Aku menjadi orang beda, bahkan mungkin jadi sangat berbeda. Bukan saja orang di sekelilingku yang merasakan hal itu, aku sendiri sangat terpukul dengan kondisiku. Saat itu di mana aku harus merelakan seseorang yang telah mengisi hatiku penuh tanpa celah didalamnya. Ya, dia harus pergi bersama seseorang yang telah membuatnya bahagia saat ini.

Tak mudah bagiku untuk melewati masa itu, karena dulu belum aku serahkan segalanya kepada Tuhanku. Di sini aku sangat terpuruk oleh waktu, bahkan keadaan ikut rumit karena perasaan diri yang tak karuan harus bagaimana dan ke mana. Di satu sisi pun aku juga harus berjuang keras untuk bisa keluar dari keadaan yang menekanku; yaitu menyelesaikan skripsi hingga menjadi seorang sarjana (yang kini alhamdulillah telah aku raih.)

Bila ku ingat lagi masa itu, jelas terluka sekali hati ini. Tak mampu aku redam kesakitan karena hal yang ku rasa tak adil itu. Ingatkah kau bahwa dulu aku pernah berjanji untuk menghalalkanmu seusai wisudaku dan berjuang untuk bahagiakanmu? Namun nyatanya kau tak bisa menunggu! Malahan kau berikan kabar duka itu di sela perjuanganku menyelesaikan skripsi waktu itu. Ya, apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku katakan lagi? Kau adalah wanita yang ku pegang janjinya untuk sekian lama, dan memilih menyudahi semua tanpa alasan yang kuat. Kau malah pergi bersama orang yang kau pikir jodohmu.

Aku ini pria, tapi tak kuasa membendung derasnya aliran air mata di pipiku. Kau tahu apa 'kan artinya?

Hingga semua berlalu dan kini semua telah aku lewati. Telah 1 tahun lebih semua berangsur membaik dan aku memang merasakan sesuatu yang beda terjadi dalam diriku. Aku yang dulu sering tersenyum, perlahan menjadi orang yang pelit senyum. Aku yang dulu sangat sering bergurau dan tertawa lepas, saat ini lebih banyak diam tanpa bahasa. Sulit sekali aku untuk mengembalikan itu semua.

Advertisement

Hingga ku tulis ini, aku sadar bahwa hidup harus tetap aku jalani. Bagaimanapun aku harus kembalikan kondisiku seperti dulu; di mana aku tak pernah menyerah dengan apa yang terjadi dalam hidupku. Pun aku harus terus berjuang 'tuk menemukan seseorang yang mampu membuatku tersenyum lagi.

Kau tahu? Kini sepertinya 'seseorang' itu telah siap isi kekosongan hati yang kau tinggalkan ini. Di akhir tulisan ini, ku ingin menulis tentang seseorang yang selalu aku bicarakan dengan Tuhanku kini. Namanya selalu aku sebut dalam bait indah doa dan sapaanku.

Aku memang tak berharap lebih dari apa yang diberikan Tuhanku kepadaku nanti. Namun jika aku bisa memilih, aku ingin dia yang saat ini sedang tersenyum kepadaku, dialah yang ku ingin selalu ada dalam hidupku hingga nanti. Jikapun bukan dia, aku tak menangis lagi karena aku tahu setelah hari ini aku akan bahagia.

Bahagia dengan pilihan Tuhanku; yang ku yakini sebagai yang terbaik untuk aku.

***

Untukmu yang selalu aku bicarakan di hadapan Tuhanku.

Semoga saja kau mampu merasakan apa yang sedang aku rasakan saat ini. Aku merindukan dan mencintaimu karena-Nya dan aku berharap kau merasakan hal yang sama. Ketika waktu itu datang, ku harap kau dan aku mampu membuka lembaran bahagia atas izin Sang Pencipta.

Dalam senyum-Nya, aku akan menjadikanmu halal bagiku! Amin.