Hi Guys. Gue Vhery, dan kali ini gue mau ngebahas soal cinta yang gak pernah menemui kepastian, alias ngambang gak jelas gitu deh. Istilah kerennya 'cinta bertepuk sebelah tangan.'

Ini cerita yang gue angkat dari kisah dalam buku diary SMA gue.

Berawal dari 7 tahun lalu waktu Gue masih SMP kelas 3, gue jatuh cinta kepada seorang cewek yang baru gue kenal saat itu, yah bisa dibilang jatuh cinta pada pandangan pertama. (krik krik bunyi jangkrik).

Dan lebih gilanya nih, cewek anak tetangga gue sob dari Istri pertamanya, semenjak saat itu gue kenalan sama dia, tapi kita jarang ketemu karena sekolah SMP kita berbeda. Waktu itu gue masih ingat saat main Billiard di rumah Bokapnya dia.

Bokapnya punya warung kecil gitu deh dengan fasilitas meja billiard gitu. Setiap hari pas pulang sekolah gue selalu main ke sana sambil main billiard tapi gak pernah ketemu dia lagi.

Advertisement

Suatu hari gue lewat depan rumahnya dan gue lihat 2 anak cewek duduk-duduk di sana. Tanpa banyak pikir lagi gue langsung kesana dan pura-pura ngambil Stick billiard. Dan ternyata itu cewek yang gue taksir sob.

Gue : Ehhh lo kan yang lalu itu kan?

Doi : Iya, Lo apa kabar ?

Setelah lama cerita-cerita dengan dia gue langsung minta no HP-nya, setelah di kasih dari situlah awal gue mulai akrab sama dia. Mulailah kita chating-chating di SMS, dulu gak ada yang namanya Blackberry sob apalagi Android, Hp yang gue pake HP jaman penjajahan Jepang yang biasa dipakai lempar anjing galak. hehe.

Sudah lama kita saling kenal dan jalin persahabatan tapi gue belum punya nyali buat bilang suka atau cinta ke dia, soalnya dia saat itu sudah punya pacar sob.

Apess deh nasib gue! Eits, tapi jangan salah dulu sob, gue orangnya pantang menyerah. Gue selalu kasih perhatian ke dia, nanyain 'Kamu udah makan belum ?' 'Kalau belum, makan dulu sana, Ntar sakit lagi' Perhatian-perhatian gak jelas gitu deh. Maklum masih cinta monyet. hehehe

Singkat cerita gue sudah tamat SMP dan lanjut ke pendidikan SMA lagi, saat itu gue baru kelas 1 SMA, gue juga masih sering komunikasi sama dia, curhat seperti biasa gitu deh. Nah pas gue naik kelas ke kelas 2, si doi baru tamat SMP dan saat itu juga gue dapat kabar bagus sob, si Doi lanjut pendidikan di SMA tempat gue sekolah.

Dan saat itupun kita satu sekolahan, berhubung bokap gue dan bokapnya dia berteman baik dari kecil. Gue dan si Doi sering berangkat ke sekolah bareng, naik motor bergiliran, kadang gue pake motornya kadang pake motor gue sendiri juga.

Di sekolah juga kita sering sama-sama, makan ke kantin waktu jam istirahat, kalau jam masuk kelas itu mah namanya bolos, bisa-bisa ditangkap pak Mus (satpam yang paling menyeramkan di SMA kala itu)

Singkat kata si Doi sudah putus sama pacarnya waktu itu sob, dia ceritain semua Kronologis kejadiannya bagaimana dia bisa putus itu sama gue sob (Gue berasa sudah kayak polisi sob yang lagi introgasi korban, hehe). Gue tenangin dia, gue hibur dia biar mau senyum dan ketawa lagi sob (gak apa jadi Sule OVJ satu hari).

Akhirnya hari demi hari kesedihannya perlahan-lahan mulai hilang sob.

Saat itu gue dapat signal Sob (Bukan signal HP ya), dia kasih perhatian lebih ke gue. Wah gue sempat berpikir kalau dia ini sudah kasih lampu Hijau ke gue.

Saat itu pun gue berpikir gimana caranya bilang ke dia kalau gue ini Suka dan Sayang ma dia ya? (Lo jangan ikut mikir yaa sob, biar gue aja yang mikirin)

Dari sehari, dua hari, tiga hari, sampai seminggu gue susah tidur, GEGANA (gelisah galau merana) mikirin moment yang tepat buat "katakan cinta"

Eh nasib sial datang menghampiri gue, pas sudah dapat moment yang tepat dia kasih kabar buruk ke gue sob. Dia bilang sudah dapat pacar baru di SMA, dan ternyata itu cowok adalah kakak tingkat gue sob.

Saat itu harapan gue mulai pupus sob, gue sering murung, menyendiri, jarang makan, jarang keluar rumah, jarang mandi, dan juga jarang tidur sob. Sampai-sampai orang tua gue menanyakan sebab dan akibat kenapa anak kesayangannya ini jadi begini.

Sejak itupun gue cerita ke Nyokap soal masalah yang gue hadapi (Bukan soal ujian ya sob)

Nyokap kasih gue semangat, she said "Hilang satu tumbuh seribu, Dunia tak selebar daun kelor nak. Jangan menyerah sebelum berjuang, kalau kamu sayang dia perjuangkan cintamu ke dia sebelum janur kuning melengkung".

Tanpa dia tahu apa yang sebenarnya gue rasakan saat itu, dan gimana hancurnya perasaan gue.

