Pendidikan dasar pencinta alam, sebuah kata yang tidak asing didengar. Sebuah prosesi yang harus dijalani bagi calon penerus baru organisasi pegiat alam. Suatu ritual yang seakan menjadi momok menakutkan bagi mereka. Penuh tekanan, penuh persiapan, penuh finansial, sarat akan kekerasan, dan terkadang tak sedikit jatuh korban. Saya akan telaah sejenak, apakah benar demikian? Apa yang mendasari itu semua? dan ada apa di balik proses pendidikan yang selama ini tetap dipertahankan?

Suatu ketika saya mendengar berita musibah pada suatu pendakian gunung, bahkan yang saat ini sedang beredar ada diantara mereka yang menjadi korban dan meninggal ketika menjalani pendidikan dasar pencinta alam di salah satu kampus ternama di Yogyakarta. Saya mencoba mencari tahu lebih banyak berita sejenis, pada siapa dan mengapa kecelakaan ini terjadi?

Contoh kecelakaan di atas bisa terjadi pada siapa saja. Orang yang profesional sekalipun punya resiko yang sama ketika ia menempatkan dirinya di alam bebas. Kita tidak bisa memungkiri adanya kehendak Tuhan, semua sudah menjadi catatan Tuhan (takdir). Namun, yang bisa kita lakukan adalah mengurangi resiko kemungkinan terjadinya kecelakaan tersebut dari sisi manusianya sendiri (human error). Menjadi sorotan utama apa saja yang kita butuhkan, bukan hanya sekedar fisik dan ilmu. Memang keduanya sangat penting, namun bukan yang terpenting apabila keduanya berdiri sendiri-sendiri. Banyak hal yang terjadi selama dilapangan, kombinasi dari beberapa elemen yang kita miliki bisa menjadi solusi yang lebih baik.

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa pendidikan dasar tidak hanya mempersiapkan skill dalam berkegiatan di alam. Namun juga sebagai tonggak awal berkembangnya mental dan insting mereka. Akhirnya dari kombinasi itu mereka lebih percaya diri, lebih mampu mengukur kemampuannya, dan peka terhadap sekelilingnya. Selalu mempertimbangkan akal sehat dan bukan sekedar menuruti hawa nafsu.

Bisa saya katakan bahwa, lebih banyak kecelakaan terjadi (tersesat, hilang, dsb) bukan karena lemah fisiknya, namun karena kurang rasa percaya diri, dan hilangnya fungsi seorang pemimpin. Kondisi demikian berlanjut pada kacaunya komunikasi antar anggota, ketidakpercayaan pada pemimpin, rasa takut yang hebat, hingga hilangnya semangat untuk mempertahankan hidup. Di sini pendidikan dasar memiliki peranan yang amat penting sebelum seseorang melangkahkan kakinya di Alam bebas.

Advertisement

Berikut saya coba uraikan beberapa poin yang ada dalam diksar pencinta alam:

Pembentukan mental dan karakter yang kokoh.

Pembentukan sikap rendah diri dan peduli lingkungan

Pembentukan kapasitas ilmu dalam berkegiatan di alam

Pembentukan kesadaran akan rasa kesamaan, kebersamaan, dan kekeluargaan

Membentuk pribadi yang bisa bertahan hidup dalam kondisi apapun

LAYAKNYA TEMBIKAR IA TAKKAN HABIS DIBAKAR

Sebuah metafora menggambarkan bahwa pendidikan dasar pencinta alam serta pengembaraan, tak lain adalah sebuah proses yang penting bahkan wajib ada dalam program pendidikan sebuah organisasi pegiat alam. Cerita yang mengubah pandangan saya yang selama ini bisikan-bisikan tetangga telah melembekkan diri saya. Mungkin tidak lazim untuk mereka, karena mereka tidak membutuhkannya. Berbicara hanya pada satu sudut pandang saja, tanpa tahu apa yang terjadi pada para penggiat yang membutuhkannya.

Balada Api dan Tanah Liat!!

Disuatu malam ada sebuah desa yang terkena musibah kebakaran, tak berapa lama semuanya terlahap api yang besar. Sangat tiba-tiba, sehingga penduduk pun tak sempat menyelamatkan barang-barang berharganya, hanya nyawa yang bisa ia bawa. Hari menjelang pagi dan api pun mulai padam. Banyak yang kembali untuk sekedar melihat apa yang bisa mereka bawa dari sisa puing-puing rumah mereka. Semuanya tampak abu, televisi, radio, pakaian, sepeda, semuanya tak luput oleh api. Ada beberapa perabotan yang selamat, aneh beberapa bahkan ada yang masih mengkilap dan utuh: Periuk dari tanah liat yang dibakar, guci, gelas dan piring beling, vas bunga, asbak, celengan dan benda-benda yang terbuat dari keramik.

