Panas terik matahari membakar ubun-ubun kepala meski berlapis kain telah menutupinya. Awan terlihat enggan meneduhkan. Angin malas berhembus, menyisakan dataran yang kian tandus. Saat kemarau datang, seketika aku benci untuk bepergian walau sekedar keluar ruangan. Tapi tidak saat itu. Tidak saat pertama kali aku melihat sepasang mata membalas tatapanku.

Kala itu, waktu bagai berhenti sepersekian detik. Meluangkan sejenak ruang hampa bagiku untuk merekam memori dalam brankas tersembunyi. Semesta seakan berbisik lirih sebuah kalimat magis yang tak berbentuk, namun bermetamorfosis menjadi bait-bait riang untuk menemani hari-hari kemudian.

Dari mata turun ke hati. Barangkali pepatah tersebut menggambarkan secara harfiah proses luluhnya gunung es di hatiku. Entah apa yang menarik darinya. Wajah tak terlalu rupawan. Penampilan kadang membosankan. Apakah perangainya yang memacu jantungku untuk berdetak lebih cepat? Apakah tuturnya yang membuat otakku berulang kali memutar suaranya bagai kaset rusak? Aku belum tahu. Bagiku, teka-teki adalah kegemaran sekaligus kelemahan.

Malang nasibku, segala yang dirasa tak berhenti sampai di situ saja. Barang satu hari absen melihat batang hidungnya, aku segera mencari tahu bagaimana kabar terbarunya. Ke manakah ia pergi hingga mataku tidak sempat melirik? Aku hanya bisa menyimpulkan dari sekumpulan prasangka yang hampir nihil kebenarannya.

Jatuh cinta. Awalnya, aku tidak mau mengakui — gengsiku sungguh tinggi. Urusan tentang lelaki tidak pantas menghabiskan waktuku yang seharusnya luang untuk bertumpuk buku. Tapi siapalah yang mampu membohongi diri sendiri? Apalagi ketika bayangnya hampir selalu hadir di sudut mata.

Advertisement

Pernahkah kau mendengarnya? Seorang penulis berkata,

"Ketika seseorang sedang jatuh cinta, ia cenderung menghubungkan suatu hal dengan hal lainnya demi mencari pembenaran dan penjelasan yang akan membuat hatinya senang."

Terlalu naif bila aku menyanggahnya. Aku selalu mencari atau lebih tepatnya membuat sebuah cerita tentang persamaan antara aku dan dia. Meyakinkan diri sendiri bahwa aku adalah tulang rusuk yang dicarinya. Mulai dari yang perkara memakai warna baju yang sama, sampai dengan tanggal ulang tahun yang berurutan. Beberapa hal terlihat hanya sekedar kebetulan belaka, tapi hati seorang yang dilanda asmara seringkali terlalu optimis dan meniadakan hal logis. Segala tentangnya selalu menjadi topik hangat untuk dibincangkan dalam pikiran. Memendam perasaan menjadi salah satu keahlian yang tak mungkin aku banggakan.

Apabila ada yang bertanya, “Mengapa kau tak bilang saja kalau memang suka?”
Maka aku akan menjawabnya, “Semudah itukah untuk merangkai kata?”

Setahun berlalu. Aku masih berada dalam status yang sama: menunggu kereta datang di pelabuhan. Ketidakpastian dan ketidakmungkinan seperti menjadi kawan. Laki-laki itu, cerita tentangnya masih merajai buku harian sebanyak ratusan halaman. Yang tanpa sadar aku tulis namanya di sampul belakang buku bergaris. Yang wajahnya sering menjadi coretan sebelum menjadi lukisan.

Jutaan detik terlewati sejak sorot matanya menuju padaku. Mungkin ia tak menganggapnya sebagai sesuatu yang harus dihiraukan, tapi ia meninggalkan hiruk pikuk dan bising suara hatiku yang disembunyikan.

Aku menjalani hari dengan biasa saja sampai aku curiga karena telah tujuh hari kehadirannya menjadi misteri. Terakhir kali, ia memakai kaus berlengan panjang berwarna abu-abu. Sama persis denganku. Lagi-lagi seperti itu. Kebetulan yang sempurna untuk membuat anganku kembali melanglang buana. Sampai aku mendengar kabar dari bisik-bisik tetangga bahwa ia pindah ke luar kota. Tidak pernah aku sangka bahwa ia akan menghilang secara tiba-tiba.

