Aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanya remah-remah rempeyek yang tanpa sengaja kau sentuh. Iya.. Remah-remah.. Yang jelas tidak berarti bagimu.

Rasanya aku telah memberikan segalanya. Semua yang aku bisa berikan kepadamu. Tapi, aku bisa apa kalau ternyata yang kamu cari bukan aku.

Bukankah hati tidak pernah bisa kompromi?

Entah hati atau keadaan yang harus disalahkan. Tapi mungkin yang lebih salah adalah aku. Ketika aku memberi kesempatan kamu masuk dalam sela-sela hati yang hampa dan kosong. Bukankah seorang tamu tidak akan masuk ketika sang pemilik rumah tidak membukakan pintu? Bagaimana pun kerasnya sang tamu mengetuk pintu. Sekali lagi… Jika sang pemilik rumah tidak membukakan pintu, maka tamu tidak akan pernah masuk.

Sejak nyaman dan terbiasa itu muncul, aku selalu dihantui rasa takut. Rasa takut jika ada pisau tajam yang menyayat tepat di hatiku, dan kemudian perlahan keadaan yang muncul berikutnya akan semakin membuat perih luka yang dibuat pisau itu. Seperti siraman air garam pada luka baru. Hanya dengan membayangkannya pun aku tahu bahwa itu menyakitkan!

Advertisement

Ada terlalu banyak rasa yang tidak pernah aku tanam, tapi rasa itu menjadi tumbuh begitu saja. Padahal aku tidak pernah menginginkannya.

Sejak anomali itu muncul, aku jadi terlalu sering berimajinasi. Aku jadi terlalu sering berharap. Aku jadi terlalu sering melamun. Aku jadi terlalu sering menyebut namamu dalam doa.

Aku begitu paham jika yang aku lakukan saat ini bisa jadi adalah awal dari kehancuran hatiku sendiri. Ketika aku menaruh harapan. Maka aku pun harus siap jika suatu saat harapan itu akan pupus. Aku bukanlah wanita yang sempurna. Aku bukan wanita yang cantik dan anggun. Aku juga bukan wanita cerdas dan berpendidikan tinggi. Aku mungkin jauh dari wanita harapanmu.

Mungkin saat ini kita (agak) dekat. Tapi aku dan kamu pun tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di depan sana. Tuhan itu maha membolak-balikkan hati seseorang. Bisa saja suatu saat kamu akan pergi meninggalkanku, menuju seseorang yang adalah "jodoh" untukmu.

Apakah cinta akan berakhir dengan sekejam itu? Semoga tidak!