10 tahun pernikahanku sudah dikaruniai 3 orang anak. Anak yang paling kecil bukanlah anak yang kami rencanakan. Pertengkaran hebat seringkali dipertontonkan di depan anak-anak. Situasi yang biasa di dalam keluargaku sehari-hari adalah hal yang tidak biasa di mata teman-temanku. Tempat tidur kami terpisah, aku tidur di sofa dan suamiku tidur di kamar bersama anak-anak. Hatiku tawar, saat melihat suamiku sudah tidak ada lagi perasaan apapun selayaknya seorang istri terhadap suaminya. Aku merindukan seseorang, cinta pertamaku, sahabat lamaku saat kuliah dulu.

Masalah uang adalah yang selalu kami ributkan. Penghasilanku lumayan, beberapa pekerjaan kulakoni dalam 1 hari, 7 hari seminggu. Tidak demikian dengan suamiku, penghasilannya tidak tetap. Lebih banyak di rumah mengurus keperluan anak-anak. Iri dengan teman sekantorku. Suaminya tampan, penghasilannya tinggi, sering jalan-jalan, punya mobil dan rumah yang bagus, anak-anak yang lucu,pakaiannya bagus-bagus, tidak sepertiku, berbeda 180 derajat.

"Ahh sedang apa ya dia?" – Ingin menyapa di BBM, tapi takut ketahuan istri dan anaknya.

Kereta melaju dengan cepatnya meninggalkan Yogyakarta. Kota pelajar tempat kami menuntut ilmu, tempat kami bertemu dan menjalin persahabatan sekaligus merajut kisah cinta. Cinta yang tidak pernah diresmikan, tidak pernah diungkapkan namun sangat mesra, erat, dan melekat di memori. Sahabatku saat kuliah, orang yang selalu ada disampingku, membantuku, memperhatikanku, mengurusku saat sakit. Hari ini 15 tahun lalu dia mengantarku untuk merantau di Jakarta, mencari pekerjaan impian dengan harapan gaji yang besar. Sesampainya di Jakarta, kami berpisah begitu saja. "Sampai ketemu lagi, semoga berhasil!" katanya. Perasaanku saat itu mengatakan, aku tidak akan bertemu lagi dengannya.

Jika kuceritakan kisahku kepada temanku, mereka akan berkata "Wah, sayang sekali, kenapa bisa begitu? Memang tidak bisa dihubungi?" Dan seterusnya.

Advertisement

Kulewati hidupku betahun-tahun bagaikan arus sungai yang terus mengalir, bertemu teman kerja, dilamar, menikah dan memiliki 3 orang anak dengannya. Tidak terasa waktu cepat sekali berlalu. dan aku berubah. Tidak lagi secantik dulu. Tidak lagi bahagia seperti sebelum menikah dulu. Seperti bukan aku. Uang dan uang itulah yang selalu kucari. Anak-anak? Biarlah ada papanya ini. Aku sibuk. Harus bekerja terus. Untuk uang.

Facebook. Apa itu? Rekan kerjaku semua membicarakannya. Aku tidak mengerti. Katanya bisa mencari teman lama di sana. Kucoba coba. Pelajari, buat akunnya. Ketemu. Itu dia!. Cinta lamaku. Sahabatku. Di foto albumnya, wajahnya masih seperti dulu, bahkan terlihat lebih tampan, dan yang jelas lebih segar daripada suamiku. Tampaknya karirnya cukup sukses, tergambar dari foto-fotonya, ada pesta, makan-makan, jalan-jalan ke luar negeri. Kukirim pesan, tanya kabarnya, minta nomor kontaknya. Dan dia pun membalasnya.

Kami janjian untuk bertemu lagi, pikiranku melayang-layang, tidak bisa tidur. Semalaman aku terbenam dalam kegelisahan, "Seperti apa rupanya sekarang?" Pikirku.

Aku menangis, kemana saja dia. Kataku. Dia menjawab "Waktu tidak bisa diulang, aku punya keluarga dan kamu juga. yang sudah berlalu biar saja berlalu."

"Tidak bisa" kataku. Aku tidak bisa melupakannya. Dan meminta menjalin hubungan dengannya, tidak usah ada yang tahu. Asal aku bisa melepaskan kesedihan dan penderitaanku selama 15 tahun tanpa kabar darinya. Cukup jawab sapaanku sebentar saja melalui BBM atau mendengar suaranya di telepon akan lebih baik lagi, Aku ingin menebus penyesalanku dulu. Begitulah hingga sekarang. Cintaku pada sahabatku, kini menjadi perselingkuhanku.

Jangan hakimi aku. Aku juga mau hidup normal dan bahagia seperti orang pada umumnya. Tapi sayangnya kisahku berbeda. Certita hidupku tidak sama dengan orang lain. Dan tidak harus juga menjadi sama. Pilihan ada di tangan kita sebagai manusia, hanya mampukah kita berpikir dan mengambil pilihan yang bijak. Bijak menurut kaidah dan norma yang berlaku di masyarakat pada umumnya. Semua untuk tujuan yang mulia, memeproleh kebahagiaan dalam menjalani titipan kehidupan dari Tuhan. Kebahagiaan bagi diri sendiri dan juga orang lain di sekitar kita.

Inilah langkah kakiku. Jika Anda tahu jalan yang lebih baik, buatlah langkahmu sendiri. Jangan ikuti aku. Pada akhirnya biarlah yang Maha Kuasa yang menimbang benar dan salahnya.