Jakarta,
Ah perihal ibu kota yang hina
Namun acap kali di puja
Dengan berjuta gemerlap lampu disko di atas sekumpulan manusia yang sedang ena-ena
Entah mengapa Jakarta disebut ibu kota
Padahal sejatinya, ibu mana yang rela anaknya terjun ke nereka bertahta nista?

Bukan ku sok suci,
Dosa memanglah manusiawi
Hanya saja ku terkadang merasa ngeri
Melihat banyak wanita sepertiku diperkosa sampai mati

Memang, aku ini tak secantik bidadari
Tapi tubuhku ditawar tinggi-tinggi karena dianggap seksi

Aku ini wanita jalang,
Mudah saja bagiku 'tuk dapat uang
Tinggal telanjang,
Telentang,
Mengangkang,
Goyang

Tiap malam tidur gratis di hotel berbintang,
Ditemani om-om uzur yang duitnya segudang
Haha. Jalang!

Advertisement

Tapi, aku ini tak seperti Chairil yang mampu menerjang
Ku masih sering menangis dalam kesunyian menuju petang
Mendengar caci maki dan hinaan banyak orang

Bukan ku tak berpendidikan
Ku lakukan semua demi tuntutan kehidupan!
Soal moral tak usahlah lagi dipertanyakan
Aku memang sudah dianggap tak punya masa depan
Lantas apa kabar dengan Tuhan ketika menjadi pelacur memang pertanda ku tak punya iman?

Jika ku bisa bermain licik dan mencurangi takdir
Ku tak akan butuh waktu lama 'tuk bepiikir
Bukan kehidupan seperti ini yang ingin ku jalani sampai akhir
Demi langit dan bumi! Aku tak mau jadi kafir!
Namun takdir mengubahku menjadi pelacur di garis nadir

Aku..
Pelacur di Jakarta,
Hidup dengan menjajakan tubuh 'tuk bercinta
Bukan karena ku dibutakan harta yang berjuta-juta
Bukan juga karena ku mencari kenikmatan semata
Hanya saja bila malam ini ku tak mengangkang, entah besok ku harus makan apa?

Terima kasih Tuhan,
Setidaknya aku masih punya vagina.

Tangerang, 09/10/2016, 00:33.