Dengan berat hati gue kasih ucapan selamat ke dia, gue tau kalau cinta tidak selamanya harus memiliki. Saat itu pun gue sering merasa cemburu saat di sekolah melihat dia sama pacar barunya, saat pulang sekolah di antar pacarnya, saat makan di kantin sama pacarnya,

Hati gue sudah kayak kena kanker stadium 3, jantung gue berdetak begitu cepat kayak habis lari maraton sob.
Tapi itulah kenyataan yang harus bisa gue terima dengan hati yang lapang.

Singkat cerita gue sudah tamat SMA dan si Doi baru kelas 3 SMA kala itu, sejak saat itu gue tinggalkan si Doi ke pulau dewata Bali untuk melanjutkan kuliah gue. Selama gue kuliah di Bali gue jarang chat sama dia apalagi telepon, gue gak mau dibilang perusak hubungan orang, kayak duri dalam daging gitu deh.

Lama tidak dengar suara merdunya, iseng nelfonin si Doi, eh dapat kabar gembira awalnya saja. Si Doi cerita kalau dia sudah putus sama kakak tingkat gue yang lalu itu.

Ya jelas aja gue senang dong dengarnya secara gue kan pengagum rahasianya (meski tidak pernah dia tau…..krik krik krik jangkrik lewat) Beberapa saat kemudian dia cerita lagi kalau dia sudah punya gebetan baru lagi seorang Polisi.

Seketika suara gue yang tadi kenceng kalau ngomong kayak balapan Moto GP sedikit demi sedikit menjadi lebih pelan. Pelan. Dan sunyi senyap kayak perayaan Hari Raya Nyepi.

Beberapa hari Kemudian gue SMS si Doi tentang gebetannya itu, kepoin dia lah apa namanya. Dan ternyata sob mereka katanya sudah jadian dan udah jalan beberapa hari. Di situ kadang saya merasa sedihhh sob.

Tapi gue harus tetap tegar sob, gue harus tabah, tawakal dan ikhlaskan dia bersama orang lain, seketika itu juga gue angkat kepala gue yang tadi nunduk kayak gak punya tulang sob, dan lebih menyakitkan lagi pas gue angkat kepala gue tertimpa tai cicak sob, siapa coba yang gak merasa jengkel dan emosi saat itu.

Kalau tertimpa bidadari sih gak apa apa, bahkan 72 bidadari pun nimpa gue, gue rela sob. Gua mah gitu orangnya.

Karena begitu marahnya gue lempar itu cicak dengan tongkat kera sakti, sampai terjatuh ke lantai, dan tanpa basa basi lagi gue pukulin si cicak sampai babak belur dan akhirnya tewas di tempat saat itu.

Sungguh menyesal gue saat itu sob, setelah kehilangan sang pujaan hati, gue juga harus kehilangan si cicak yang udah jaga kost gue dari incaran nyamuk nakal selama gue kuliah di Bali. Maafin kakak ya cicak semoga kamu mendapat tempat yang lebih baik di atas sana. Eh salah cicak kan tempatnya emang di atas ya. Maksudnya gue di surga sana.

Kembali lagi ke pokok permasalahan Sob, sudah lama gak pernah komunikasi sama si Doi lagi sekitar 8 bulan gue gak ada dengar kabar darinya. Eh si Doi muncul lagi dan bilang ke gue kalau dia mau lanjut kuliah di Bali.

Sejak saat itu gue ingat masa lalu lagi, perasaan gue ke dia yang sudah lama gue kubur dalam-dalam, gue terpaksa gali lagi, sob.

Singkat cerita dia sudah di Bali dan sudah mulai aktif kuliah, Si Doi juga saat itu menjalani LDR sama pacarnya, selang beberapa bulan hubungan mereka semakin di ambang jurang dan beberapa bulan kemudian hubungan mereka bubar karena adanya orang ketiga (yang Jelas orang ke 3 itu bukan gue yaa sob).

Tidak lama dari kejadian putus itu si Doi mulai sering menyendiri, jarang bicara, jarang makan, gak pernah senyum, suka marah-marah gak jelas gitu. Ehhhh selang beberapa minggu si Doi telfon gue kalau dia mau putusin kuliahnya dan kembali ke kampung halaman.

Adududuuuhhhhhh….. Boleh putus cinta, asal Jangan putus kuliah. Seharusnya si Doi punya prinsip hidup seperti ini. Tapi si Doi tetap pada pendiriannya, keras kepala, dan apa maunya harus dituruti.

Sejak Saat itu gue bantuin dia kabur dari rumah tantenya dan gue juga terpaksa ikut pulang bersamanya, tapi gue cuma satu minggu saja di kampung saat itu.

Singkat kata gue sudah berada di Bali lagi, dan gue dengar kabar burung kalau si Doi sudah punya pacar baru lagi. Sejak saat itu gue urungkan niat gue ke dia, gue mulai jalani hidup tanpa harus ingat dia lagi. Bagi gue kebahagian dia yang lebih penting buat gue.

Gue juga tidak harus bersamanya untuk buat dia bahagia, yang terpenting sekarang Si Doi bisa bahagia dan mendapatkan laki-laki yang lebih baik yang bisa menuntunnya menjadi lebih baik lagi.

Berakhirlah sudah cerita ini sob.

Seperti berakhirnya perasaanku ke dia sob.

Gue memang bodoh, gue tidak pernah berani nyatain perasaan gue ke dia.

Itulah gue sob, laki-laki yang tidak punya rasa percaya diri.

THE END