Sepasang petani tengah mengawasi padi siang itu. Sawah mereka dua petak paling pojok, dekat kebun ketela yang dipagari barisan pohon pisang. Bersebelahan dengan lima petak sawah pak Bandi yang dibatasi pematang. Semua terlihat dari jalan desa, termasuk gubuk kecil di ujung pematang sawah mereka.

Siang itu memang terik, pantulan sinar dari daun-daun pohon pisang sesekali mencuri perhatian. Anak-anak ramai bermain di pinggir jalan desa, tanpa peduli lalu lalang kendaraan. Pengairan sawah mereka berfungsi dengan baik, air mengalir dari sungai Progo menuju desa Kaligalang. Tidak terlalu deras namun mencukupi kebutuhan sawah di desa tersebut.

Dari tepi pematang sawah, Sardi dan Rahayu sibuk menggerakkan orang-orangan sawah.

"Astaga pak!! Sawah pak Bandi dikerumuni burung!!!" seru Rahayu

"Biarkan saja bu…" sahut Sardi

Advertisement

Sardi menoleh lalu melanjutkan pekerjaannya. Dengan cepat, Rahayu berjalan mendekati Sardi. Menjelaskan kepada suaminya, bahwa pak Bandi sedang sakit. Namun Sardi tetap mengacuhkan ucapan Rahayu.

"Bapak kenapa? Kok diam saja?" tanya Rahayu

"Aku gak suka bu.." jawab Sardi menatap isterinya

"Gak suka gimana to pak?" sela Rahayu

Sardi melepaskan tali, meraih caping lalu dikipas-kipaskan ke lehernya.

"Dia sombong.. Semenjak punya mobil baru, tidak mau ikut ronda. Siapa yang mau bantu orang seperti itu bu?" ujar Sardi

"Oh.. Jadi bapak iri? Kalau punya mobil baru itu tidak boleh dibantu, begitu?"

"Ya sudah, biar ibu saja yang melakukannya. Bapak jemput Sekar nggih.." tutur Rahayu dengan bahasa Jawa

Sardi menghentikan kipasannya.

"Sudah.. sudah.. Ibu pergi jemput Sekar saja!" seru Sardi

Sardi berjalan menuju sawah pak Bandi, sementara Rahayu menuruti perkataan suaminya. Rahayu melaju dengan sepeda motornya dari tepi jalan desa. Sardi mulai menggerakkan orang-orangan sawah pak Bandi. Kedua matanya tertuju pada kawanan burung Pipit, terbang kesana kemari. Burung itu pergi ketika orang-orangan sawah bergerak, tapi mereka cepat kembali begitu berhenti.

"Besar juga nyali burung-burung itu.." gumam Sardi

"Demi mencari makan, mereka melawan ketakutan.."

Sardi terus menggerakkan tali yang terhubung dengan orang-orangan sawah, ia gerakkan dengan lemah. Sesekali mengarahkan pandangan ke sawahnya sendiri.

"Ya Tuhan.. Sawahku dikerumuni burung!!" seru Sardi

"Bagaimana ini? Duh.." ujar Sardi

Sardi melepaskan tali, orang-orangan sawah berhenti. Sardi bergegas menuju sawahnya. Sampai di tengah pematang ia menghentikan langkah kaki, tiba-tiba teringat perkataan isterinya. Perkataan itu diucapkan dengan perlahan dan bernada rendah.

"Sedang apa pak Sardi?" ucap seorang pria muda

"Eeeh.. Kamu.. Kukira siapa.. Tidak apa-apa.. Mau kemana ndra?" tanya Sardi

Hendra yang berjalan dari arah jalan desa, dengan cepat disambut Sardi. Mereka berjabat tangan.

"Ini mau nyari daun pisang pak, buat makan ternak.." jawab Hendra

"Bapak sedang apa berdiri sendiri di pematang? Kayak orang hilang.." celetuk Hendra

"Hahaha.. Kamu bisa aja ndra.." sahut Sardi

Sardi menyampaikan masalahnya kepada Hendra dengan perlahan. Hendra terus menganggukkan kepala. Lalu, Sardi melepas caping di kepalanya, tidak peduli terik matahari. Sebagian bajunya tampak basah.

"Oalah.. Begitu.." ucap Hendra

"Sini.. Biar saya yang awasi sawah bapak!"

"Loh.. Katanya kamu mau nyari daun pisang?" tanya Sardi

"Halah.. Gampang itu pak.." jawab Hendra

"Baiklah, terima kasih sebelumnya ndra.." ucap Sardi

Hendra bergegas mengawasi sawah Sardi, menggerakkan orang-orangan sawah. Sama halnya dengan Hendra, Sardi juga melakukannya pada sawah pak Bandi.

Sementara itu, Sekar dan ibunya telah sampai rumah. Kepala desa datang bertamu, memberikan undangan untuk nanti malam. Tak lama kemudian, setelah menyiapkan bekal, Rahayu berangkat ke sawah yang jaraknya dekat dari rumah. Sekitar tiga menit menggunakan sepeda motor.

Rahayu berjalan dari tepi jalan desa menuju gubuk kecil di ujung pematang sawah. Setelah sampai di gubuk kecil, ia mendapati suaminya sedang beristirahat dengan Hendra. Rahayu segera mengeluarkan bekal yang dibawanya. Mereka duduk melingkar di amben gubuk dengan jajanan pasar dan dua gelas teh di tengah.

"Kenapa ya ndra, hidup petani begini-begini saja?" tanya Sardi

"Sebagai generasi muda, kamu harus ikut memikirkannya.." tambah Sardi

"Iya pak. Mungkin faktornya banyak."

"Salah satunya masalah hama." jawab Hendra

"Nah itu.. Benar-benar bikin pusing.." ucap Sardi

"Pemerintah juga tidak memberi bantuan apa-apa.." tambah Sardi

"Sebentar pak!" sela Rahayu sembari mengeluarkan undangan dari saku baju

"Ini ada undangan sosialisasi pemberantasan hama dari Dinas Pertanian Kulon Progo.."

"Habis isya nanti di balai desa.." jelas Rahayu

….

Memasuki waktu malam, selepas isya. Sardi dan Rahayu menuju balai desa menggunakan sepeda motor. Mereka antusias mengikuti acara tersebut bersama petani lainnya. Selesai acara, semua saling bersalaman lalu berpamitan. Saat melewati jalan desa, Sardi mengurangi laju kendaraannya.

"Gimana pak? Sudah ada pencerahan belum?" ucap Rahayu dari belakang

"Bu.. Lihatlah Kunang-kunang itu! Mereka diatas sawah kita.. Lihatlah kesana!!" seru Sardi menunjuk

Rahayu diam, ia mengencangkan pegangan lalu menoleh ke kanan. Ke arah yang ditunjuk suaminya.

"Redup memang.. Tapi mampu menghasilkan cahaya dari tubuhnya sendiri.." terang Sardi

Rahayu mengarahkan pandangan ke spion kanan, ia gerakkan sedikit spion tersebut sampai terlihat wajah suaminya. Mereka saling pandang, pulang.