Seharusnya sudah waktunya aku berlari dari kenangan yang menyakitkan itu. Seharusnya aku sudah berjalan jauh meninggalkan kau dan kesakitan itu. Tapi ternyata aku masih di sini. Masih menunggu di antara banyaknya ketidakmungkinan itu.

Aku lelah, Tuhan. Rasaku ternyata masih sama. Rasaku ternyata masih tertuju pada satu nama dan cukuplah hanya Engkau yang tahu siapa nama itu yang tak henti – hentinya ku “diskusikan” padamu.

Aku lelah, Tuhan. Aku sudah berusaha melupakan dan berusaha memprioritaskan logika dibanding perasaan ini. Tapi apalah daya, jika ternyata perasaanku jauh menggungguli logikaku sendiri.

Aku lelah, Tuhan. Sungguh sangat lelah mencintai seseorang yang sepertinya tidak layak untuk mendapatkan kesempatan kesekian kalinya dariku. Tapi entah kenapa, semakin keras ku menolak semakin tajam ingatan itu menabrakku. Semakin yakin dan semakin kuat perasaan ini tertanam.

Hanya Engkau yang tahu persis bagaimana kisah itu. Kisah yang seharusnya membuat ku berlari jauh karena jelas jika aku masih bertahan maka aku akan menyakiti seseorang. Seseorang yang ku kira sudah merasakan sakit hati berkali – kali lipat dibanding denganku.

Advertisement

Tapi aku bingung, Tuhan. Semakin aku mencoba untuk mengikhlaskan, justru perasaan ini semakin kuat. Kejutan apa kiranya yang sedang Kau siapkan untukku?

Hingga akhirnya aku tersadar. Semua keputusan berada di tangan-Mu. Biarkan aku menunggu dan terus menunggu hingga akhirnya Kau bersedia memberikan jawaban itu. Biarkan aku menunggu hingga rasa ini berbalas atau menghilang tanpa bekas dengan sendirinya. Karena tidak ada yang tidak mungkin bagimu, Tuhan.

Biarkan rasa ini tertanam dengan kuatnya dan jika Kau sudah menakdirkannya maka sekuat apapun ku coba untuk menghilangkan, maka semua akan percuma. Dan biarkan semua keadaan berjalan sesuai dengan rencana-Mu. Aku hanya bisa menerima dan berpasrah hanya kepada-Mu.

Tapi tolong Tuhan, jangan terlalu lama menyiksaku dengan perasaan ini. Karena jujur, rasanya aku sudah mati rasa. Tolong segera beri jawaban. Tolong arahkan ku hanya kepada pemilik tulang rusukku. Seseorang yang memang benar – benar sudah kau takdirkan untukku.

Dan akhirnya, biarlah hanya Kau yang tahu siapa pemilik nama itu. Karena memang hanya Kau yang mampu menolongku tiada yang lain.