Cintaku kepadanya melampaui jangkauan kata. Aku cuma mampu mengecupkannya dengan mata."
-Aan Mansyur.

Banyak yang bisa kita bicarakan tentang hal ini. Tentang bagaimana sakitnya, bagaimana indahnya atau seberapa membingungkannya ia.

Contohnya, aku. Aku jatuh cinta dengan seorang perempuan yang tak tepat sebulan aku kenal, lalu berpisah. Barangkali, di tempat lain, satu detik pun bisa terjadi hal tersebut.

Suka dan benci sebenarnya adalah paket yang kita namakan dengan cinta. Aku selalu membencinya, selalu dan jarang-jarang menyukainya. Tapi itulah yang membuatku selalu jatuh dan akhirnya semakin dalam. Kebencian itu bukanlah perasaan yang berupa ingin membunuh atau menyakiti. Tidak, itu semacam rasa yang mengharapkan perhatian, kepastian, dan pengertian lebih.

Hey, kamu.

Advertisement

Sebenarnya tak tahu apa-apa tentang perasaanmu. Berbagai cara dan pertanyaan yang bodoh menelusuri kebodohan itu. Tapi nihil. Tak ada kepastian. Aku masih terjebak dengan prasangka dan keinginan dalam mencari tahu. Dan itu fatal keakuratannya dalam menarik kesimpulan. Tapi aku juga terlalu takut menggunakan akal sehat dan menyingkarkan prasangka dan keinginan karena hal itu dapat membawa kearah yang tak kuinginkan. Aku terjebak.

Aku pernah berbingung ria dengan diriku sendiri. Aku pernah membuat janji, tak akan menghubungimu lagi. Selamanya. Tapi selalu terlangggar.

Aku selalu berpikir, aku tak cukup baik untuk mu. Maksudku, I am an asshole, am i?

Malam ini aku menghubungimu lagi, dan meninggalkan kesan yang membosankan. Kurasa, sudah waktunya aku tidak akan menghubungimu lagi.

Bye (again).