Aku tidak pernah menyesali bagaimana jalan cerita Tuhan mempertemukan kita. Meskipun pada akhirnya, harus ada yang terluka. Itu aku. Aku yang masih saja setia membuka hati selebar-lebarnya pada sosokmu yang entah mengapa tak pernah bisa terabaikan oleh hatiku.

Kamu, adalah suka dan duka yang Tuhan kirimkan satu paket untukku. Yang mengobati lukaku di satu sudut hati, juga membuat luka baru di sudut yang lain. Selalu, aku seperti mati rasa saat kamu yang kembali menggoreskan luka baru. Aku seperti penipu terpayah yang membohongi hatiku sendiri bahwa itu bukan kamu. Bahwa yang aku rasakan saat ini hanyalah ilusiku. Menyalahkan akalku bahwa ia sedang keliru.

Aku selalu begitu, tanpa pernah mau menyadari bahwa hati ini berjuang sendiri. Tanpa pernah mau mengakui bahwa langkah ini masih terhenti, menunggu kamu kembali. Berharap bahwa kamu akan pulang, membagikan keluh kesahmu dalam pelukan.

Aku masih disini, di tempat saat pertama kali kau menemukanku. Aku sedang merindu, sendirian. Merindukan betapa kau pernah begitu baik mau mengobati luka lukaku yang dulu lebam. Merindukan kamu, yang pernah mengkhawatirkan pola makanku yang sangat tak beraturan. Merindukan semua tentangmu, yang hingga kini belum luput dalam ingatan.

Pada akhirnya, aku kelelahan sendiri. Kepayahan menunggu kamu yang berjanji pulang, namun tak pernah kembali. Terus berharap pada kamu, bahagiaku yang terasa semakin semu saat aku dekati.

Advertisement

Hingga aku sadari kini, betapa keras kepalanya aku. Mengharapkanmu menunggu aku yang tengah kelelahan berlari mengejarmu. Kini aku sedang menata hatiku sendiri. Tanpa kamu. Menata kembali tanpa tau kapan hati ini akan utuh lagi.

Untuk kamu yang tengah berlari dan semakin menjauh pergi, terima kasih… Aku akan semakin kuat setelah kisah ini.