Mei 2014, kulangkahkan kaki ini menuju kembali ke Bali. Ya lagi tepatnya aku ingin mengunjungi Jimbaran. Pantai yang memiliki begitu banyak kenangan untukku. Dulu Jimbaran hanya sebuah kampung nelayan yang hampir terlupakan, namun kini Jimbaran telah berubah menjadi dinamika hiruk pikuk pariwisata di Bali.

Kuterobos kemacetan di Denpasar. Kulewati Renon, Tabanan dan menuju ke kawasan selatan pulau bali. Setelah melewati kemacetan aku sampai di Jimbaran pukul 16.20 WITA. Kutunggu senja dengan melangkahkan kaki di atas pasir Jimbaran sambil memutar memori tentangmu. Kunikmati semilir angin beserta suara deburan air laut yang begitu menenangkan.

Aku begitu rindu senyumanmu saat berada di bawah langit senja Jimbaran

Tiga puluh menit telah kulalui dan aku pun terduduk diatas pasir jimbaran, Lazuardi kini mulai melukis sang senja. Menciptakan gradasi yang begitu menakjubkan. Rasanya begitu damai menikmati senja di pantai Jimbaran. Walau kedamaian ini tak bisa menggantikan rasa sakit juga kecewaku.

Tapi apalah dayaku, Tuhanku telah menggariskan semua ini untukku. Aku tak bisa protes. Aku pun tak bisa marah. Kini seja jatuh terbenam di kaki langit horizon jimbaran. Langit senja kini telah terganti dengan hitam pekatnya malam. Seperti perasaanku untukmu yang semakin lama semakin terbenam didalam samudera jiwaku.

Advertisement

Tahukah kamu wahai sahabatku bahwa aku sudah mencintaimu begitu lama. Aku tak mungkin mengungkapkan semua ini, karena aku terlalu takut semua akan merusak persahabatan kita. Biarlah arus waktu yang akan menghapus semua memori indah tentang aku dan kamu. Telah kau ikrarkan janji suci mu untuk orang yang kau pilih? Apakah kamu berbahagia bersama orang yang telah kau pilih? Jika iya aku akan ikut berbahagia untukmu?

Wahai langit senja jimbaran kutitipkan semua perasaanku untuknya. Dan tenggelamkanlah semua perasaan itu bersamamu

Bersama langit senja biarlah perasaan ini ikut tenggelam. Seperti senja yang membawa matahari pulang keperaduannya. Hingga kegelapan menggantikan warna jingga di langit seperti perasaanku yang kini berubah menjadi gelap. Kutinggalkan jejak langkah kakiku diatas pasir Jimbaran berharap perasaanku dan semua memori akan hilang terhapus seperti ombak yang akan menghapus semua langkah kakiku. Aku hanya berharap perasaanku akan baik kembali seperti saat matahari kembali muncul dipagi hari dan membuat warna jingga di langit ini lagi.

Matahari tak akan pernah membenci senja, senja juga tak akan pernah membenci malam, begitu pula aku yang tak akan pernah membencimu. Karena Tuhan telah menggariskan semua ini untukku.