Aku masih akan menulis tentangmu…

Hingga saat ini tak ada orang yang bisa mengerti bahwa kehilangan dan merelakanmu adalah kekuatan terbesarku. Aku selalu berusaha mencari semua kesalahnmu untuk menghipnotis diriku bahwa kamu adah lelaki jahat yang harus ku relakan disaat aku sedang cinta-cintanya. Tapi,bagamaina mungkin aku mengatakan jahat pada pria yang selalu menenangkanku (dulu)?

Kamu tidak tahu bagaimana aku melewati hari dengan berharap kamu akan menelponku dengan sekedar bertanya apa kabarku saat ini? Kamu tidak tahu,aku tidak membuka hati untuk lelaki lain yang lebih baik darimu dengan ketakutan hubungan itu akan berakhir dengan luka yang tak bisa ku sembuhkan (lagi).

Aku sudah melupakan sakit yang pertama kali kau berikan. Tapi,setiap mengingatmu ternyata ada luka lain yang semakin menganga. Akhh,Kenapa pelukan masalalu ini terlalu erat? Kenapa begitu memilukan?

Aku mati-matian berusaha mematikan rasa ku tapi, tak mudah mematikan rasa untuk orang yang pernah menjadi bagian hari-hariku. Betapa kamu pernah menjadi yang terpenting dalam hari-hariku.

Advertisement

Penyatuan kita tak pernah menemukan titik temu. Seakan aku hanya berjuang sendirian. Terluka sendirian.

Katamu;kau juga terluka,kau juga tersakiti. Apa lukamu? Apa sakitmu? Bisa kau jelaskan rasanya jadi diriku? Apakah kau bisa menahan jika kau yang merasakannya? Bukankah itu omong kosong mu saja?

Katamu;Aku melukai diriku sendiri. Segamblang itukah lukaku bagimu? Semudah itukah kau menganggap lukaku? Tidaakkah kau berpikir kamu terlalu lancang menghakimiku?

Sakit yang kau beripun tak mampu membuatku menghilangkanmu dari hatiku. .

Sederhana sekali,dari banyaknya pengabaian yang kamu beri,aku msih menyimpanmu hangat dihatiku.

Aku masih meyakini aku bisa melupakanmu tapi entah kapan. Aku yakin bisa menggantikanmu tapi entah kapan. Mungkin saat ini kamu masih menjadi pemenangnya tapi ketahuilah suatu saat nanti tentangmu pun hanya akan menjadi debu.

Aku memang teluka tapi aku masih berharap kau berbahagia. KAu harus berbahagia telah meninggalkanku. Karena kita sebaiknya memang tak bersama.

Aku bersyukur bahkan berterima kasih pada Tuhan karena tak menakdirkanmu untukku.

Kita (mungkin) akan bahagia meski tak sejalan.