Mungkin sudah pilihan, walau entah nantinya akan berdampingan atau hanya menjadi teman.

Natural, membuat semuanya terlalu nyaman. Percayalah, bukan maksud diri terbuai ekspektasi hanya hati ini terlanjur menaruh harapan tinggi, bukan salahmu mengenalku bukan pula salahku merindumu. Butuh waktu untuk dapat bertahan dengan keadaan yang seharusnya sudah jelas bertepuk sebelah tangan, hanya terkadang kau membuatku bimbang

Sering kau menghilang tanpa alasan, kemudian tiba-tiba datang menyodorkan kembali harapan yang ingin ku kubur dalam.

Seperti filosofi karet gelang, “Jangan kau ikat terlalu kencang nanti dia kesakitan, juga jangan kau biarkan dia tanpa ikatan, nanti dia hilang”.

Semua malah serasa menjadi mengambang: hambar. Setiap hari hanya bisa bercumbu dengan kesendirian, menjalin hubungan dengan bermodal kepercayaan, menanti kepastian yang tak kunjung datang. Terkadang hati bertanya, “Sudahkah menunggu di tempat yang tepat? Atau aku malah salah alamat?”

Advertisement

Gejolak hati memang kadang tak tentu. Seringnya hati terintimidasi akal sehat, membuat semuanya menjadi berat. Oh, kau membuatku serasa sekarat dengan perasaan yang semakin mencekat.

Rindu memang tak pernah bertoleransi dengan jarak. Tak perlulah kita menjaga jarak komunikasi hanya karena temu yang tak pernah terjawab; tak perlu juga kita selalu berisyarat hanya karena gengsi yang terlalu mengikat. Cinta maya memang nyatanya ada, tapi alangkah bijaknya kita ubah yang maya menjadi nyata, agar rasa tak hanya menerka-nerka.

Ini terlampau sulit jika ku jalani sendiri. Niat hati ingin mengakhiri tapi tak ada hasil sampai detik ini. Jalan satu-satunya mungkin hanya berserah diri kepada Sang Ilahi. Maukah kau mengerti? Atau hanya aku yang harus menjalani semua ini?.

Sejak awal memang sudah jelas alurnya. Kau memutuskan ingin fokus berkarir dan memberikan keleluasaan untukku menata diri karena kita punya jalan masing-masing. Niatmu teramat bagus tapi niatku pun tulus mempertahankan perasaan agar tak pupus.

Hanya ingin menemanimu berjuang, memberimu secuil perhatian yang kenyataannya tak terlalu kau perhatikan. Wajar. Kau menganggapku hanya teman, tapi aku tak bisa berpaling dari kenyataan dan masih menyimpan perasaan! Semacam takut kehilangan tapi bukan siapa-siapa. Berjuang bersama akan lebih menyenangkan, lalu mengapa berpikiran jika semua itu justru menjadi beban?

Memantaskan diri jadi prioritas, obsesi tinggi, rencana hidup tersusun rapi, tentu semua orang mendambakan. Perasaan datangnya dari hati, jangan membohongi diri mengatakan semua aman terkendali, padahal sama-sama tersakiti! Lelucon macam apa ini?

Merelakanmu sendiri tentu berat dijalani, tapi berbagi kerelaan denganmu (mungkin) akan terasa ringan. Merelakan-mengikhlaskan mungkin satu-satunya jalan agar kau bisa fokus dengan tujuan; biar aku saja yang merasakan menyimpannya dalam tulisan.

Keputus(asa)an berujung kepercayaan bahwa tidak semua hal dapat dipaksakan, semuanya butuh keleluasaan untuk berjalan secara natural.

Biarlah jarak saja yang jauh, Kita? Jangan!