Pertama aku berkenalan dengan dia, aku tertarik dengan rupanya. Setelahnya aku jatuh hati pada pribadi dan sosoknya. Namun, aku tak ingin ada yang mengetahuinya. Orang lain dan dirinya tak aku izinkan untuk mengetahuinya. Rasa ini aman di tempat persembunyiannya. Aku tak mau ada yang menghina dan menolak keberadaan rasa ini. Meskipun setiap malam aku bertanya, "Bagaimana jika rasa ini tak ditemukan?"

Satu-satunya tujuan menyembunyikan rasa ini adalah untuk ditemukan

Aku memikirkan cara untuk tetap dekat dengannya. Meskipun aku tetap harus menjaga rapi rasa ini. Pilihan untuk menjadi teman baiknya pun aku ambil dan jalani. Semakin hari aku semakin jatuh padanya. Dirinya menjadi alasan satu-satunya aku menjalani hari-hariku saat ini. Tanpa disadari perhatian kecilnya menjadi semangat hari, terima kasih yang diucapkannya selalu menjadi penghilang lelahku. Apakah ini yang dinamakan cinta? Karena memberi menjadi hal yang terpenting untukku daripada menerima darinya. Sebenarnya aku mulai merasa berdosa ketika aku mengatasnamakan persahabatan untuk rasa ini. Hingga tanpa dirasa aku telah menemaninya selama 35.140 jam.

Cara lain agar kita tetap dekat dengan dia yang kita cintai adalah menjadi temannya

Aku selalu ada di saat dia merasa jauh, jatuh, dan tertinggal. Aku menjadi pendengar setia setiap keluh kesahnya. Aku selalu menjaga nama baiknya kala banyak orang yang tak lebih mengenalnya membicarakan hal-hal buruk tentangnya. Hingga tanpa sadar keputusanku menjadi teman baiknya sudah berlangsung selama 35.064 jam sejak hari itu. Banyak orang yang mulai menebak rasa ini. Aku berjuang setengah mati untuk menjaga rasa ini dari mereka dan dirinya. Aku tak ingin ada yang berubah. Rasanya lebih baik rasa ini tak pernah diketahui daripada aku merasakan kehilangan. Bagiku, tertawa bersama dan tetap di sampingnya adalah hal terindah yang saat ini sedang ku jalani. Aku memperjuangkan banyak hal untuk membantunya dan sering aku melupakan apa yang ingin aku capai. Ah ini sudah gila! Namun ternyata aku memang orang gila yang telah menyimpan rasa ini dan melakukan banyak hal untuknya.

Advertisement

Jika mencintai dalam diam adalah dosa, maka aku pasti masuk neraka

Bunda, sebagai satu-satunya orang yang tahu akan rasa ini pernah bertanya, "Kamu melakukan semua hal untuknya untuk apa? Untuk dicintainya?" Aku tak bisa menjawab. Aku hanya berpikir, jangan-jangan aku pamrih atas semua perbuatanku. Aku pamrih untuk rasa yang ku miliki. Aku ingin dia melihatku suatu hari dan memiliki rasa yang sama. Saling mengungkapkan dan…… Stop! Ini bukan cerita remaja di serial TV.

Tapi aku tidak boleh pamrih, maka ketika suatu hari dia datang kepadaku dan bercerita bahwa dirinya telah memilih pendamping hidup. Aku pun bertanya, apa yang membuatnya memilih gadis itu. Lalu dia menjawab, karena sang gadis pilihannya pernah membantunya untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan dan itu membuatnya jatuh hati. Sebuah pekerjaan? Sisi egois dan pamrihku seketika berkata "Lantas, bagaimana dengan bantuanku selama ini? Tidakkah Kau melihat dan ingin menemukan rasa yang tersembunyi ini?"

Hingga akhirnya, dia memilih untuk menjadikan orang yang pernah sedikit membantunya itu untuk menjadi pendamping hidup selamanya. Bahkan inilah kata-kata yang terucap dari bibirnya di hari bahagianya kala itu "Semoga kamu segera menyusul! Apalagi kamu adalah wanita super baik yang pernah ku kenal. Jangan lupa untuk melihat sekitar. Semoga kamu berbahagia!"

Aku tak menyesal telah mencintaimu dalam diam. Aku berharap, semua kebaikkan yang telah aku lakukan untuknya tidak menjadikan aku menyalahkan rasa ini dan lisan ini.

Dariku yang mencintaimu dalam diam tanpa jeda.