Sebelumnya, aku percaya bahwa cinta membutuhkan pertemuan yang nyata. Aku percaya bahwa cinta yang benar, membutuhkan tatap mata, genggaman tangan dan mungkin juga pelukan. Namun, setelah aku mengenalmu, kepercayaanku berubah. Aku telah terbiasa dengan sapaan mesramu melalui pesan singkat atau sapaan hangatmu di ujung telepon yang menemaniku dari malam hingga menjelang pagi.

Aku merasa salah karena jatuh cintanya aku kepadamu, kurasa terlalu cepat.

Dari awal, kita berjanji untuk sebisa mungkin tidak ada yang jatuh cinta. Sebab kita tahu, jika kita terjebak situasi, semua hanya ilusi. Lalu, mengapa mimpiku kau beri harap?

Terkadang aku menikmati mimpi-mimpi yang ceritanya kubuat sendiri, sesuka hati. Aku pernah memimpikan menghabiskan hariku denganmu di sampingku, sama-sama menikmati senja dengan kopi buatanku. Juga mungkin kecupan manis saat gerimis, sebelum tidur. Betapa indah cerita itu, sehingga aku kadang tak ingin tersadar dari mimpi-mimpiku.

Apakah kamu ingin bertemu denganku atau sekedar merindukanku menemanimu menghabiskan malam? Ingin aku bertanya, namun apa daya, sebelum aku berkata kau memilih untuk menyudahi kita. Ketika sedang menulis paragraf ini, aku sedang merindukanmu.. Aku berharap kau akan datang, karena aku selalu menanti. Datanglah, aku menantimu dikala senja dengan gerimis menetes, di sudut kedai kopi di bagian Selatan, Jakarta.

Advertisement

Jika kau datang menemuiku di sana. Aku akan memesan 2 cangkir kopi hitam untuk kita berdua. Agar kamu mengerti, sepahit-pahitnya kopi hitam, ia tak sepahit takdir kita.

Ketika mengingatmu tiba-tiba, entah mengapa aku hanya merasa menjadi perempuan paling tolol yang pernah ada. Perempuan yang jatuh cinta pada seseorang yang selama ini hanya bisa ia nikmati sebatas suara dan tulisan. Perempuan yang mencintai seseorang yang selalu mengingatkan untuk jangan pernah jatuh cinta kepadanya.

Kamu datang dan menawarkan banyak sekali mimpi padaku, kau sediakan pelangi yang menjanjikanku keindahan yang sempurna. Kau melukis pelangi kita, yang baru kusadari ternyata semu. Yang aku tahu, aku hanya merindukanmu. Segala tentangmu, aku rindu.

Perihal mimpi yang kau tawarkan, mungkin seperti kebahagiaan sesaat lalu pergi tanpa jejak. Serupa kau, ya? He he he. Semakin kau jauh meninggalkanku, aku malah tidak pernah ingin memejamkan mataku. Karena kau lebih nyata di sana, di dalam gelap mataku.

Rindu yang kurasakan semakin benci kurasakan, semakin sakit kurasakan, karena aku sama sekali tidak bisa memelukmu, menggenggam tanganmu, menatap matamu atau bahkan hanya sekedar mendengar suaramu. Karena aku tidak lagi dapat memastikan kamu baik-baik saja di sana.

Kamu pernah memberi tahu aku bahwa nyatanya apapun yang jatuh pasti menyakitkan. Dan jatuh cinta padamu, telah berhasil membuktikannya dan membuat aku percaya pada apa yang pernah kamu katakan.

Setiap aku merindukanmu, aku selalu berandai-andai. Seandainya kamu ada di sampingku, seandainya kamu benar-benar ada di sini, aku akan memelukmu dengan sangat erat dan mengajakmu menentukan akhir dari cerita kita. Juga, seandainya kamu ada di sini denganku, aku akan bertanya; maukah kau tetap tinggal dan berjanji tidak akan meninggalkanku?

Entah mengapa, semua waktu yang kita lewati bersama, caramu membuat aku tertawa, suaramu yang menenangkanku, sungguh tidak mudah aku lupakan. Juga kenyataan bahwa kamu tidak mencintaiku, itupun sama sekali tak mungkin bisa aku lupakan.

