakan peliharaan baru Tika dan penghuni baru rumah itu. Tak pikir panjang, Erman kemudian lari terbirit-birit dan meninggalkan rumah itu menembus guyuran hujan meski tak sadar ia belum sempat menggunakan bajunya lagi. Ia bergegas kembali ke rumah dan melupakan semua tentang Tika. Semuanya!

“HAHAHA. Bodohnya aku, kenapa harus selalu takut dengan kucing. Padahal aku bisa mendapatkan kebahagiaan dua kali, andai saja tidak ada kucing perusak hari itu.”

Pria itu kembali menarik nafas panjang, mengepulkan ke udara, meski sudah tidak ada lagi asap di dalamnya. Dia memikirkan betapa kotor pikirannya selama ini.

“Apakah aku masih bisa membersihkan semua ini? Mungkinkah Tuhan mengampuni dosa-dosaku? Apakah aku terlambat untuk mengubah semua yang salah?” Ujarnya dalam hati, mengelah nafas panjang dan kembali membuangnya dalam-dalam.

Tak lama, sesosok wanita kurus dengan tinggi yang sama seperti Erman, mendekat kepada TV dan tiba-tiba mematikannya, lalu kemudian berdiri di hadapan pria yang letih itu.

“Jangan dibiasakan deh, kalau masuk rumah enggak salam. Salam kek, atau berusaha untuk bersuara, atau apa gitu. Biar ngak kaya hantu yang lagi kalah pamor sama manusia serigala.”

“Iya deh, maaf… Si Rasya udah tidur?” Ujar Erman pada wanita itu.

“Udah, barusan aja. Kasian tu, abis pulang dari sekolah, badannya langsung nggak enak. Ya udah, aku masuk kamar duluan ya beib.” Ujarnya sembari menuju ke kamar tempat biasa Erman tidur. Sebelum masuk, ia kembali menoleh menatap Erman, diam sebentar lalu berkedip.

Erman langsung berdiri dan menarik dasinya dari baju. Ia membuka kancing-kancing baju biru mudanya, kemudian masuk ke kamar tempat wanita yang berkedip kepadanya tadi.

“Nampaknya aku akan bermain malam ini, sembari dengan rahasia memikirkan dua teman gadisku itu. Kuharap tidak ada kucing malam ini karena aku tau, keluarga kecilku ini tidak ada yang suka dengan kucing.” Ia masuk dan mengunci pintu kamarnya rapat-rapat.

TAMAT-