Tepat satu tahun yang lalu di hari ini, aku menemukan sebuah pelabuhan yang sepi dan porak poranda. Aku mencoba untuk singgah di Pelabuhan ini entah untuk sementara atau selamanya. Setelah lelah mendayung lautan yang begitu luas, hantaman ombak serta hujan badai akhirnya aku melihat sebuah pelabuhan ini. Yah ibaratkan seperti itu diriku ketika bertemu dengan mu tahun lalu. Aku mengibaratkanmu sebuah Pelabuhan ketika aku sudah lelah menerjang segala ombak luka hati dan aku menemukan Pelabuhan Hati yang begitu berbeda dari pelabuhan – pelabuhan sebelumnya. Di Pelabuhan hatimu aku menemukan suatu kenyamaan, seseuatu yang berbeda meskipun kamu memiliki satu kekurangan yang tidak semua wanita bisa menerimanya namun aku tetep akan selalu menemanimu.

“Terimakasih telah hadir di Pelabuhan ini, sudah merapikan pelabuhan ini dan menemaniku saat aku jatuh oleh seseorang yang telah pergi mengkhianatiku”

Masih terlintas kata – kata itu di ingatanku betapa kamu mensyukuri atas kehadiranku di Pelabuhan hatimu, betapa bahagianya aku menjadi seorang yang di cintai oleh orang yang aku cintai pula. Dahulu Aku dan kamu sama sama terhempas oleh luka hati, pengkhianatan yang pernah di torehkan mereka kepada aku ataupun kamu segalanya terlupa dengan kita bertemu dan bersama sekarang. Aku dan kamu di pertemukan untuk saling meyembuhkan luka satu sama lain. Ketika aku menetap di Pelabuhan hatimu aku tak hentinya mengucapkan syukur kepada Sang Semesta karena telah menepikanku di Pelabuhan hati ini, aku tidak pernah sebahagia ini selama hidup, menemukan sosok Pelabuhan Hati yang begitu menyayangiku apa adanya. Aku selalu berdoa kepada Sang Semesta semoga kamu menjadi Pelabuhan hatiku yang terkakhir. Aku akan menutup semua akses ataupun jalan menuju Pelabuhan ini agar tidak ada lagi orang selain aku bisa masuk ke dalam Pelabuhan yang sudah begitu rapi, nyaman dan penuh dengan kebahagiaan ini. Ucapku dalam hati yang mengibaratkanmu sebagai Pelabuhan.

Pelabuhan ini tak senyaman dulu, dan menorehkan Luka yang sangat dalam

Seiringnya berjalannya waktu, tiba – tiba Pelabuhan ini di terpa oleh ombak dan angin begitu kencang. Pelabuhan ini menjadi porak poranda menjadi tidak senyaman dulu. Yah kamu berubah dengan sekejap dan tanpa alasan yang jelas kamu menginginkan aku pergi dari Pelabuhan hatimu. Seketika air mata jatuh tak terbendung, apa salahku hingga kamu menginginkan aku pergi? Setelah apa yang kita jalani bukan waktu yang sebentar dan dengan mudah harus saling melepaskan. Tak ingatkah dulu ketika kita sama – sama jatuh ketika Sang Semesta mempertemukan kita ? Aku sungguh tak percaya ini semua harus terjadi lagi, aku mengira bahwa Pelabuhan ini berbeda dari Pelabuhan yang pernah ku singgahi sebelumnya, namun ternyata sama saja. Rasanya berat jika aku harus meninggalkan Pelabuhan yang sudah ku bangun sedemikian nyaman, namun di sisi lain aku tidak mungkin terus bertahan di Pelabuhan yang sudah tidak menginginkanku. Mengapa ini harus terjadi lagi, apa aku harus benar – benar pergi dari Pelabuhan ini, apa aku harus kembali mendayung untuk mencari Pelabuhan lagi. Aku harap Sang Semesta sedang bercanda atas semua ini.

Advertisement

Sebelum aku pergi lepas dari Pelabuhan ini aku ingin melihatmu untuk yang terakhir kali, Betapa tersayat hatiku melihat Pelabuhan yang telah kubuat begitu rapih dan nyaman telah di singgahi bahkan sudah tergantikan oleh seseorang yang baru di hatimu sekarang. Dengan mudahnya kamu menyuruhku pergi hanya karena ada seseorang yang jauh lebih indah rupanya, di banding aku seorang yang biasa saja tidak secantik Dia wanita baru penghuni Pelabuhan hatimu sekarang. Aku menyadari aku tidak secantik dia, bibirku tidak bisa bergincu seperti dia. Aku tidak ada apa – apanya tapi apa dia bisa mencintai dan menemanimu dengan tulus, apa dia bisa membuat Pelabuhan ini rapih dan terasa nyaman, apa dia bisa menerima kekurangamu itu ? seperti aku dulu. Ahh sudahlah sekuat aku membela diri dan mempertahankan dirimu percuma saja kamu sudah berpaling kepada Dia yang rupawan.

Dan aku harus pergi dari Pelabuhan ini, tempat yang pernah ku buat serapih mungkin dan senyaman mungkin, tempat yang dahulu pernah memberikanku kebahagiaan. Dan sekarang Pelabuhan yang pernah membuatku sebegitu bahagianya sekarang sudah di singgahi dan di tempati oleh seseorang yang jauh lebih indah rupanya.

Semoga Dia menjadi orang yang terkakhir di Pelabuhan hatimu, semoga dia benar – benar tulus menyayangimu apa adanya, tulus menerima kekurangan mu iyaa kekuranganmu itu :). Dan aku akan kembali mendayung lautan yang begitu luas kembali bertemu dengan ombak dan hujan badai. Walapun waktu akan lama untuk aku mendayung kelak aku akan menemukan Pelabuhan yang jauh lebih nyaman dan jauh lebih membahagiakan dan tidak akan pernah berpaling dan berubah ketika ada sosok yang jauh lebih indah.

Selamat tinggal Pelabuhan yang ku kira akan menjadi Pelabuhan yang terkakhir untukku. Selamat berbahagia dengan wanita cantikmu 🙂