Dapatkah kau mengerti?

Betapa bangganya aku memiliki puteri yang cantik. Akulah yang pertama kali membisikkan adzan di telinganya. Mendekapnya lembut ketika ibunya kepayahan setelah melahirkan. Dalam sekejap saja, aku sudah mencintai bayi mungil ini. Darah dagingku, yang aku berjanji akan melakukan apa saja untuk kebahagiaannya.

Dia tumbuh menjadi gadis kecil yang periang. Selalu tertawa setiap hari. Seorang anak kecil dengan mata bulat yang banyak bertanya. Tak satu pun pertanyaannya luput dari jawabanku. Aku percaya bahwa tangan mungil yang selalu kugenggam setiap hari ini, suatu saat nanti akan menjadi gadis yang pintar dan mandiri.

Tapi kau tahu, aku menjumpai kenyataan lain ketika satu waktu mata bulatnya memerah mengeluarkan air mata. Betapa teririsnya hatiku saat menyaksikan itu, seketika langsung saja kudekap ia dalam gendonganku mencoba menenangkan dan bertanya apa yang menyebabkannya menangis. Dari ceritanya, aku tersadar bahwa dalam diri puteriku tersimpan hati yang sangat lembut serta mudah tergores. Sejak itu aku bertekad berusaha agar bukan aku yang menjadi alasannya untuk mengeluarkan kristal air dari mata indahnya dan lebih melindunginya.

Tahukah kamu, satu kali pun dalam hidupku aku tidak pernah berkata keras pada puteriku. Kata-kata kasarku tak pernah kulontarkan padanya meski aku begitu marah dengan sikapnya yang kadang keterlaluan. Aku tidak akan membiarkan diriku merobek hatinya yang pasti akan membekas lebih sakit di hatiku. Bagaimana aku bisa bersikap keras dan menghukumnya? Jika ia sudah datang padaku dengan kepala menunduk dan mata yang berkaca-kaca menyesali kesalahannya.

Advertisement

Kurasakan waktu-waktu itu sangat cepat berlalu, ketika suatu sore puteriku mengatakan bahwa ada seorang pemuda yang mencintainya. Dan kaulah laki-laki yang mencintainya itu. Betapa hatiku dipenuhi oleh serangkaian rasa. Ada cemburu yang tiba-tiba menelisip. Berani sekali kau mengatakan cinta? Akulah yang selama ini mendampinginya, sekuat tenaga melindunginya, aku yang pertama kali mengusap air matanya, memastikan puteriku selalu bahagia, dan aku menjadi satu-satunya laki-laki yang ia idolakan selama ini. Kau mungkin takkan bisa membayangkan betapa besar rasa cintaku kepada puteriku, tapi tak pernah kata itu keluar dari bibir ini.

Sekarang ketika ia berubah menjadi lebih cantik, menjadi gadis dewasa yang pintar dan anggun. Kau datang entah dari mana dan aku sangat takut kehilangan puteriku, jika harus berpikir bahwa sebentar lagi kau akan merebutnya dariku. Tapi melihat putriku bercerita tentangmu dengan senyumnya yang terus mengembang, aku tahu bahwa puteriku mencintaimu. Gadisku ini memang memiliki senyuman yang menenangkan, aku yakin kau pasti juga jatuh cinta dengan senyumannya. Apapun akan kulakukan asal dia bahagia termasuk merestuimu.

Meski jujur saja, masih ada rasa khawatir ketika kau nantinya akan membawa puteriku pergi jauh sedangkan aku sudah tak berhak lagi akan dirinya. Tapi tak mungkin aku padamkan cahaya gembira di wajah putriku karena dia begitu mencintaimu. Dan aku yakin puteriku pasti akan menjatuhkan hatinya pada laki-laki yang tepat, kamulah laki-laki pilihan itu.

Duhai kamu, laki-laki yang dicintai puteriku. Jika kamu memang mencintainya, kumohon padamu untuk tidak menyakiti hatinya. Dia adalah hal yang berharga di hidupku. Dan sekarang aku akan merelakannya padamu.

Tapi kau perlu tahu..

Selama ini aku selalu menurunkan intonasi suaraku saat berbicara padanya meski suaraku masih tetap kaku, kuharap kamu memiliki suara yang lebih lembut dariku yang membuatnya nyaman.

Kini bahuku telah ringkih termakan waktu, aku ingin kamu menyediakan bahu tegapmu untuk menjadi sandarannya setiap kali rapuh hingga ia kembali tegar melewati kehidupan ini.

Dulu puteriku sering mengadu padaku tentang hal-hal sepele, ia akan langsung menangis saat terjatuh atau saat tangannya tergores sesuatu hingga berdarah, tapi tahun-tahun berlalu ia sudah tak pernah menangis lagi padaku, padahal aku sangat tahu ada banyak masalah yang ia lalui dan justru ia tutup rapat dariku. Ketika perasaannya mungkin saja terluka namun ia lebih memilih menyimpannya sendiri. Kumohon, jadilah sahabatnya yang mendengarkan setiap keluhannya.

Untukmu, laki-laki yang mencintai putriku, kini aku tak ragu menyerahkannya padamu…