Kata orang, ciuman pertama itu sulit. Aku tidak percaya.

Aku masih menatap tajam wajahmu di foto. Aku mengelus pipimu, bibirmu. Ah, kamu memang benar-benar cantik. Pantas saja banyak orang yang mengejarmu. Aku memang lelaki beruntung bisa mendapatkan gadis sepertimu, Rena.

***

“Rena, sudah hampir sebulan kita berpacaran. Tapi rasanya ada sesuatu yang kurang dengan hubungan ini,” ujarku suatu hari di kelas.

“Kurang apa?”

Advertisement

“Masa kamu nggak ngerti.”

“?” pikirnya.

Sudah puluhan kali mungkin aku bertanya seperti itu kepada Rena. Tetap saja ia tak mengerti. Aku tak bisa berbuat apa-apa bila Rena masih saja seperti ini.

“Ah, loe emang lelaki pengecut. Masa loe nggak berani!” Ledek Gio suatu hari di kelas.

“Gue bingung, masa gue main embat aja. Kan nggak sopan. Harus ada kesepakatan dulu dong dari kedua belah pihak.”

“Haha… berciuman saja harus ada kesepakatan. Dasar cowok aneh,” ledeknya lagi.

Sebal rasanya aku dikatakan cowok aneh. Entahlah, apalagi yang harus aku perbuat supaya Rena mengerti ucapanku. Kami memang polos, tapi Rena lebih polos dibandingkan aku. Meskipun umurnya lebih tua satu tahun dariku. Aku tak bisa memperlakukannya seenak hati. Aku belum berpengalaman untuk itu. Lebih-lebih ia adalah pacar pertamaku. Begitu juga sebaliknya.

Ah, kini sudah hampir lima bulan hubungan ini berjalan. Bisikan dari sana-sini di telingaku semakin melengking keras. Orang-orang menganggapku cowok yang tak punya keberanian. Cowok cemen.

Apakah berciuman itu memang wajib bagi orang yang berpacaran? Aneh juga bila memang seperti itu. Kini aku menjadi seperti Rena. Menjadi manusia yang amat polos. Memang untuk urusan ini, aku tak punya senjata apa-apa untuk dipegang.

“Rena, kamu tau kan orang yang berpacaran itu harus gimana?” tanyaku lagi suatu hari.

“Iya dong tahu. Harus setia dan nggak boleh selingkuh kan.”

Aku kembali mengernyitkan dahi untuk kesekian kalinya. Mulutku rasanya terkunci rapat untuk mengatakan hal itu. Hanya hal itu.

Malam hari, aku amat lelah memikirnya ini, dan mencoba untuk beristirahat sejenak sambil ditemani fotonya di samping bantal tidurku.

***

“Kenapa sih kamu selalu bertanya ini terus?” Tanya Rena agak kesal. Tumben, ia tak seperti biasanya.

“Ya, aku cuma ngingetin aja. Siapa tau kamu sudah tau jawabannya,” sambil menggaruk kepala dengan sedikit berharap.

“Iya, aku sudah tau kok sekarang.”

“Kamu tau dari mana?”

“Ya, tau aja.”

“Yang bener?” tanyaku lagi, meyakinkan.

Aku sangat girang mendengar pernyataannya. Apalagi malam minggu nanti ia mengajakku nonton film. Wah, sepertinya hal itu bakal terjadi.

“Ingat kawan, malam minggu nanti, gue bakal tunjukkin kalo gue bukan cowok cemen,” ujarku pada Gio.

“Alah, jangan cuma ngomong doang. Kalo emang bener, nanti loe ceritain ke gue gimana rasanya. Biar gue tahu omongan loe itu bener atau nggak,” sanggahnya lagi.

“Ah, loe sok tahu amat sih soal beginian.”

“Ya, iyalah kawan. Gue kan udah pengalaman. Loe kan baru kali ini punya cewek. Lah, gue udah berkali-kali.”

“Sombong bener loe.”

Gio, rivalku urusan cewek memang bikin gendek di hati. Kalau belum ada bukti aku sudah melakukan ciuman pertama, ia akan terus menghinaku sebagai cowok cemen. Gara-gara dia, reputasiku di kampus jadi terpuruk. Kawan-kawanku yang lain jadi tahu soal ini karena Gio. Memang kawan tengik. Namun, aku tetap suka dengan gayanya yang seperti ini.

Hm… malam minggu pun tiba. Aku sangat bahagia. Apalagi ia memoles bibirnya dengan lipstik merah merona seperti bunga mawar. Seperti warna merah sepatunya pula. Ah, tidak salah lagi, sepertinya malam ini aku memang akan mendapatkan itu, setelah sekian lama berpacaran dengannya.

Jantungku sangat berdebar ketika film di mulai. Aku menanti reaksi Rena beberapa menit kemudian. Ah, belum ada tanda-tanda yang signifikan.

Tiga puluh menit pertama. Ia mulai memegang tanganku.

“Dingin…” ujarnya.

Aku pun balik menggenggam tangannya. Genggaman kami saling erat.

Aku masih menunggu reaksi Rena selanjutnya.

Tiga puluh menit kedua. Ia perlahan menyenderkan kepalanya ke bahu kiriku, sambil dengan isak-isak tangis karena melihat adegan sedih film itu.

Wah, sebentar lagi. Gerutuku dalam hati. Dengan amat berharap.

