Setiap orang selalu mendambakan pernikahan, terlebih lagi usia sudah memasuki kepala dua. Satu persatu sahabat sudah mulai meninggalkan kita untuk sesuatu yang disebut bahtera rumah tangga.

Siapa yang tidak ingin berkeluarga, menghabiskan hari-hari bersama seseorang yang tersayang, bercanda dengan anak-anak yang manis untuk akhirnya menemukan kehidupan baru yang lebih berkwalitas. Terlebih untukmu, anak perempuan yang sudah dengan seringnya mendapat pertanyaan-pertanyaan klise seputar pernikahan.

Oh Ibu, usiaku memang sudah memasuki angka kembar.

Tapi bukan berarti waktu pernikahanku sudah di depan mata bukan? Engkau terlalu sering mempertanyakan “kapan” atau setidaknya “dengan siapa putriku sekarang”. Engkau selalu bergurau tiap kali sabtu malam tiba, alih-alih ingin mendapat martabak dari calon menantu, aku justru malah tersindir lucu dengan cara bicarmu.

Ibuku sayang, aku tahu usiaku sudah tak lagi layaknya anak-anak. Sudah bukan waktunya bersantai mengenai kehidupan yang lebih tinggi, daripada sekedar menjadi anak perempuanmu. Aku begitu memahami tentang kegelisahanmu melihat anak perempuanmu begitu jarang pergi berdua dengan seorang pria, apalagi untuk hubungan yang disebut “pacaran”.

Advertisement

Jujur saja Bu, aku masih begitu takut membayangkan pernihakan, seperti pernikahan orang-orang disekitarku yang tak selalu berakhir bahagia. Beberapa sudah menikah dua kali dan ternyata juga berakhir dengan perpisahan. Aku takut perpisahan Bu, aku juga teramat takut jika harus berpisah rumah denganmu, meninggalkan mu untuk lelaki yang baru. Membayangkan apakah bisa aku diterima sebagai anggota baru dalam keluarga suamiku kelak, apakah aku akan disambut dengan baik, Bu?

Aku hanya butuh waktu untuk mempersiapkan diri menjadi seorang istri, calon ibu untuk anak-anakku dan sebagai menantu untuk Ibu Mertuakum nantinya. Sebab pernikahan bukan sekedar merayakan pesta setelah terucapnya Ijab Qobul, lebih dari itu pernikahan adalah menyatukan dua jiwa dalam satu tujuan, menyelaraskan pikiran yang berbeda untuk visi misi yang satu arah, menyingkirkan ego untuk saling meredupkan emosi saat pertengkaran yang pasti terjadi disuatu waktu.

Sudahlah, tidak perlu khawatir yang berlebihan Bu, engkau cukup mendo’akan ku saja. Sampai nanti waktunya tiba, aku juga akan menikah dengan pria yang baik nan penuh tanggung jawab. Seperti Ayah yang selalu bertanggung jawab dengan Ibu dan anak-anaknya dalam keadaan apapun.

Do'akan aku Bu