Kita saling mengenal, namun kita saling cuek. Kita saling peduli, tapi kita egois untuk menutupi rasa peduli itu. Kita saling khawatir jika ada yang sakit atau apapun itu, tapi kita tak saling menunjukkan.

Diam, diam dan diam. Ya, itu kita. Kita saling memandang, saling bertemu tapi sepatah kata dari bibir tak saling terucap. Apa berat bibir ini untuk terbuka, untuk saling menyapa? Sampai kapan 'tuk terus terus diam? Sampai kapan untuk terus saling cuek tapi saling sayang? Sampai kapan sifat egois akan terus bersarang di dalam raga?

Bukan aku sok tahu. Semua jelas ternyata bahwa saling cemburu adalah rasa yang muncul ketika saling bersama orang lain. Ya, lagi-lagi ego menutup mulut agar tak utarakan rasa. Ah, kenapa kita harus kekeuh dengan sikap egois yang hanya bisa membuat hati kita sakit dan akhirnya meneteskan air mata? Sebodoh itukah kita? Sediam itukah kita sampai untuk mengakui perasaan sendiri pun tak mau?!

Kamu, aku, kita harusnya sadar; saling diam nggak akan pernah menyatukan kita. Kejujuran, walaupun berakhir sakit, itu akan lebih baik.

Karena cinta bukan dalam diam, tapi saling dipertemukan. Cinta ada untuk saling melengkapi; bukan saling menyakiti