Tiga puluh menit ketiga. Ia mulai memegang pipi sebelah kiriku dengan tangan kanannya. Adegan dalam film itu memang sedang romantis. Sepertinya ia ikut terhanyut. Setelah itu, ia mengangkat kepalanya kemudian melirik ke arahku. Tepat di wajahku. Ia menatap mataku dengan tajam. Begitu juga denganku. Kami saling adu pandang.

Sedikit demi sedikit, kami pun semakin saling mendekatkan wajah kami. Jantungku amat deg-degan. Dalam benakku malam ini memang akan menjadi malam yang indah. Malam yang akan membikin derajatku melonjak dihadapan kawan-kawanku.

Cahaya film semakin redup, musik yang terlantun dalam film itu mengiring suasana malam itu menjadi syahdu. Wajah kami semakin dekat. Hidung kami sudah saling menempel.

Bruss….

Seketika saja aku terbangun dari tidurku. Ibuku, menyiramku dengan segayung air. Tepat di wajahku.

“Banguun… sudah siang!”

“Aduh… Ibu…” dengan nada suara agak kesal.

Ah, ibu merusak mimpi indahku dengan Rena. Padahal sebentar lagi.

Hm… tak lama kemudian, ponselku di atas meja belajar berbunyi. Aku membukanya dengan jari-jari tanganku yang masih basah.

Malam minggu besok, kita nonton yuk… udah lama kan kita nggak nonton. Sekali-kali aku deh yang traktir kamu…

Hah?

Aku masih belum percaya dengan sms ini. Kembali aku mengusap kedua bola mataku. Ternyata benar ini sms dari Rena. Dengan girangnya aku membacanya. Sepertinya mimpi semalam benar-benar akan menjadi kenyataan buatku. Dengan cepat aku membalas.

Oke…

Malam minggu yang nyata pun tiba. Aku mengenakaan baju serapih mungkin. Sekeren mungkin. Biar malam ini aku bisa mendapatkan hal itu dengan terhormat.

Sesampainya aku di rumahnya. Aku tidak percaya, Rena, sama halnya dengan mimpi itu. Ia memolesi bibirnya dengan lipstik merah merona seperti mawar. Amat cantik. Begitu pun dengan sepatunya. Ia pun mengajak menonton film yang seperti dalam mimpi itu. Apakah ini memang masih mimpi? Aku mencubit kedua pipiku. Ah, ternyata amat sakit. Berarti ini memang benar-benar nyata. Wah, apakah nanti peristiwa itu pun akan sama terjadi?

Kami pun sampai di gedung bioskop. Film pun di mulai. Jantungku berdebar-debar tak keruan. Aku menunggu reaksi awal dari Rena.

Tiga puluh menit pertama. Sama halnya dengan mimpi itu. Ia mulai memegang tanganku. Sama, aku pun balik menggenggam tangannya. Genggaman kami saling erat.

Apalagi reaksi Rena selanjutnya? Aku masih menunggu.

Hm… aku melirik orang-orang di belakang dan di depan. Mereka—pasangan muda-mudi— sedang melakukan hal itu. Sial! Aku menjadi iri, dan sedikit tidak sabar.

Tiga puluh menit kedua. Sama halnya dalam mimpi itu pula, hanya bedanya Ia menyenderkan kepalanya di bahu kananku, namun tanpa isak tangis, hanya terharu melihat adegan film itu.

Lah, kok jadi seperti ini, jangan-jangan bener-bener mimpi lagi. Gerutuku dalam hati. karena tidak percaya aku cubit lagi pipiku. Masih juga terasa sakit.

Aku malah menjadi semakin tidak sabar. Sedikit lagi pasti akan terjadi.

Tiga puluh menit ketiga. Ia pun mulai memegang pipi sebelah kananku dengan tangan kirinya. Adegan dalam film itu memang sangat romantis. Ah, absurd memang. Lagi-lagi sama dengan mimpi itu.

Tak lama, ia pun mengangkat kepalanya secara perlahan kemudian wajahnya mengarah kepadaku. Sama, Ia pun menatap mataku dengan tajam. Begitu juga denganku. Kami saling beradu pandang, dan lebih sengit dibandingkan mimpi itu.

Sedikit demi sedikit, kami pun saling mendekatkan wajah kami. Jantungku sepuluh kali berdetak lebih kencang dari biasanya. Dalam benakku malam ini benar-benar akan menjadi malam yang istimewa. Malam yang menakjubkan. Malam yang akan membikin derajatku melonjak di hadapan kawan-kawanku, terutama Gio. Aku sangat tidak sabar.

Tiga puluh menit keempat. Cahaya film semakin redup, adegan film sudah mencapai klimaknya. Wajah kami semakin dekat. Hidung kami sudah saling menempel. Bibir kami…

“Haaaa…” tiba-tiba terdengar jeritan seorang cewek. Dan suaranya tak jauh dari telingaku.

Sontak aku kaget melihat ruangan sudah tampak terang oleh lampu-lampu. Ternyata film sudah selesai. Wajahku salah arah. Wajahku menghadap cewek lain yang duduk di sebelah kananku. Mulutku masih dalam posisi siap berciuman.

Aku melihat Rena di samping kiriku sudah siap mengangkat kedua sepatu merahnya.

Aku meringis.

PLAKKK!!!

Kata orang, ciuman pertama itu sulit. Sekarang aku percaya!

Kamar Terindah, 8/2/2012