Apa yang bisa kita ambil pelajaran dari sana? Jika kita diibaratkan seperti tembikar atau puing-puing yang selamat, tentu kita akan mengalami proses yang sama dengannya untuk bertahan dari musibah yang datang. Periuk dari tanah liat, harganya murah, namun proses pembuatannya yang ditempa dan dibakar menjadikan ia kuat dilahap api. Seorang tentara yang setiap harinya ditekan dan digembleng, tak lain agar ia siap menghadapi ujian yang sesungguhnya. Dimana ia bergantung pada potensi maksimalnya yang ia dapatkan pada saat latihan.

Bahkan ketika saya mengalami musibah pada tahun 2010 yang mengakibatkan tubuh ini dulu direnggut tanpa seizin saya sebelumnya, yang mengakibatkan saya lumpuh sesaat. Namun, apa yang dipikiran saya?saya harus bisa melewati masa-masa kritis ini untuk bisa melanjuti hidup yang penuh fiksi ini. Saya memikirkan ketika di masa-masa lumpuh, teringat pendidikan dasar pencinta alam di kmapus. Saya, harus bisa bangkit dari segela resah yang menyelimuti untuk menunggangi badai kehidupan sekalipun, saya harus bisa meleati semua itu setegar batu karang. Tidak hanya fisik dan keterampilan yang harus dimiliki sebagai pencinta alam. Namun juga mental yang bisa dibakar, agar lebih tersenyum dalam menikmati hidup

NILAI YANG TAK TERNILAI HARGANYA

Kesamaan dan kebersamaan adalah pondasi yang bisa mewujudkan tali persaudaraan. Tapi apakah pangkal dari kesamaan? takdir? mungkin pengorbanan yang lebih tepat, karena begitu banyak karakter manusia yang takkan bisa disatukan tanpa ada sebab musababnya. Logika akan sejalan dan mengalir dengan waktu dan perubahan zaman, namun perasaan akan membimbing ketika ia melihat kepercayaan, dan kadarnya sebanding dengan apa yang ia saksikan, pembuktian yang nyata sehingga ia tak menempatkan logika diatas segala-galanya.

Perjuangan dan pengorbanan yang sesungguhnya memiliki makna yang mendalam. Ia akan selalu terpatri dalam hati, mengiringi dalam setiap langkah, dan menjadi batu loncatan dalam memperbaiki diri. Sesuatu yang menjadikan seseorang bijak, tidak tampak namun begitu mahal harganya. Amat mahal sehingga Ia takkan rela sesuatu itu direnggut oleh orang lain.

Banyak juga jebolan Mapala di kampus di seluruh Indonesia yang menjadi seorang pemimpin di suatu perusahaan bahkan negara sekalipun. Presiden kita saat ini pun Bapak Jokowi adalah seorang anggota Mahasiswa Pencinta Alam ( Mapala ) Silvagama, Mapala Fakultas kehutanan Universitas Gadjah Mada dan menurut saya mengikuti pendidikan dasar pencinta alam membuat menjadi karakter sebagai pemipmpin, dan saya pun pernah mendengar kalimat

“Apabila pemuda di Indonesia tidak mengikuti pendidikan dasar pencinta alam, maka di Indonesia akan habis generasi pemimpin untuk dimasa mendatang.”

Organisasi Mapala pun sudah banyak yang berkontribusi untuk Indonesia, salah satunya adalah Mahitala Unpar dengan pendakian tujuh atap tiang langit tertinggi dunia yang sudah mengharumkan Indonesia di kancah dunia. Bahkan ketika ada bencana alam di Indonesia Mapala atau Pencinta alam adalah garda terdepan untuk setiap kegiatan bencana, Sistem pendidikan dasarnya yang harus di ubah, bukan Mapalanya yang malah dibubarkan.

Dengan tulisan ini pun saya tidak mendukung kegiatan pendidikan dasar pencinta alam dengan perpeloncoan atau bentuk kekerasan apapun biarkan alam yang akan memfasilitasi segala tempaan yang terbentuk langsung dari alam bukan dengan cara kekerasaan. Namun, dengan alam tempaan itu akan terbentuk dengan sendirinya.

Kami ditempa bukan untuk mati, tetapi kami ditempa untuk lebih menghargai hidup. Satu kalimat yang selalu kucerna yaitu SEMANGAT SAMPAI AKHIR