Hai. Ingin sekali aku memperkenalkan kepada dunia, bahwa kau adalah sahabatku.

Orang yang ku anggap cocok dengan kepribadianku. Seseorang yang visioner, ambisius dan selalu menatap masa depan lebih jauh. Aku ingin jadi bagian dari setiap project yang kau lakukan. Menjadi bagian yang akan kau ceritakan pada anak cucumu, kalau ada orang yang ikut membantu menapaki kesuksesanmu.

Ingin juga ku perkenalakan pada alam raya, aku mempunyai seseorang tempat berbagi cerita, canda, tawa, mungkin kesedihan juga.

Hai, kau apa kabar?

Ketika aku mulai mendapatkan chemistry, dan mulai merasa kau sudah jadi bagian dari yang ikut menyusun langkah kaki kesuksesanku, kau kemana? Menghilang. Mulai diam; menjadikan dirimu introvert mode on. Tidak pernah lagi bercerita tentang project yang akan kau lakukan. Tidak pernah lagi ada canda tawa. Setiap kali ku sapa, dingin yang ku raba. Setiap kali kita bicara, hanya anggukan kosong belaka.

Advertisement

Ketika ku tahu kau mulai menemukan rumah baru yang lebih indah. Tempat berbagi cerita yang jauh lebih mempesona. Ketika kau sangat berambisi menceritakan setiap mimpimu. Menjelaskan dengan canda tawa paling tulus yang pernah ku lihat. Ketika kucoba untuk masuk dalam lingkaran rumah barumu, kau kembali diam. Dan teman-temanmu malah memojokkan aku, sebagai seseorang yang dianggap rendah.

Kamu di mana saat itu? Aku menanti persahabatanmu. Menanti canda tawamu. Apa aku salah? Salah untuk menilai dan menobatkan kau sebagai sahabatku?

Mengapa kau memilih introvert padaku, sedangkan pada yang lain, kau dengan mudahnya untuk ekstrovert. Aku cuma bisa apa? Menanti dan menungguimu.

Kau mungkin tak pernah menganggapku sebagai sahabatmu.

Mungkin hanya sebagai orang yang pernah kenal dalam periode waktumu. Tidak penting. Tiap kali kau mulai untuk mengetik di laptopmu, aku ingin tahu ide gila apalagi yang ada dalam otakmu. Apakah aku akan masuk dalam project-mu kali ini? Namun ternyata, kau malah melenggang dengan yang lain. Memulai project dan meninggalkan aku dalam situasi yang tidak bisa k upercaya. Kau hanya memanfaatkanku. Maaf bila aku terlalu kasar dengan ini.

Sebegitu besar ku beri pengorbanan padamu. Waktu, tenaga, apa yang aku bisa, ku berikan yang paling terbaik padamu. Namun kau malah seperti menusukku dari belakang, memorotiku, dan dalam ke-introvert-an-mu kau memalingkan punggungmu. Kau tetap diam dengan project-mu, padahal aku juga punya visi yang sama denganmu. Kau seakan menganggapku tidak pernah ada.

Memang, aku bodoh. Berulang kali orang lain telah mengutarakan kepadaku, "Tinggalkan saja," "Dia bukan sahabatmu."

Namun sayang, aku terlalu klop denganmu. Tidak bisakah kau beri sedikit senyum, kau utarakan apa yang mengganjal di pikiranmu? Bila aku punya salah, mungkin akan bisa ku perbaiki. Atau memang, kau merasa risih denganku, mungkin dengan dada lapang akan ku usahakan menjauh darimu. Tapi dengan tiba-tiba menjauh dariku, aku sakit hati, kawan.

Hai, kau yang ku anggap sahabat; namun kau hanya menganggap bahwa aku hanyalah orang yang pernah kau kenal. Mungkin aku cuma pesankan, selamat tinggal.

Jika nanti rumah barumu tak lagi nyaman, mungkin kau baru akan mengerti betapa besarnya aku padamu. Atau mungkin akan kau temui lagi rumah baru yang jauh-jauh lebih nyaman.

Terima kasih sahabat, kau telah mengajarkan aku arti dari sebuah kesabaran.