Kamu tak mengenal Ringgo Agus Rahman?

Searching saja di google atau pakai cara sejuta umat; nanya sana – nanya sini.

Saya ingat betul hari petualangan kami itu dilakukan pada saat hari liburan, tapi ini BUKAN hari liburan yang sewajarnya. Mengapa saya bilang bukan sewajarnya? JAWABAN nya adalah; pada bulan September-Oktober tahun 2015 di Kalimantan Barat sedang terjadi bencana kabut asap, sehingga sekolah-sekolah diliburkan. Termasuk sekolah tempat saya melaksanakan PPL (Program Pengalaman Lapangan). Nah… libur itulah yang saya dan teman-teman saya damba-dambakan :D. Kami sudah mengetahui hari libur itu beberapa hari sebelumnya. Sehingga sayalah orang yang paling bersemangat dan paling MEMAKSA teman-teman saya untuk mengisi liburan itu dengan pergi ke danau yang awalnya saya tau dari cerita murid-murid saya.

Akhirnya dari 14 orang (termasuk saya), yang memutuskan untuk pergi berjumlah 9 orang (termasuk saya). Saya merasa menang dan bangga kerena perjuangan saya MEMAKSA tidak SIA-SIA HAHAHA. Kami pergi menggunakan sepeda motor dari rumah saya menuju rumah Welly (satu-satunya murid yang rela menjadi pemandu perjalanan kami) yang kebetulan rumahnya tepat di depan sekolah tempat kami PPL.

Jarak tempuh dari rumah saya ke rumah Welly sekitar 30 menit (kalau ngeeebut), nah…kemudian jarak tempuh dari rumah Welly ke tempat tujuan kami sekitar 2 jam (kalau ngeeebut dan tanpa cobaan). Dari tepi Jalan Trans Kalimantan, kami memasuki belokan jalan yang saya namai jalan ‘Tanah Merah’ (karena tidak ada nama jalannya). Kalau berniat ke sana tanpa sesat, saya berikan petunjuk yaitu; temukan WK. PONDOK LAIT, di sebelah sisi kiri jalan sebelum jalan ‘Tanah Merah’. Tapi tolong jangan salahkan saya kalau warung kopi itu dikemudian hari, saat kamu pergi sudah tutup atau tidak ada sama sekali. Plisss jangan salahkan saya L.

Advertisement

Disepanjang jalan ‘Tanah Merah’ yang kami lalui hampir-hampir seluruhnya ditanami pohon kelapa sawit, hemmm.. kelapa sawit. Saya langsung dehh ‘mengorelasikan’ pohon kelapa sawit dengan bencana kabut asap yang melanda daerah saya, Kalimantan Barat pada waktu itu. Jeng! Jeng! Jeng! Tiba-tiba sepeda motor saya berhenti (ketahuan deh saya diboncengin). Saya langsung turun dong siap-siap pegang kamera buat foto-foto di danau. Ternyata eh ternyata yang namanya kenyataan selalu saja menyakitkan L. Si Welly berhenti dan kami yang di belakang ikut berhenti bukan karena telah sampai ke danaunya, tapi karena si Welly lupa jalan belokan selanjutnya.

Saya menggerutu dan kecewa, kecewa karena takut tak bisa pamer foto-foto kami dengan teman-teman yang tidak ikut pergi. Hal ini tidak boleh terjadi pikir saya, dan benar saja Tuhan masih memenangkan saya dalam pertandingan MEMAKSA ini :D. Si Welly berinisiatif putar balik ke jalan sebelumnya dan kemudian berhenti di tepi bagian kiri jalan ‘Tanah Merah’ dan melihat ke arah bawah. Waaah rupanya kami semacam berada di ketinggian yang tidak tinggi. Gimana ya? kamu pasti binggung, kalau begitu kita sama dong.

