Kata mereka cinta itu datang karena terbiasa,

Aku selalu tersenyum bila ingat dulu aku habis-habisan menyangkalnya. Dan kini aku sendiri yang merasakannya. Semua terjadi padaku seakan-akan Tuhan memberitahu bahwa anugerah cintanya sungguh luar biasa. Sekuat apapun kau coba untuk mencegahnya, bagai air ia tetap akan mengalir dari celah-celah yang ada.

Kami hanya sering bersama, berbicara, bercanda, tertawa, dan beradu argumen yang kadang tidak terlalu penting. Namun itu yang membuat kami semakin dekat.

Yaa walaupun aku harus menelan pil pahit dirinya telah termiliki. Aku menikmati kebersamaan kami setiap harinya.

Dimana aku bisa menatap dengan puas senyum manis yang tersungging dibibirnya. Dimana aku bisa berdua dengannya dalam waktu yang lama.

Advertisement

Salahkah aku bila aku mulai jatuh cinta?

Kurasa dia mungkin tahu seberapa besar aku mengaguminya. Meski hanya sebagai sahabat yang menemaninya mengusir sepi dan teman berbagi saat ia dirundung sedih. Tak mengapa karena bersamanya saja sudah membuatku begitu bahagia. Bagiku tak perlu aku memilikinya karena suatu saat aku akan kehilangannya. Terlebih aku sangat merasa egois bila aku merusak yang telah ada.

Sungguh aku bingung mengapa Tuhan menggariskan kisah ini dalam hidupku. Sungguh aku sakit, tapi aku belajar bagaimana menghargai cinta yang sudah ada.

Bahwa cinta bisa datang kapan saja, bahwa cinta mampu membuat seseorang lebih kuat, bahwa cinta mampu membuat kita berkorban lebih dari segalanya, dan bahwa cinta mengerti bahwa cinta tidak egois dengan harus memiliki segalanya.

Entah apa yang nanti akan terjadi. Aku hanya membiarkan ini berjalan sebagaimana mestinya tanpa merusak yang telah ada. Persahabatan tetaplah persahabatan. Aku akan tetap jadi sahabatnya seperti biasanya, tak pernah ada yang berubah meskipun dihati aku mencintainya.

Biar ku simpan jauh dilubuk hatiku dan berpura-pura seakan-akan tak pernah ada.

Biar ku habiskan waktu ini bersamanya dan biarkan rasa ini pudar dengan sendirinya meski aku tahu itu tak akan pernah terjadi.

Semoga Tuhan memberikan jawaban, apa yang harus kulakukan untuk mengusir rasa nyamanku pada sosoknya.