Aku mencintai seseorang dan memang benar ini adalah cinta pertamaku. Cinta itu memang indah dan itu benar adanya, ini awal bagaimana aku mengenal cinta, ya orang bilang konsekuensi mengenal cinta itu patah hati. Dan ketika bagaimana aku mengambil keputusan untuk mengenal cinta tentu itu sudah sepaket dengan konsekuensinya.

Dan ini cinta pertamaku dengan menajlin hubungan jarak jauh atau yang biasa disebut LDR. Bagaimana bisa aku melewati semua ini, aku hanyalah perempuan dengan sedikit pengalaman tentang cinta. Orang bilang LDR itu hanya mampu dijalani oleh pasangan hebat. Bagaimana tidak? Saling percaya, saling mengerti, dan harus bisa mengalah satu sama lain itu adalah kunci. Dan semua terjawab oleh senja.

1590 kali matahari terbenam, masih sama aku menantimu dalam senja karena kita hanya bisa memandang langit yang sama. Namun senja menghilang ditelan mendung, semua berubah dan tak lagi sama. Aku tetap di sini menunggu senja dengan perasaan yang sama, namun tidak denganmu. Kamu datang menghadirkan mendung bersama kilat.

Aku berusaha tetap mengalah, namun kau yang tak pernah mau salah, semua berubah! Kau sudah tidak dengan perasaan yang sama, kamu menghilang dengan dingin dengan senyap yang mampu membuatku untuk terus tetap bertahan, kemudian kau datang dengan manisnya ucapmu, ''aku mencintai sahabatmu." Tanpa menunggu apa jawabku, cinta itu pergi tanpa alasan dan kata perpisahan.

sungguh aku tidak mengerti mengapa senja kita diakhiri oleh ucap manismu itu, sungguh kamu adalah patah hati terbaikku, patah hati di cinta pertamaku. Apakah aku menyalahkan cinta? Apakah aku menyalahkan kodratnya mengapa aku bisa mencintainya? Tidak.

Advertisement

Karena manusia yang sesungguhnya mampu mengenal cinta adalah manusia yang mengerti bagaimana hati dan logika itu bersanding untuk saling memahami. Bagaimana ia mampu bertahan di patah hati, bukan untuk saling menyalahkan dan mencari kesalahan. Cinta dan patah hati itu mendewasakan, percalah!