Kamu yang selalu menggenangi lautan pikiranku

Entah itu tanya, jutaan rasa atau bahkan sebuah pengharapan yang luar biasa. Aku menyimpannya rapih di dalam sana. Terkadang semua itu terasa akan membuncah meluap tak tahan dengan getarannya. Namun aku selalu berusaha menahannya, ku kunci ku gembok ku halangi dengan banyak papan yang setidaknya akan mampu menghalangi tempat dimana aku menyimpan semua khayalan tentang dirimu. Dan aku harap setidaknya aku dapat merasa lupa sejenak akan dirimu. Namun aku selalu gagal untuk itu, lagi lagi kamu yang selalu menggenangi fikiranku.

Ya, kamulah yang membidikku

Kamu telah membidik dan melepaskan panah kearahku. Dan dengan suka relanya aku menancapkan panahmu lebih dalam. Dan aku terlena dengan kehadiranmu. Aku terlalu mengharapkanmu sehingga aku lupa akan rasa sakit yang mungkin telah menghujamku sedari dulu. Andai aku sadar akan hal itu, mungkin seharusnya ku lepaskan segera panahmu itu dan mengobati luka yang belum teramat dalam menderaku. Mungkin itu akan lebih mudah untukku sembuh dari luka atas bidikkan anak panahmu.

Kamu adalah cinta

Advertisement

Ya apalagi selain cinta? Ya, kamu adalah cinta. Cinta yang berbisik dengan lembut memanjakanku disetiap lamunan dalam sunyi. Kita berjumpa dan kemudian saling jatuh cinta, lalu terpisah untuk tidak mengotori kemurniannya dan untuk kemudian aku berharap takdir akan memanja kita dengan mempertemukan kita kembali. Mungkin dengan moment yang tidak pernah kita duga suatu hari nanti. Dan itulah cinta, ia terus bergerak dan tak pernah berhenti, seperti banjir menderai dan kau tak bisa mencegahnya selain kau hanya bisa menganga menyaksikannya. Kamu adalah salah satu alasanku tersenyum, tertawa, menangis dan merasa gelisah, namun aku tetap diam merahasiakannya. Seperti itu lah cinta. Ia ditakdirkan jadi kata tanpa benda, tak terlihat, hanya terasa, tapi dahsyat.

Cinta tak mungkin selamanya menunggu

Cinta bisa saja kadaluarsa bila tak diperlakukan sebagaimana mestinya. Cinta tak mungkin selamanya menunggu, Pengharapan bisa saja akan terus hanya menjadi sebuah pengharapan. Aku tau Tuhan punya jalan cinta untuk semua manusia, hanya saja kita lebih sering memilih jalan yang lebih landai namun menjerumuskan. Karna hal itu aku tak ingin terjerumus karna hanya terburu-buru untuk mengikat sebuah ikatan yang disebut cinta. Dan oleh karena itu pula aku memutuskan untuk menunggumu, masih tentangmu disini, aku menunggumu, namun ya aku tak mungkin selamanya menunggu, aku hanya ingin membunuh waktu yang membuatku sesak dan membuatku merasa penantianku semakin lama dan teramat panjang. Menunggu adalah suatu hal yang mahal bukan? Karena bayarannya adalah waktu. Semoga aku tak salah untuk memutuskan menunggumu. Namun akupun perlu bersiap diri untuk menerima kenyataan apabila ternyata kamu telah tertuju pada orang lain dan bukan diriku. Semoga penantianku terbayarkan, yaa.. semoga. Karena sungguh tak ada rumus pasti dalam memutuskan untuk menanti atau melepaskan.

Inilah perasaanku detik ini

Aku ingin pergi, tapi aku merasa takut. Aku tak mengerti apa ini sungguh sebuah kesetiaan? Atau ini hanyalah sebuah kebodohan yang terlanjur kuanggap sebagai kesetiaan?. Hah, takkan pernah habis bila harus ku jelaskan semua perasaanku detik ini. kali ini aku tak dapat mendengar apa kata hatiku sendiri. Entah keputusan ini datang dari hati atau rasa egois yang menghampiri diri. Pertemuan kali ini yang mendadak membuatku gagu. Aku menangkap pesan dari ekspresi itu, entah aku sungguh benar-benar mengartikannya atau mungkin memang aku hanya menerka-nerka?, atau mungkin kita sama-sama tak tau jawabannya apa?. Ada kekuatan yang entah muncul darimana yang memaksaku untuk tetap bungkam. Entahlah kamu mengerti atau berpura-pura tak mengerti atas apa yang kurasakan kini. Namun ketahuilah, aku masih disini, masih terpenjara dalam penjaramu.