Tuan, kamu selalu saja bertanya tentang alasan-alasanku mengapa aku menaruh rasa padamu, kamu selalu bertanya alasan mengapa aku bertahan disampingmu untuk beberapa tahun lamanya, dan alasan mengapa aku akan selalu di sana sampai nanti. Tuan, haruskah aku menjawabnya? Aku rasa itu tak perlu untuk kau tanyakan. Mengapa butuh alasan untuk mencintai? Saat aku memiliki alasan untuk mencintaimu maka akan ada alasan pula untuk aku meninggalkanmu..

Tuan, tak bisakah kau untuk tidak mempertanyakannya lagi? Yang perlu kamu ketahui adalah aku, kamu, kita sama-sama saling mencintai dengan hebatnya. Ingat saja satu hal itu, Tuan. Maka kau tak perlu untuk memikirkan alasan-alasan mengapa aku mencintaimu, sama halnya dengan diriku. Aku tak pernah memikirkan akan hal itu, sebab bagiku ketika kau memiliki alasan mencintaiku maka bukankah itu artinya cintamu itu tidaklah tulus karena memiliki alasan. Dan bagaimana jika alasan kau mencintaiku juga kau temukan pada orang lain? Apa yang akan terjadi, Tuan?

Tuan, aku hanya percaya satu hal bahwa selama aku tetap pada rasaku yang hebat ini, itu karena kaupun menyimpan sesuatu yang hebat untukku, apa aku salah, Tuan? Tuan, aku hanya ingin tetap bersamamu saja. Aku sudah sangat nyaman bersamamu. Mimpi-mimpi bersamamu sudah tersusun rapi, jadi sudahlah, Tuan. tak ada yang perlu dipertanyakan lagi. Jika memang alasan itu harus ada, maka cukuplah alasan itu hanya karena aku sungguh sangat mencintaimu.

Tuan, kau tahu? Di atas sajadahku aku selalu berdoa pada Nya -Dzat yang memberiku hidup Dzat yang memberiku rasa ini- agar aku tetap saja pada rasa ku ini. Tetap sama sejak aku pertama kali aku merasakannya hingga nanti tidak pernah berubah sedikitpun. Tuan, aku berharap kau juga merasakan dan melakukan hal yang sama. Meskipun tidak, setidaknya apa yang aku lakukan dan yang aku rasakan ini kau tak mempermasalahkannya yang berarti kau pun menginginkannya.