Langit malam dan semangkuk mie instan menemaniku duduk termenung di dekat jendela. Aku tak bergairah untuk pergi ke café seberang demi membeli secangkir kopi lalu memfotonya dan menulis di kolom caption dengan kutipan patah hati. Yang aku butuhkan sekarang adalah delapan liter air mineral, gorengan, dan pelukan.

Tapi, siapalah aku untuk bersedih? Bahkan namaku saja mungkin ia tak pernah mendengarnya. Aku berusaha melupakan, melapangkan hati dan meyakini bila memang ia adalah bagian dari takdir hidupku nanti, entah kapan ia pasti akan kembali.

Tak lama berselang, ada beberapa sahabat mengirimkan surat. Bertanya apakah aku mau membuka hati, masih adakah sisa ruang untuk ditempati? Bingkisan silih berganti datang, berharap akan mengetuk pintu hati yang terlihat lengang. Aku memilih untuk tetap bergeming, membiarkan semua kiriman menjadi tumpukan di sudut ruangan. Bukan karena aku memandang mereka sebelah mata, tapi karena setiap hati memiliki pendapat pribadi. Siapapun itu, pasti ingin pilihannya dihargai.

Aku diam untuk beberapa alasan. Menghargai privasiku sendiri, mencegah pertanyaan bermunculan dari kawan yang sebenarnya tak peduli dan hanya ingin menambah bahan perbincangan (yang berakhir dengan terlalu banyak bumbu tambahan), dan tentu untuk memendam perasaan bila harus berakhir dengan pilu hati yang menyakitkan. Prinsipku adalah tidak mengumbar kesedihan. Karena bagiku, orang lain hanya pantas menerima kabar bahagia.

Kau pernah lihat film berjudul Crazy Little Thing Called Love? Aku kagum pada sosok Nam yang berusaha menjadi versi terbaik dirinya. Susah payah ia dan kawan-kawannya berjuang. Meski sayang, hasilnya tidak seperti yang ia harapkan. P’Shone — kakak kelas yang ia suka, ternyata berlabuh pada perempuan lain. Tapi apakah itu sebuah perubahan yang merugikan? No. It’s all worth it.

Menurutku, cara untuk mendapatkan cinta terbaik adalah dengan memantaskan diri. Karena ketika dipertemukan dengan pasangan, maka aku harus siap untuk menjadi seorang yang jauh lebih baik dari sekarang. Cinta tentu saja bukan hanya sekedar menyatukan dua insan, tapi lebih dari itu. Aku akan berbaur dengan keluarga baru yang kemungkinan memiliki cara pandang yang berbeda denganku.

Lalu aku memulai langkah pertama dengan berkarya sebaik yang aku bisa. Aku berusaha memenuhi kriteria wanita baik menurut norma: menjaga kehormatan dan bersikap santun selayaknya. Aku sadar tidak banyak kemajuan yang signifikan. Tapi sekecil apapun tenaga yang keluar, pada akhirnyapun akan terbayar.

Aku tidak peduli pada bintang yang berjatuhan di gelapnya malam atau jam yang menunjukkan angka berurutan—yang katanya akan membawa peruntungan. Aku masih punya Tuhan sebagai kekuatan. Berharap doa-doa yang naik ke langit dari sela jari suatu saat akan menurunkan jawaban.

Aku belajar banyak, bahwa setidaknya ada nilai lebih yang akan aku dapatkan ketika aku belajar untuk lebih memantaskan diri. Paling tidak, pantas menurut standar diriku sendiri. Pantas untuk menjalani kehidupan yang lebih kompleks di fase mendatang. Pantas untuk menemani dan mendukung seseorang saat membanting tulang. Bagi siapapun itu, yang pantas menjadi pendampingku.

Hingga datanglah malam entah ke berapa semenjak bayangan laki-laki itu hampir hilang dari ingatanku. Ayah menatapku serius dan berkata akan ada anak rekannya yang datang untuk berkenalan. Terdengar suara pintu diketuk dan hatiku mulai menggerutu. Aku tak mau dipaksakan, tapi tak mau pula membantah titah orang tua tersayang. Sampai akhirnya aku membuka pintu dan terkejut dengan siapa yang berdiri di depan kedua mataku. Seperti Nam dan P’Shone yang sebenarnya saling menyukai namun malu untuk mengungkapkan.

Kebetulan yang menyenangkan.