6 tahun yang lalu adalah waktu kita dipertemukan disebuah tempat yang biasa kamu habiskan waktu dengan hobimu itu. Semenjak itu kita sering menghabiskan waktu bersama melakukan hal-hal yang kamu bisa buat aku selalu bahagia begitupun sebaliknya. Walaupun kita kuliah di tempat yang berbeda, tapi aku selalu ikut serta dalam semua kegiatan kamu dan begitupun kamu. Sejak saat itu aku merasa kamulah orang yang aku inginkan untuk terus bersamaku. Keributan dan perbedaan kecil tidak membuat kita menjauh justru membuat kita semakin dekat dan saling menyayangi.

Aku sedikit berfikir saat itu, apakah kita akan tetap bisa bersama walaupun jarak akan memisahkan kita kelak karena kamu berasal dari tempat yang jauh dari tempat asalku. Namun kebersamaan yang telah kita rasakan semasa kuliah dulu benar meyakinkanku akan perasaanku.

Sikap kamu yang pencemburu, yang selalu marah jika aku tak memberimu kabar, yang selalu menjemputku ketika kamu ada waktu, yang begitu kesal ketika ada beberapa lelaki yang mendekatiku, yang selalu memberikanku kejutan-kejutan kecil,yang selalu memberikan aku semangat ketika aku mengeluh, itu yang membuatku yakin jika kau begitu menyayangiku. Tidak ada yang berubah selama 5 tahun sedari awal kita bersama.

Datanglah hari dimana aku mendampingimu untuk menyaksikan puncak keberhasilanmu. Akhirnya kamu telah menjadi Sarjana Hukum dengan nilai yang memuaskan. Aku bahagia karna ini adalah awal hidup kamu, awal kamu untuk melanjutkan kehidupan yang lebih baik untuk menyiapkan hari bahagia kita kelak. Namun banyak harapanku semoga kamu bisa tetap di kota ini bersamaku mendapat pekerjaan yang bagus disini sampai kita menikah. Namun pada kenyataannya kamu harus kembali ke kota asal kamu untuk menerima penempatan kerja dan menetap disana.

Ditahun keenam ini kita tetap bersama namun dalam kebiasaan yang berbeda, tidak ada lagi makan siang dan makan malam yang hampir setiap hari kita lakukan dulu, tidak bisa lagi kamu yang sewaktu-waktu mendatangiku kerumahku, tidak mungkin lagi aku memintamu untuk menemaniku menghabiskan waktu di tiap minggunya. Yang aku tunggu hanyalah tanggal merah dan mengharap kamu untuk datang menemuiku. Beberapa bulan pertama begitu menyiksaku, kita hanya bisa bertemu 1 kali dalam sebulan itupun hanya dalam hitungan jam. Namun aku bahagia karena orang yang aku cintai saat ini telah menjadi orang yang sukses, bekerja dengan jabatan yang tinggi dan dengan penghasilan yang lebih dari impiannya.

Advertisement

Aku begitu yakin kita akan bisa bersama, sampai akhirnya ada beberapa laki-laki yang serius ingin memintaku untuk menjadi istrinya dan semua itu aku abaikan. Karena aku tidak pernah berfikir untuk meninggalkanmu dan mengkhinatimu.

Tiba dihari yang aku yakin bahwa inilah jawaban terakhir dari perjalanan kita selama 6 tahun bersama. Aku memintanya untuk membawa keluarganya menemui keluargaku untuk membicarakan tentang tujuan kita selama ini. Namun setelah obrolan itu semuanya justru berubah, lebih dari 2 bulan kamu tidak pernah mendatangi aku, selama itu juga kamu lebih sering menghabiskan waktumu bersama teman-temanmu disana, jarang sekali BBm, Telp, sibuk dan semakin sibuk. Dan sampai akhirnya kamu memutuskan bahwa kita memang sudah tidak bisa bersama. Tanpa alasan yang jelas, tanpa ada obrolan dari aku dan kamu, tanpa ada pertemuan, kamu akhiri semuanya.

Aku tak habis fikir orang yang aku prioritaskan selama ini justru adalah orang yang menghancurkan harapanku. Aku tersadar bahwa aku telah menghabiskan banyak waktuku dengan orang yang salah. Tak seharusnya aku menyia-nyiakan orang yang tulus memilihku hanya demi pilihan yang aku anggap benar. Sekarang cuma butuh 2 hari untuk membencimu, seketika itu juga aku buang semua waktu yang aku anggap indah selama ini. Perasaan ini sudah terbalik begitu cepat. Terimakasih karena telah melepaskan aku dari keadaan terburuk selama ini.

Percayalah orang terdekatku saat ini, bahwa aku telah melupakannya bahkan membencinya. Jangan khawatir akan kenangan dan perasaan yang kamu anggap sulit untuk aku lupakan. Karena aku telah menghapusnya.

Teruntuk sahabatku “Aku”