Pertemuan kita yang pertama sama sekali tak terduga. Saat itu aku dan kamu bagaikan langit dan bumi, berbeda. Kamu yang pertama kali kutemui adalah seorang pendiam dan terlihat lebih suka mendengarkan. Sedangkan aku lebih aktif dan membuka pembicaraan. Hari itu setelah pertemuan pertama kita dan tim aku masih belum begitu mengenalmu, aku hanya tahu namamu.

Seiring waktu berjalan..

Kamu dan aku sering dipertemukan dalam satu kesibukan. Saat itu aku mulai memahamimu dan begitu juga denganmu. Aku yang di awal sangat aktif menjadi pasif saat berhadapan denganmu, sebaliknya pun terjadi padamu. Kamu yang ku kenal manusia paling pasif di awal ternyata menjadi sangat aktif saat beradu argumen denganku.

Kita menjadi dua kepala yang sama sekali terlihat tidak bisa bersatu, itu kata beberapa teman yang bersama kita seiring waktu. Dan waktu terus berjalan dengan proyek-proyek kita yang harus segera di selesaikan. Kesibukan kita selalu saja sama, kita harus menempuh perjalanan yang sama dan saat itu pula waktu seperti memberiku kesempatan untuk kita berbicara berdua saja, hanya berdua. Dan pertemuan-pertemuan kita ini hanya sebatas rekan kerja, hingga akhirnya pada suatu masa kau mulai menceritakan mengenai hidupmu, kisah cintamu dan perjuanganmu hingga saat ini.

Aku ingat betul waktu itu jam makan siang di ujung kota kita bekerja, kamu menceritakan dengan gamblang kisah kisah cintamu terdahulu. Aku dengan setia mendengarkanmu, di sini aku mulai tersenyum dan aku tahu kau mulai menaruh kepercayaan padaku. Kau pun mulai menceritakan rencanamu di masa depan dan apa-apa yang ingin kamu lakukan setelah proyek ini selesai. Aku mendengarkan dan hanya akan menanggapi saat semua ceritamu telah usai dan percakapan kita akan berakhir dengan adu argumen yang disitu egomu dan egomu benar-benar di adu. Dan aku suka saat-saat seperti itu. Begitulah kita saat berdua.

Advertisement

Hingga proyek telah usai..

Aku kira pertemuan dan bahkan pembicaraan kita akan usai juga, ternyata aku salah. Setelah proyek itu usai aku makin sering bertemu denganmu entah itu hanya karena sekedar meminjam buku. Dan aku mulai mencoba memaknai pertemuan kita yang tak terduga itu dan mulai merangkainya menjadi sebuah tulisan panjang. Kau sudah pernah patah sebelum ini dengan dua wanita dan aku yang sama sekali tak pernah menaruh harap pada seorang pria, jatuh juga. Aku jatuh padamu.

Lalu?

Aku wanita dan aku lebih suka mendekapmu lewat doa-doa. Doa-doa panjang dalam sebuah ikhtiar. Aku pikir memang itu hal terbaik yang harus dilakukan saat aku dan kamu sekarang masih sama-sama berjuang di perantauan.

Waktu terus berlalu hingga kita memakai toga. Hingga kita kembali bertemu..

Setelah lama kita tak bersua bahkan kabarmu pun tak pernah menghampiri telepon genggamku, aku masih setia merindu. Dan pertemuan kita yang tak terduga kembali menghampiri, aku dan kamu bertemu kembali di stasiun tempat dulu kau pernah mengantarku saat kita masih sama-sama duduk di semester tujuh. Dari dulu sampai saat aku bertemu denganmu semua masih sama, kecuali kulitmu yang sedikit bersih setelah kembali dari ibu kota.

Saat pertemuan tak terduga yang kedua itu kita seperti dua orang asing yang enggan untuk menyapa. Hingga akhirnya kau mengirim emoticon senyum padaku lewat akun Linemu. Dan aku tersenyum lalu segera menghampirimu yang sedang sendiri dengan tas ransel di penggungmu. Dengan sedikit malu aku menyapamu, "Hai," dan kamu hanya tersenyum seperti senyum yang sering sekali kau lemparkan padaku saat dulu kita masih dalam satu proyek. Pertemuan tak terduga ini mengantarkan kita pada percakapan random dan panjang seputar perjalanan kita dulu. Dan kita memilih tempat makan dekat Masjid tempat kita dulu sering salat dan sekedar berbincang singkat. Oke, semua terulang kembali kisah pertemuan karena proyek dua tahun yang lalu terulang kembali. Kau dan aku banyak bercerita tentang kisah lalu.

