Pernahkah kau merasakan cinta dengan perjuangan bersama namun kau tak bisa bersatu karena peraturan yang berlaku?, aku pernah merasakannya. Ini menyakitkan. Ingin protes tapi dengan siapa. Ingin merubah, rasanya tak mungkin. Tak bisa juga kita menyalahkan Tuhan.

Kita hidup dalam negara yang penduduknya terkotak-kotakan. Terutama dalam bidang agama. Itu yang menyulitkan ketika kita jatuh cinta terhadap orang yang berbeda keyakinan, saat akan berproses ke jenjang lebih serius akhirnya gagal dan aku sering mengalaminya. Sebagai manusia yang terlahir dengan berkeyakinan minoritas, sulit bagiku untuk memiliki pasangan yang beragama sama. Ada namun terkadang tak sejalan. Kebanyakan yang perbeda justru memiliki kenyamanan yang mendalam.

Beberapa tahun silam aku di pertemukan dengan lelaki yang sangat membuatku nyaman. Laki-laki yang sangat mengerti aku. Dengannya, aku tak harus menjadi orang lain. Dengannya aku menjadi diriku sendiri tanpa rasa gengsi. Diapun menerimaku dengan segala kekuranganku. Hubungan kami berawal dari sebuah perkenalan antar teman. Kau adalah salah satu dari teman seangkatan. Awalnya aku tak mau tertarik padamu, dan aku sengaja menjaga jarak denganmu ketika aku mulai merasa ada rasa di dalam hati. Rasanya sedikit sakit, karena merasakan hal penolakan dari dalam hati sendiri. Bayangkan kau mencintai seseorang, dan orang tersebut mencintaimu tapi kau tak mampu bersama karena sebuah perbedaan besar, yaitu tembok keyakinan.

Aku selalu menghindarimu, tapi aku selalu merasa Tuhan mempunyai rencana untuk kita. Dia selalu mendekatkanmu padaku. Suatu ketika kita dipertemukan dalam sebuah acara workshop tentang penulis-penulis ternama. Aku tak menyangka, lelaki seganteng kamu mau mengikuti acara tersebut. Aku datang sendiri dan mendapatkan kursi nomor 19 dan tak pernah kusangka yang menduduki kursi nomor 20 adalah kamu yang artinya kita duduk sebelahan. Itu pertama kalinya aku sadar, bahwa Tuhan merestui jalan kita. Karena sebelum itu, sebenarnya antara kita sudah sama-sama memiliki rasa, hanya aku yang selalu menghindarimu. Kau selalu mengajakku keluar, dengan banyak alasan. Ada yang dengan alasan mengajak nonton, makan, atau hanya minta menemanimu kerumah salah satu temanku. Dan aku tahu, itu semua hanya caramu untuk mendekatiku. Saat itu, aku hanya takut rasaku akan tumbuh terlalu besar padamu. Karena semenjak awal aku mengenalmu, aku sudah mulai menyukaimu. Tingkahmu yang cool tapi selalu lucu. Kau selalu punya bahan pembicaraan yang mampu menarikku untuk selalu nyaman berlama-lama dengamu. Sikapmu yang sederhana, dan wajahmu yang menarik tak pernah membuatku bosan untuk melihatmu. Dari awal pertemuan itu, kita semakin dekat, aku tak lagi bisa membendung perasaanku. Kurasa, kau juga sama. Akhirnya 3 bulan setelah pendekatan kita. Di suatu malam yang menurutku malam yang paling indah waktu itu, kau mendatangi rumahku. Berbincang banyak hal dengan orang tuaku, entah apa maksudmu waktu itu aku belum bisa membacanya. Kau meminta ijin kepada kedua orang tuaku untuk mengajaku keluar dan mereka memperbolehkannya. Kau membawaku ke sebuah pantai yang dekat dengan rumahku. Ketika sampai disana, sudah banyak lilin terpasang di pasir dengan bertuliskan I LOVE YOU. Kau menanyakan padaku, maukah aku menjadi pacarku?. Aku ragu, karena aku takut bagaimana kedepannya nanti hubungan kita?, apakah bisa bertahan atau tidak dengan perbedaan keyakinan ini?. Namun, rasa ragu dengan rasa sayang lebih besar rasa sayangku padamu. Aku merasa ketika kau masuk ke kehidupanku, aku selalu merasa bahagia. Seketika itu aku menganggukan kepala yang artinya iya.

Perjalan kita tak sebentar. Empat tahun setelah ikrar cinta kita. Masalah besar kita muncul yaitu perbedaan keyakinan. Aku dan kamu mulai sering berdebat dimana kita akan berlabuh. Karena di negara ini pernikahan berbeda agama tidak akan disahkan. Orang tua kita masing-masing semakin keras untuk menentang kita. Akhirnya saat mau memasuki tahun kelima kita memutuskan untuk berjalan masing-masing.

Advertisement

Sampai hari ini, aku masih merasakan kenyamanan ketika mengingat kebersamaan dulu. Tapi, aku yakin Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk kita masing-masing. Kau yang kini tinggal beribu kilometer dari tempat yang aku tinggali. Aku masih merindumu hingga hari ini. Baik-baiklah kau disana, semoga kita segera mendapatkan pengganti pasangan yang bisa senyaman ketika kita bersama. Kita tak akan pernah bisa menyalahkan apa dan siapa, karena cinta tak akan pernah tahu jatuhnya dimana. Cinta jatuh bisa disembarang tempat, tak pernah tahu adat, namun selalu nikmat.