Akhirnya amnesia si Welly telah pulih dan kami kembali ke jalan yang benar *eh kok*. Si Welly menjelaskan kalau dia lupa jalannya karena biasanya dari atas ketinggian yang tidak tinggi itu air danaunya kelihatan. Berhubung karena waktu itu bukan bulan-bulannya air pasang sehingga tidak tampaklah keberadaan danau Ringgo Agus Rahman itu. Saya pun langsung bahagia bukan kepalang karena besok lusa dipastikan bisa pamer foto-foto hahaha.

Ternyata si Welly terlebih dahulu membawa kami ke rumah seseorang, lebih tepatnya satu-satunya rumah yang saya lihat disepanjang jalan ‘Tanah Merah’ yang berbelok-belok itu. Saat itu saya belum bisa menyimpulkan apakah rumah itu adalah satu-satunya rumah yang berdiri di tempat itu. Tapi jangan bayangkan rumah itu seperti yang kamu tonton difilm-film horor, itu adalah rumah seseorang yang si Welly kenal. Satu lagi hal yang tak luput dari perhatian saya, yaitu hamparan tanaman padi yang berada di belakang rumah itu. Hampir saja saya salah menyimpulkan kalau daerah itu tidak ada tanaman lain selai pohon kelapa sawit hehe J.

Memang betul teori; usaha tidak akan menghianati hasil.

L Tapi sayang sekali sampai saat saya menuliskan teorinya, saya belum tau siapa pencipta teori itu.

Saya menginjakkan kaki di lokasi pembuatan film “Tanah Surga Katanya” (2012) yang dibintangi oleh aktor gokil, ‘nyeleneh’ caption fotonya kalau di ‘instagram’, punya istri yang mukanya 11:20 dengan saya, dan sekarang sudah jadi hot papa pula (kepoin aja sosmednya kalo nggak percaya). Aiihh pokonya favorit saya dah, siapa lagi kalau bukan mas Ringgo Agus Rahman :*.

Masyarakat di sana menamainya Danau Otong, ya karena setelah melewati hutan, tapi bukan juga hutan belantara yang juga biasa kamu tonton di filim-film horor. Setelah keluar dari hutan yang bukan hutan belantara itu, kami memasuki perkampungan masyarakat Remba Otong, Dusun Remba Kedokok, Desa Subah, Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Ohya, Danau Otong juga memiliki sebutan lain yaitu Danau Lait, soal penamaan danau itu belum sempat saya tanyakan ke Pak RT. Karena pada saat itu saya hanya sibuk menanyakan benaran atau tidaknya mas Ringgo Agus Rahman ke danau itu, syuting di situ, bahkan saya merasa iri hingga bertanya berulang kali. Ringgo nginap di sini Pak? di rumah ini? rumah Bapak ini? benar Pak?

Dari cerita Pak RT jugalah saya dapati bahwa sudah banyak mahasiswa yang mengunjungi danau itu bahkan mereka berkemah dan menikmati buah durian pada saat musimnya. Itu berarti warga kampung banyak menanam pohon durian. Kalau cerita ini sama sekali tidak bikin saya iri, karena saya tidak memakan apalagi menyukai buah durian *kebayang deh baunya*.

Setelah bertukar cerita, tapi rasanya saya tak menyumbang cerita apapun untuk Pak RT pada saat itu. Tapi satu hal yang dapat saya simpulkan dari kunjungan kami ke rumah Pak RT, yaitu sebagai permintaan izin kami dan sebagai tanda hormat kami sebagai pendatang J kamu masih ingat pepatah sepanjang abad itu kan? Iya betul, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Kemoooon guyssssss waktunya kita beraksiiiiii!

Saya memang tak bisa merasakan entah sejuk atau panasnya air Danau Otong pada saat itu, karena memang sedang musim kemarau sehingga danau benar-benar kering dan itu artinya saya bisa melihat bagian dasar danau yang hijau membentang bak padang safana. Itu menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi saya, terlebih lagi itu kali pertamanya saya melihat danau dan danau kering pula. Sayapun bisa memastikan kalau teman-teman saya ikhlas dengan paksaan saya setelah melihat Danau Ringgo Agus Rahman :D.