Aku tidak pernah mengerti mengapa bisa-bisanya perasaanku menghancurkan hampir seluruh benteng yang susah payah aku buat sendiri. Kekeliruan kita yang terlalu berani mengambil resiko sebesar ini, sayang. Harusnya dari awal kita paham, akan ada satu orang dari kita yang gagal dan kalah karena keadaan. Apa yang membuat kita begitu percaya diri bahwa semesta tidak akan mampu menaklukan kita? Bagaimana bisa kita begitu percaya diri bahwa tidak akan pernah ada cinta di antara kita, sedangkan banyak hal yang kita lakukan justru membuatnya terasa ada?

Kita berjanji pada diri sendiri dan juga pada hujan yang selalu kita nanti, bahwa tidak akan pernah ada cinta yang nyata di antara kita. Namun kita lupa, bahwa Tuhan adalah Maha membolak-balikkan hati manusia, bahwa terkadang kenyataan tidak selalu sesuai dengan harapan.

Aku tidak tahu dan tidak ingin tahu, apakah hanya aku atau kau juga merasakan hal yang seharusnya tidak kita rasakan? Bagaimana ini, sayang? Aku jatuh cinta padamu. Pada orang yang dengan sangat aku ketahui, tidak boleh untuk aku cintai. Jangan pernah berfikir aku tidak berusaha untuk menghindari dan menghilangkan perasaan ini, setengah mati aku mencoba, sampai gila aku berusaha namun tetap saja aku tidak bisa merubah kenyataan bahwa aku jatuh cinta padamu.

Sungguh, perihal mencintaimu, aku tidak peduli salah atau benar. Tidak peduli baik atau tidak. Aku hanya ingin kamu tahu, aku tidak mengerti apa yang kamu perbuat sehingga aku melanggar janjiku sendiri. Aku mencintaimu, melebihi cintaku pada senja dan kopi. Merenunglah, kau pasti mengerti seberapa berharganya kamu dalam hidupku sampai mampu menyingkirkan posisi tinggi yang dipegang senja dan kopi dihatiku.

Yang aku sukai dari kamu, kamu lebih istimewa dari senja yang selalu aku cintai. Yang aku tidak sukai dari senja, dia sama sepertimu, nyata namun terasa samar karena hadirnya begitu semu. Dan yang aku sukai dari kopi… ia tak sepahit takdir kita.

Advertisement

Sayang, akhir-akhir ini seringkali aku menemukan diriku bingung karena tak tahu harus berbuat apa. Bodohnya aku mencintai seseorang yang selalu membuat aku bertanya; kemana engkau saat baru sebentar saja aku berkedip? Bukan kesalahanmu yang membuat aku jatuh cinta, mungkin kesalahanku yang berfikir semua yang kita punya nyata. Mengapa mencintaimu seolah merupakan kesalahan terbesar? Lalu.. Jika aku melakukannya, seberapa banyak aku harus memohon maaf? Sungguh, kepada siapa aku harus meminta maaf karena terlalu sering melakukan kesalahan terbesar itu; mencintaimu? Dan harus ku kemanakan dosaku mencintaimu, yang sebenarnya akan selalu aku lakukan?

Sekarang aku begitu mencintai keadaan kita seperti ini. Kamu di sampingku, menjadi matahari di siangku, menjadi bulan di malamku. Kamu membuatku tertawa bahkan di saat aku tidak memiliki alasan untuk itu. Perihal kesalahanku yang malah jatuh cinta padamu, aku tak akan menyalahkanmu. Tetapi mungkin suatu hari nanti aku akan menjadi sesuatu yang tidak kau ingini lagi atau aku semisal kopi dalam cangkir yang tak sempat kau sentuh dengan bibirmu, aku pasti mengerti dengan baik bahwa kau tak pernah bermaksud menyakitiku, benar? Aku hanya tahu, kopi yang sudah dingin sepertiku, memang pantas untuk ditinggalkan.

Kau tahu tidak? Rumah yang dulu aku jadikan tempat favorit untuk aku pulang adalah kedai kopi.. namun aku tidak tahu sejak kapan, tempat itu berubah menjadi hatimu. Hatimu tempat aku pulang, rumahku, terbayang kan tersiksanya aku setiap saat aku merasa homesick? Demi Tuhan, kamu merebut senja dan kopi dari seluruh kecintaanku terhadapnya.

Maafkan kesalahan yang telah aku perbuat. Maafkan aku karena jatuh cinta padamu dan menjadikanmu lebih bermakna dari senja-senjaku yang lalu dan dari kopi-kopi yang selalu aku butuhkan. Maafkan aku, karena aku tak pernah mau kau membaca tulisanku, atau menyelinap sedikit saja menikmati karyaku, itu karena aku belum mau kamu tau kesalahan terbesar yang sekarang sangat aku nikmati saat menyadarinya ada.

Sayang, jadi aku harus apa dan bagaimana? Aku tak pernah ingin membunuhmu. Aku hanya ingin menghentikan perasaan menyiksa ini. Aku ingin di suatu pagi, ketika aku terbangun, segala tentangmu sudah bukan lagi urusanku. Bolehkah?

Biarkan waktu dan takdir yang menjawab semua akhir ini. Aku yang bertanggung jawab atas kesalahanku. Biar saja kau tidak mencintaiku. Biar saja senja dan kopi tidak lagi aku kagumi. Biar saja aku yang menanggung semuanya, sebab mungkin, suatu saat kau menemukan kebahagiaan yang bukan aku, tetapi di tempat yang jauh.

Jadi, aku bisa apa? Meski tak sebahagia kau di sana, air matamu bisa kujamin jatuhnya, dengan peluk atau puisiku..