Sejak semua berakhir begitu saja, segalanya pun hilang. Kamu memang bukan satu-satunya sumber kebahagiaanku, tapi kepedihan atas kehilanganmu telah hancurkan segala kebahagiaan yang ada. Berhari-hari aku menangis, mataku sembab dan kian mengecil, wajahku semakin kusam, bibirku bungkam dan aku selalu suka untuk menyendiri agar aku mampu puas untuk menangis dan meronta tanpa ada yang melihatku.

Berhari-hari aku terus meratap, membenci kebodohanku ketika aku lagi dan lagi terluka karena cinta, mengutuk diri sendiri dengan segala caci dan hina dan ketidakberdayaanku untuk melupakanmu. Hingga saat aku mampu untuk melangkahkan kakiku kembali, aku masih terus bermimpi jika kamu akan kembali, meski tak pernah sepatah kata pun kau katakan jika kau akan kembali.

Aku melangkah untuk lari, lari dari kepedihan mendekatkan diri pada kesibukan hingga tak ada 1 waktu pun yang ku dapat untuk sekedar merebahkan tubuh ini. Kujalani segala kesibukan yang ku pilih sebagai caraku untuk melupakanmu tapi sialnya sedetik pun aku tak pernah bisa melupakanmu, aku terus merindukanmu, bahkan dalam sujudku aku tak pernah berhenti menangis memohon kepada-NYA agar kau kembali. Aku merasa gila, seolah tak ada celah sedikitpun untuk melupakanmu.

Aku sungguh tak mengerti cinta semacam apa yang aku rasakan, ketika dengan begitu mudah kau meninggalkanku aku masih terus merindukanmu, mencintaimu hingga menjadi gila seorang diri. Ketika dengan mudah kau menganggap aku tak ada, aku masih terus mengharapkan kamu kembali disampingku, mendampingku lalui hari-hari yang takkan indah tanpa dirimu. Ketika dengan sangat mudah kau tertawa di atas cintaku yang terabaikan, aku masih terus mendoakan kesehatan dan kebahagiaanmu disana.

Cinta sendiri, cinta yang hanya ku nikmati sendiri, kurasakan sendiri dan ku simpan sendiri, sebab kamu yang ku cinta tak pernah melabuhkan hatimu di dermaga hatiku. Aku yang terus mencinta padamu yang terus berlalu, namun tak pernah lelah untuk berharap, menanti tanpa batas.

Advertisement

Aku sungguh tak mengerti apa yang membuatmu tak bisa bertahan dengan cinta sebesar cinta yang kumiliki. Biar kujelaskan bagaimana setiap pagi kala terbangun di pagi hari aku selalu mengucapkan selamat pagi pada fotomu yang masih kupampang di layar HP-ku, lalu berdoa untuk kebahagiaanmu, lalu larut dalam rutinitasku yang tak juga sedetik pun tanpa mengingatmu, setiap hal mengingatkan padamu dan membuat aku semakin merindu, lalu tangan-tangan ini begitu tangkas untuk mencari-cari tentangmu lewat semua media sosialmu yang aku tau dan termenung karena sepertinya kau lebih baik tanpa aku sementara aku semakin terpuruk tanpamu, setiap malam sebelum tidur selalu kutitipkan salam pada bintang-bintang di langit malam, saat hujan turun panas terik aku khawatir kamu kedinginan dan kepanasan lalu memohon pada-NYA agar DIA senatiasa menjaga mu dari hujan dan teriknya mentari, agar tubuh kekarmu tak merasakan dingin yang menusuk dan kulitmu tak merasakan sengatan terik matahari.

Begitu aku terus menjalani hariku dengan mencintaimu yang kini bukan lagi milikku. Bahkan dulu saat kau masih milikku, aku tak pernah memasukkanmu dalam jeruji sekalipun rasa khawatir selalu menyerangku saat kau pergi jauh tanpa aku, membiarkan rindu terus membuncah hingga pada akhirnya tanpa sempat kumenatapmu kau memilih untuk mengakhiri segalanya, segala yang telah kau mulai saat cinta sudah terlalu dalam tertanam dalam hati dan doaku.

Wahai kamu yang pernah memberi mimpi indah dan warna baru dalam hidupku, aku sungguh tak percaya jika kau tega menghancurkan semua mimpi yang pernah kita khayalkan, segala rencana indah yang pernah kita sepakati, seakan semua hanya dongeng yang tak berarti. Bahkan sebuah dongeng pun selalu memiliki arti bagi setiap pembacanya, tapi semua mimpi kita, semua rencana kita tak ada arti selain perih dan luka.

Wahai kamu yang pergi meninggalkanku tanpa sempat aku melihatmu, seharusnya kau tau tak ada cinta sebesar cintaku yang tak pernah layu sekalipun berjuta luka telah kau berikan padaku. Wahai kamu yang pernah meyakinkanku untuk menggengam tanganmu dan melangkah bersama lalu pergi meninggalkan luka yang sampai detik ini tak kunjung mereda, sungguh tak tergambarkan cinta yang aku miliki yang kini hanya mampu ku simpan dalam hati.

Wahai kamu yang sampai detik ini tak pernah mampu aku lupakan, aku bukan hanya menyimpan mu dalam hatiku tapi juga dalam doaku dan langkah ini tak pernah terhenti untuk merindukan selain dirimu.