Mungkin Tuhan sudah membuat takdir bahwa aku dan kamu akan berakhir seperti lagunya Tulus – Sepatu. Saling sadar ingin bersama tapi tak bisa apa-apa.

Kamu dan aku dulu dipertemukan bukan dari sebuah kesalahan, tapi dari sebuah kekaguman dari jauh. Singkatnya, 'katamu' dulu, kamu mengagumiku. Hingga pada akhirnya kamu mengirimkan sebuah surat yang isinya pun tidak kuketahui dengan jelas, sayang sekali bukan kamu sendiri yang mengantarnya. Kamu yang membuka percakapan awal, sampai percakapan pada malam-malam berikutnya. Kamu sosok yang kukenal lewat dunia maya dan nyata. Kamu yang sabar menghadapi segala macam kejutekanku.

Akhirnya aku bertemu kamu sore itu. Kamu terlihat begitu asing. Bahkan sampai seminggu berlalu pun aku tidak pernah bisa mengenali wajahmu. Sampai pada akhirnya kamu memutuskan untuk selalu mengantarkanku agar aku bisa mengenali wajahmu. Sungguh lucu ya kamu.

Sampai pada akhirnya kamu selalu ada dalam cerita harianku. Kamu selalu ada dalam ceritaku ke sahabat-sahabatku. Kita memang hanya kenal dalam beberapa waktu, tapi kamu bilang kamu lebih dulu mengenalku. Dan aku menurut saja. Dua kali kita habiskan waktu untuk saling bertatap muka dengan tujuan memulai sebuah ikatan 'pendekatan'. Dan entah mengapa perlahan aku sudah terbiasa dengan sosokmu. Rasaku perlahan mau menerima, dan rasanya sudah siap aku jatuh cinta lagi.

Tapi entahlah, sepertinya Tuhan setuju mengubah jalan cerita aku dan kamu. Beberapa hari aku menghilang dari kehidupanmu. Seperti katamu, 'aku memaksamu menjauh, padahal jelas hanya kamu yang aku mau' (Maudy, Sekali-Lagi). Tapi ketahuilah, bukan kehendakku seperti itu, aku hanya ingin mencoba menguji, seberapa betah kau menunggu kepastian dari aku.

Advertisement

Nyatanya, tiba-tiba saja instagrammu sudah dihiasi nama perempuan lain. Aku menghela nafas panjang. Dia siapa? Tiba-tiba saja masuk dalam ceritaku dan kamu. Atau aku saja yang tiba-tiba masuk dalam cerita kalian? Hahahaha. Seperti halnya perempuan lain, aku mencoba menerka hingga meminta penjelasan darimu.

Kamu bilang aku kurang peka, kamu bilang aku terlalu lama menyadari, dan hasilnya kamu lelah menungguku yang kamu bilang super sibuk. Hey! ketauhilah, kamu bilang kamu sabar menungguku, kamu bilang kamu memahami kesibukanku. Apa kabar kata-kata itu? Ini bahkan belum genap 3 bulan, sayang.

Sudahlah. Memang seperti itu takdir Tuhan. Aku bisa apalagi selain berdoa semoga rasa yang sempat tumbuh perlahan segera menghilang dan kamu mendapatkan yang lebih baik dari pada aku. Sudah tentu doaku untukmu tidak ikhlas, tapi ketahuilah, kamu masih sempat menjadi top search dalam otakku.

Ikhlas memang menjadi kata favorit dalam doaku, tapi entah kenapa kata itu sulit dilakukan. Ah sudahlah. Semoga kamu tidak salah memilih dia yang menurutmu lebih dari aku. Semoga kamu dan dia bahagia.

Sepertinya memang mengetahuimu adalah sebuah hadiah dari Tuhan untukku, dan menggenggam tanganmu adalah sebuah keajaiban yang belum (tidak) terwujud.

Dari perempuan yang sempat kamu nantikan pesannya.