Apakah kau pernah membayangkan ada aku di sampingmu? Ada aku yang nyata memelukmu dengan hangat? Apakah kau pernah berharap di suatu pagi, kamu sedang berada di kotaku, dan kita bisa menikmati senja bersama?

Aku tak pernah percaya kau membuatku jatuh cinta tanpa menjelaskan kau nyata. Tapi entah mengapa, karenamu dan padamu, aku merasa takut kehilangan.

Aku tahu, memang sejak awal kau melarangku untuk jatuh cinta padamu dan aku sangat mengerti harusnya tidak perlu ada cinta di antara kita. Namun, Demi Tuhan, bukan inginku juga melakukan kesalahan ini. Rasanya aku ingin sekali memutar waktu, memutar balikkan fakta. Aku ingin tidak pernah terjadi perkenalan kita, aku ingin tidak pernah jatuh cinta padamu dan aku tidak pernah ingin merindukanmu yang telah jauh meninggalkanku.

Ingin sekali rasanya aku menjadi penyidik. Kau kuperiksa sebagai saksi, yang mungkin menjadi tersangka. Aku telah menyiapkan beberapa pertanyaan! Kalau kau baca ini, siapkan jawabannya dan latihan untuk menjawabnya, ya?

Apakah kamu tahu rasanya jadi aku yang setiap hari menatap ponselnya, berharap namamu yang muncul disana?

Apakah kamu tahu rasanya jadi aku yang hanya bisa memperhatikan semua akun sosial mediamu hanya untuk mengetahui keadaanmu?

Apakah kamu tahu bagaimana gilanya aku saat merindukanmu, hanya bisa mendengarkan rekaman suaramu bernyanyi?

Apakah kamu tahu betapa hancur dan perihnya hatiku saat menderita merindukanmu yang mungkin sama sekali tidak mengingat aku?

Apakah kamu tahu tersiksanya jadi aku yang mencari kamu kemana-mana, yang bertanya kesana-kemari, dan akhirnya tahu diri untuk tidak menghubungimu lebih dulu?

Apakah kamu sudi menjadi aku yang terus menanti, selalu berharap dan sangat percaya bahwa kamu akan kembali dengan kehadiran yang lebih nyata?

Aku seperti tengah di persimpangan jalan. Mengejarmu yang telah menjauh atau diam menantimu luluh. Lihat betapa tololnya aku! Keduanya jelas menyakitkan hatiku, namun tetap menjadi pilihan karena itu tentang kamu.

Saat ini yang bisa aku lakukan hanya menunggu. Menunggu kau mengingatku, lalu menghubungiku. Aku menunggu. Satu hari. Dua hari. Lima hari. Satu minggu. Sampai satu minggu lagi. Dua minggu lagi, tak apa-apa. Tiga minggu lagi, tetap aku tunggu. Satu bulan kemudian mungkin. Dan aku akan terus menunggu hingga mungkin kamu kembali sudi menyapaku. Sungguh sulit bagiku untuk menyadari tak ada lagi percakapan di antara kita. Kau benar-benar menganggapku asing dan meyakinkan dunia bahwa tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita berdua.

Banyak hal yang membuat aku merindukanmu. Aku selalu berharap kamu akan melakukan hal yang sebelumnya kamu lakukan, kamu akan memperlakukanku semanis hari-hari sebelum kau meninggalkanku. Namun harap hanyalah harap, karena nyatanya, untuk sekedar mengingatku saja mungkin otakmu tak sudi, apalagi hatimu.

Kepadamu yang membuat aku jatuh cinta tanpa perjumpaan nyata, ajarkan aku seberani dirimu, yang meninggalkanku tanpa aba-aba. Membiarkan aku memungut sisa-sisa kenangan kita yang sebenarnya sudah tak bersisa.

Hujan di Jakarta dan Senja di Bandung, tidak lagi bisa aku nikmati.

Rasanya aku ingin ke kota itu saja.

Kenapa, ya? Biar ketemu kamu aja, sih.

Boleh?

Tunggu aku di sana, ya. Karena tidak mungkin kamu yang ke sini.