ini bulan ramadhan keenam sejak pertama kali aku mengenalnya. aku ingat bagaimana percakapan pertama kita berdua di mulai.

"selamat berbuka :)"
"selamat berbuka juga :)"
"buka puasa pake apa?"
"pake opor ayam nih. klo elo?"
"ha? langsung makan nasi? gue baru kelar makan gorengan ahahaha"
"ahaha iya nih kalap"

percakapan itu kita mulai tepat di hari pertama buka puasa awal ramadhan 2010. sudah lama ya? terlalu lama? kemudian kita terlalu asik dengan obrolan-obrolan sederhana setiap harinya sampai sekarang aku merasa betapa candu berbincang dengannya. update-komen-update-komen. saking seringnya melakukan hal sederhana itu, kemudian beberapa teman pun mulai mencium bau tidak enak ada hubungan terselubung di antara kita berdua. teman sekolah semasa SMA yang aku kenal lewat social media. hubungan kakak-adik ketemu gede yang dia tawarkan yang langsung aku iyakan tanpa pikir panjang akan seperti apa nantinya. ternyata berujung jadi sangat menyedihkan.

sepertinya lelah menanyakan takdir Tuhan macam apa yang membuat aku begitu jatuh dengan kenyamanan yang tumbuh saat dengannya. ini tahun kedua aku berjuang sendiri untuk menutup rapat-rapat perasaanku yang hidup tanpa rumah. tanpa sengaja aku membiarkan perasaan ini tumbuh dan sekarang aku harus sekuat tenaga untuk mematikannya. karena ia tumbuh tanpa tujuan yang jelas.

aku tidak bisa menggapainya. sedikitpun tidak punya kesempatan untuk membiarkan perasaan ini singgah di rumah yang seharusnya ia hidup. aku hanya bisa terus menyelipkan namanya dalam setiap doaku. berharap dia bahagia dengan hidupnya, masa-masa kelulusan kuliahnya dimudahkan, rejekinya dilancarkan. rasa ingin berbagi hidup bersama, saling support, saling mendukung, saling menemani hanya bisa aku lakukan dengan doa. kalau ingin bertanya, kisah cinta dengan siapa yang begitu berkesan? aku jawab dia. sebelumnya aku hanya terlalu tertarik, ingin berbagi cerita, ingin saling menyemangati.

Advertisement

tetapi setelah Tuhan menakdirkan pertemuan kita, aku belajar banyak tentang cinta, tentang kesetiaan, tentang pengorbanan, tentang perjuangan, tentang kekuatan, tentang keikhlasan, tentang kekhawatiran, tentang manusia, tentang hidup. dari dia pun aku belajar untuk berserah. sebab sejak aku merasa harus sekuat mungkin mengosongkan hatiku dari sosok yang aku tahu betul sama sekali tidak bisa aku raih, aku berserah biar Tuhan yang mengisinya dengan orang yang tepat di waktu yang tepat.

aku tidak berani untuk jatuh cinta lagi. takut kembali merasakan hal yang sama. meski ketika aku mulai tertarik dengan seseorang, aku bersikeras melarang hatiku untuk jatuh padanya. aku takut jatuh pada orang yang tidak semestinya lagi. karena dari dia saja, aku membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menutup harapan. sampai detik ini pun aku masih membutuhkan waktu yang aku maksud. karena aku bukan tipe yang mudah jatuh cinta dan mudah melupakan.

aku pasrahkan pada Tuhan. kalau memang ada seseorang yang ditakdirkan untuk menjadi imamku kelak, Tuhan pasti memberikan jalan yang tidak terduga-duga. aku hanya ingin hubungan halal yang tidak memiliki masa kadaluarsa.

kembali aku katakan, mungkin Tuhan cemburu melihatku terlalu memperjuangkan seseorang yang bukan mahramku.

terima kasih untuk kamu yang mengajarkan banyak hal untukku selama ini. kalau gelang kulit dariku masih kamu simpan baik, mungkin kamu harus tau, pasangan gelang kulit itu aku kubur rapi di dalam plastik ditemani sebuah kertas bertuliskan "thankyou, brother" di samping gedung perkuliahanku dulu. entah bagaimana keadaannya sekarang. seringkali aku rindu dengan gelang kulit itu. tapi aku jauh lebih merindukan kisah kita berdua dulu.