Jika orang-orang bertanya, siapa seseorang yang paling aku banggakan selama hidupku ini, maka jawabannya adalah Ayah.

Cerita ayah selalu menjadi santapan nikmat kala aku dan beliau duduk berdua di teras rumah.

Sore itu, aku dan Ayah sedang duduk berdua di teras rumah kami yang sangat sederhana. Kebiasaan kami setelah Ayah pulang kantor dan aku yang biasanya lepas beristirahat siang. Di atas meja sudah ada sepiring pisang goreng buatan Ibu dan secangkir kopi Ayah. Aku yang buat tentunya dan secangkir teh untukku. Selingan kala Ayah mulai bercerita. Entah cerita tentang apa saja yang dilakukannya hari ini, atau kisah bahagia dan pilunya terdahulu.

Hari ini kulihat wajah tampan Ayah tampak lelah. Mungkin karena berkutat dengan setumpuk pekerjaan atau duduk berjam-jam di depan komputer. Tapi bukan itu yang selalu Ayah keluhkan saat waktu kami. Ayah hanya tersenyum dan berkata: "Asal anak-anak Ayah bahagia, tidak ada satu hal pun yang Ayah perlu keluhkan)." Kalau saja Ayah tahu, bukan kerja keras agar bisa merasakan hidup mewah yang aku butuhkan, melainkan bersama Ayah sudah melebihi rasa bahagia.

Kata Ayah: "Jangan pernah menyerah pada masa sulit. Justru hidup akan dibentuk dari masa-masa itu. Kemudian hidup bahagia setelahnya adalah bentuk pembayarannya."

Aku ingat sekali cerita Ayah yang satu ini. Ketika beliau masih duduk di bangku sekolah dasar. Bukan hidup berkecukupan seperti saat ini yang Ayah dongengkan, melainkan kisah berjualan cabai demi mendapat uang saku 5 rupiah, menyeberangi sungai demi sampai ke sekolah, dan berjalan puluhan kilometer demi memperbaiki nasib di kota.

Advertisement

Ada setetes air mata yang segera kuusap agar tidak terlihat oleh Ayah ketika aku mendengarnya. Bayangkan saja, sekarang aku hanya perlu merengek demi mendapatkan bukan hanya sekedar 5 rupiah. Kendaraan yang akan mengantar-jemput ke mana pun aku ingin pergi, atau tiket transportasi yang tidak mengharuskanku berjalan kaki puluhan bahkan ratusan kilometer untuk menempuhnya.

Maka dari itu, apapun keinginanku selalu ingin Beliau penuhi. Bukan mendidikku jadi anak perempuannya yang manja, katanya. Ayah ingin aku merasakan hidup yang lebih baik, selagi Ayah masih mampu untuk memenuhinya.

Untuk semua hal yang Ayah sudah berikan, maaf kalau putrimu belum bisa membalasnya.

Langit senja berganti warna ketika Ayah menutup ceritanya. Sudah waktunya menemui Tuhan dalam bentuk sujud pada-Nya, lanjut Ayah. Aku malu mengetahui bahwa di umurku yang sudah kepala dua ini, aku belum bisa membalas apa yang telah Ayah berikan. Satu persen pun, aku belum. Yang aku tahu, aku masih menjadi anak perempuan kecil Ayah keinginannya harus dipenuhi. Walaupun sesekali Ayah marah, tapi tidak pernah dia tidak mengabulkan. Durhakakah aku, Yah?

Maka aku mencoba untuk kembali duduk setelah melakukan kewajibanku kepada Tuhan. Mengirim doa-doa ke langit. Agar Ayah senantiasa dipeluk-Nya, berada dalam lindungan-Nya, dan disiapkan sebuah tempat di surga terbaik-Nya. Untuk Ayahku, kuharap semesta juga turut mengaminkannya. Kuharap semuanya akan baik-baik saja, sampai nanti saatnya aku menepati janjiku pada Ayah. Membuatnya menjadi Ayah yang luar biasa karena bisa melihat kesuksesan putrinya.

Ayahku, izinkan aku mengucapkan sayang padamu, mengusap sayang rambut putihmu, dan membelai lembut keriput-keriput di dahimu.

Normalnya, aku akan mengucapkan sayang pada Ayah ketika satu permintaanku sudah terpenuhi. Tidak secara langsung, melainkan melalui pesan singkat yang kukirim atau yang kutulis di secarik kertas lalu meletakkannya di meja kerja. Terlalu canggung bagiku untuk sekedar mengatakan, aku menyayangimu. Ya, di hadapannya.

Aku terlalu percaya diri untuk mengatakan nanti dan nanti saja. Akankah Tuhan sebaik itu pada hambanya yang masih saja lalai sepertiku, untuk menuruti keinginanku? Agar Ayah bisa sehat selamanya, sampai nanti aku tidak canggung lagi mengatakan sayang di hadapannya. Untuk itu, kuputuskan untuk memulai menghapus satu-satunya kecanggunganku pada Ayah. Aku ingin mengatakannya, setiap hari, setiap waktu, bukan hanya ketika semuanya terpenuhi saja. "Aku mencintaimu, Ayahku…"

Dan, setelahnya akan kuusap keriput yang menghiasi wajah Ayah, menghilangkan lelah yang tercipta di sana. Mengusap sayang rambut-rambut putih, saksi hidup Ayah yang telah berjanji untuk selama hidupnya akan membuat putrinya bahagia.

Tuhan, jaga Ayah ya! Sayangi Ayah sampai nanti tiba waktunya.

Sehat selalu ya, Yah! Aku masih harus membenah diri menjadi sebaik-baiknya, bekerja keras seperti yang Ayah lakukan agar senyum bangga bisa menutupi guratan-guratan di sudut bibir Ayah. Ayah adalah seseorang yang harus menyaksikan aku berdiri di atas, kelak jika Tuhan mengizinkanku berhasil. Karena Ayah telah mengizinkanku melihat bukti kesuksesan Ayah.

Janjiku, Ayah. Seperti ilalang yang tidak pernah menyerah pada angin. Memilih kembali tegak walau angin menerpanya berkali-kali.

Putrimu,

yang sedang dalam usahanya membahagiakanmu.