Bila kalian bertanya padaku tentang sosok perempuan terbaik yang pernah aku temui, maka akan dengan cepat ku jawab dengan jawaban “Mama”.

Bila kalian masih menyangkal dan menanyakan alasan yang konkret atas pertanyaan yang demikian ini, maka aku akan menjawabnya secara perlahan.

***

Perkenalkan, aku adalah salah satu contoh dari seorang piatu yang ditinggal oleh ibu 9 tahun lalu, tepatnya di kala aku masih melukis mimpi dibangku kelas 6 SD.

Aku yang nampak bodoh kala itu tidak mengetahui bahwa seseorang yang tengah terbaring di rumah sakit itu tidak akan memiliki umur yang panjang lagi. Aku masih berpikir bahwa perpisahan yang menyesakkan hanya akan terjadi di drama televisi yang dahulu aku tonton bersamanya.

Advertisement

“Mama” begitu sebutanku memanggil malaikat suci itu. Ia tengah terbaring lesu, nyaris tanpa warna di seluruh bibirnya. Aku hanya mampu melihat satu warna, yakni hanya putih saja dan dengan bodohnya aku mengira bahwa dia sedang tertidur pulas dan akan terbangun nantinya.

Tapi apa boleh buat, semesta tengah membuat rencana dan baru aku mengerti saat ini. Bila aku boleh menceritakan sedikit lebih jauh tentang masa kecil ku, dahulu aku adalah salah satu anak yang cukup aktif. Nyaris aku harus selalu diawasi dikala siang datang agar aku tidak keluar rumah di kala matahari sedang teriknya.

Aku merasa bosan dengan keadaan rumah, aku ingin keluar dari sana dan bermain dengan penuh tawa dari teman-teman sebaya yang saat ini entah kemana mereka berada. “Mama”, ia terus membelaiku dengan rasa sayang yang dahulu tidak pernah ku mengerti dahulu. Ia mencegah ku keluar lantaran ia mengetahui bahwa terik matahari saat itu tentu tidak akan baik bagi tubuhku dan tidur siang akan jauh lebih bermanfaat agar aku bisa bermain dengan lebih segar di sore harinya.

“Pada hari ini aku mempelajari kembali, bahwa untuk menunjukan rasa sayang, beliau tak pernah membiarkan anaknya mendengar dari bibirnya. Melainkan ia langsung menyergap dan mendekap tubuh ini dengan hangat peluknya bahwa rasa sayang itu lebih baik dirasakan bukan sekedar di derukan”

Mengingat kisah masa kecilku, aku mulai mengetahui bahwa kasih ibu itu tak akan pernah mati. Meski raganya telah menyatu dengan bumi, aku masih bisa mempelajari dan mengingatnya lagi. Bahwa ketika kamu merasa dicinta, orang yang kamu cinta itu tidak akan pernah lari dari hati dan hari-harimu. Dia akan selalu ada, hanya bentuknya saja yang berbeda.

Aku juga kembali mengingat tentang kisah dahulu. Di mana aku juga lebih suka menghabiskan waktu di luar dan tidak menghargai atas kehadirannya. Ia hanya memandangiku dari jauh sambil tersenyum simpul melihat anaknya yang nakal ini sedang bermain dengan kawan-kawannya.

Andai dia berkata saat itu, bahwa “Mama ingin kamu selalu ada disini”, mungkin aku akan tetap bermain juga. Kala itu aku tidak cukup mengerti tentang berharganya hadir seseorang yang kita sayangi.

***

Kenangan akan “Mama” kembali mengajarkan padaku saat ini. Kita harus tetap menghargai hadir seseorang yang selalu ada dengan kita, meski kita merasa bosan dan menginginkan sosok lainnya. Tapi percayalah, menemukan pengganti yang setara sungguh tidak mungkin adanya.

Masing-masing orang memiliki karakter dan keberadaannya masing-masing. Bila aku belum belajar dari kehilangan, mungkin aku tidak akan cukup mengerti bahwa satu sosok yang selalu ada itu tak akan pernah bisa tergantikan di kala ia pergi.

Saat ini aku sudah cukup besar untuk mengerti tentang cinta tanpa syarat yang dahulu beliau beri. Bukan sekedar mengajari, beliau juga memberi contoh yang nyata bahwa cinta tanpa dusta bukanlah sebuah dongeng semata. Aku hampir tak pernah melihat air mata kesedihan mengurai dari pipinya. Tapi yang aku tahu, dalam keadaan menangis pun, senyum simpul akan selalu terurasi dari lengkungan bibirnya.

Meski anak yang nakal ini selalu membuatnya marah, tidak pernah henti pula ia memaafkan. Tidak pernah letih ia menasehatkan, menghawatirkan, mempedulikan karena cinta yang besar akan selalu mampu peduli meski amarah dan emosi kerap kali mendominasi.

***

Aku hanya baru menyadari bahwa yang selama ini aku pelajari tidaklah cukup untuk memahami tentang arti cinta yang sedang ku cari. Tapi kenangan akan beliau seakan menegur ku lembut dan mengatakan “Mama akan selalu cinta, meski dari tempat yang tak pernah bisa kau lihat.”

Maka mana mungkin aku kembali berdusta bahwa Allah sudah menetapkan derajat tinggi kepada setiap Ibunda di dunia ini tanpa sebuah alasan yang pasti. Dan aku mulai bisa mengetahui kembali tentang anugerah terindah yang pernah ku miliki dan aku juga akhirnya bisa mengenali bahwa anugerah yang selama ini ku nikmati pernah aku sebut dengan “Mama”.