Dan percakapan dimulai dari kembali membicarakan kebiasaanmu bermain futsal dulu, aku menanyakan apakah hobi itu masih kau lakukan sampai saat ini. Dan jawabanmu selalu di luar perkiraanku, kau kembali mengingatkanku kalau dulu aku pernah sekali membawakanmu bekal saat pertandingan dan itu hanya nasi dengan telur dadar di atasnya. Dan aku kembali tertawa dan nyaris menangis haru kau masih mengingat peristiwa lucu itu. Kenapa lucu? Karena waktu itu kau dengan percaya dirinya menawarkan bekal yang ku bawakan kepada teman-temanmu padahal kau sendiri belum tahu menu apa yang ada dalam wadah makan itu. Dan saat kau membukanya ternyata hanya ada nasi dan telur dadar di dalamnya. Sontak tawa pecah dan teriakan teman-teman futsalmu pecah. Sejak hari itu aku berkata padamu bahwa sudah tak mau membawakanmu bekal lagi dan itu untuk yang pertama dan terakhir kataku, tapi dulu kau menenangkanku dengan tak mendengarkan ucapan kawan-kawanmu. Lucu memang, amat sangat lucu waktu itu. Di tempat kita makan malam setelah pertemuan tak terduga di stasiun semua kenangan itu hadir kembali.

Malam itu berlalu dan kita pulang sendiri-sendiri lagi. Beberapa hari kemudian aku kembali menyadari bahwa banyak sekali perubahan terjadi sejak kita tak satu proyek lagi, banyak hal-hal positif yang aku lakukan untuk memantaskan diri dalam menanti. Hingga akhirnya kita bertemu lagi dan itupun pertemuan tanpa kesepakatan. Kita sama-sama tidak tahu akan bertemu kembali di momen yang aku dan kamu sedang di ujung penantian dan menunggu di persimpangan. Baiklah di sini aku mulai paham dengan rencana Tuhan yang selalu tak terduga dan penuh dengan tanda tanya. Puzzle yang sedari dulu aku kumpul kini mulai terlihat jelas rangkaiannya. Aku banyak menahan diri selepas proyek kita dulu. Kenapa begitu? Karena dari pertemuan karena proyek itu aku banyak sekali belajar darimu, belajar bagaimana aku harus berperilaku, belajar bagaimana aku harus memperlakukan orang-orang baru dan dari semua itu aku sadar kalau aku memang harus mulai memantaskan diri.

Aku sudah jatuh sedari dulu, jatuh hati padamu. Dan selama dua tahun tanpa temu aku masih diam dalam penantian. Dan Tuhan kembali memberi jalan. Kau hanya mampir di kota kita kuliah dulu dan kau akan segera kembali ke ibu kota lagi. Aku yang sekarang sudah mengabdi di kampus menjadi asisten dosen masih akan di sini dan menikmati istimewanya kota ini. Kau mengabarkan bahwa kau akan segera kembali ke ibu kota dan kau ingin menitipkan sesuatu padaku. Dan aku hanya mengatakan padamu untuk berhati-hati dan akan menemuimu tepat waktu ashar di masjid tempat kita biasa bertemu.

Kau menitipkan sepucuk surat padaku. Dan isi surat itu sama sekali tak ku duga. Kau menawarkan diri untuk melamarku dan minggu depan setelah urusanmu di ibu kota selesai kau akan menghubungi ayahku. Aku masih bertanya-tanya dari mana kau punya kontak ayahku, setelah aku ingat-ingat ternyata itu memang kesengajaanku di masa lalu, menyimpan kontak ayahku di handphone-mu. Aku mengucap syukur yang tak terkira, Tuhan sebaik ini padaku. Ini jawaban atas segala penantian dan ikhtiarku. Aku yang sedari dulu mendekapmu dalam doa-doa di sepertiga malamku, aku yang sedari dulu diam-diam memperhatikanmu dan aku yang sejak pertemuan terakhir kita mulai memantaskan diri karenamu.